Minggu, 22 Oktober 2017

Mendikbud: semangat kepahlawanan untuk melawan kebodohan

| 9.502 Views
Mendikbud: semangat kepahlawanan untuk melawan kebodohan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. (ANTARA /Puspa Perwitasari )
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan semangat kepahlawanan harus dikobarkan untuk melawan kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, dan keterbelakangan.

"Semangat kepahlawanan harus dikobarkan untuk berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, ketidak adilan dan keterbelakangan. Generasi muda harus lebih gigih lagi belajar, gotong royong dan bekerja keras untuk meraih kejayaan hari ini dan masa yang akan datang," ujar Muhadjir di Jakarta, Kamis.

Dia mengajak semua pihak bersyukur karena mengalami era yang sudah serba mudah seperti saat ini.

Dibanding dengan masa dimana para pendahulu memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan, generasi sekarang relatif tinggal menikmatinya saja. Namun demikian, karena tantangannya berbeda, tetap saja diperlukan usaha keras untuk memajukan bangsa.

Kemdikbud, kata Muhadjir, menghadapi tantangan besar terkait dengan mentalitas generasi muda. Di satu sisi prestasi-prestasi unggul telah diraih oleh para pelajar di berbagai bidang dan berbagai tingkat.

"Prestasi itu begitu membanggakan dan patut mendapatkan apresiasi tinggi. Namun di sisi lain masih banyak anak-anak bangsa yang tercecer di luar sekolah, di jalan-jalan, tidak terakses pendidikan dengan baik."

Selain itu, tidak sedikit pula anak-anak yang sekolah memiliki mental lemah, gampang menyerah, budaya instan, dan moral yang justru berbalik dengan tujuan pendidikan.

"Ini menjadi keprihatinan kita bersama. Semangat kepahlawanan adalah mengambil semangat api perjuangan untuk meraih harapan, bukan semangat abu dengan meratapi nasib," kata dia.

Untuk itu, pihaknya telah merancang dengan sungguh-sungguh pola pendidikan yang diharapkan dapat menjawab tantangan masa depan dan peluang bonus demografi.

"Tahun 2045, saat kita memperingati Hari Proklamasi ke-100, kita akan memetik hasil pendidikan saat ini dengan generasi yang tangguh dan pekerja keras, disiplin tinggi, relijius dan mencintai tanah air," tutur Muhadjir.

Untuk mengatasi kesenjangan aksen pendidikan, misalnya, Kemdikbud saat ini menggencarkan penyaluran Kartu Indonesia Pintar (KIP) agar lebih cepat dan efektif.

"KIP ini program Presiden Jokowi yang sangat bagus untuk mengatasi masalah kesenjangan pendidikan, jadi harus disukseskan. Tidak boleh ada anak Indonesia yang tidak terakses pendidikan," tegas Muhadjir.

Sementara itu untuk menyiapkan tenaga terampil sesuai dengan kebutuhan saat ini, Kemdikbud tengah melakukan revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terutama untuk jurusan-jurusan yang terkait dengan sumberdaya di Indonesia.

"Saat ini pemetaan dan penyiapan guru dengan keahlian ganda sudah dilakukan, disamping menggandeng dunia usaha dan dunia industri untuk memperkuat keahlian anak-anak kita," lanjut Mendikbud.

Dalam menyiapkan mental pelajar pada pendidikan dasar, Kemdikbud membuat Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Program ini dimulai dengan proyek percontohan pada 540 sekolah dan akan bertambah terus sampai tahun depan.

Dalam program ini jam murid di sekolah dan lingkungannya akan ditambah dengan kegiatan penanaman karakter. Demikian juga jam kerja guru diharapkan cukup terpenuhi di satu sekolah tanpa harus mencari-cari jam mengajar di sekolah lain. Kepala sekolah lebih difungsikan sebagai manajer yang bertugas mengelola potensi sekolah dan lingkungannya sebagai sumber belajar.

"Kami fokuskan pada penanaman karakter religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong dan integritas," ungkapnya.

Menurut Mendikbud, apa yang diprogramkan presiden Jokowi sangat relevan dengan semangat membangun bangsa saat ini sebagaimana pernah didengungkan Presiden Sukarno pada Hari Proklamasi tahun 1955. Waktu itu, Bung Karno menyatakan ada tiga fase revolusi bangsa; yakni taraf revolusi fisik dan taraf survival.

"Sedangkan taraf paling penting saat ini adalah taraf penanaman , yang meliputi penanaman kompeten , penanaman material dan penanaman mental," tukas dia.

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga