Pekanbaru (ANTARA News) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat satu titik panas terdeteksi oleh satelit berada di Pulau Sumatera.

"Baru sore ini terpantau satu hotspot (titik panas) di Sumatera setelah sepekan lebih nihil," kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Pekanbaru Slamet Riyadi di Pekanbaru, Rabu.

Satu titik panas itu terpantau oleh satelit milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) berada pada wilayah daratan, yakni di Sumatera Utara yang belum menimbulkan potensi terbakarnya, baik hutan maupun lahan, karena masih di bawah angka 70 persen.

Tercatat pada bulan ini, titik panas terjadi empat kali di Sumatera, Selasa (1/11), terdeteksi enam hotspot tersebar pada dua provinsi, yakni di Sumatera Utara empat titik dan Riau dua titik.

Pada hari Rabu (2/11), tujuh titik panas dengan wilayah penyebaran tiga provinsi seperti Sumatera Selatan tiga titik, Sumatera Barat dan Jambi sama-sama terpantau dua titik.

Pada hari Kamis (3/11), jumlah hotspot itu bertahan tujuh titik, termasuk jumlah sebaran provinsi, kemudian pada hari Senin (7/11) dua titik panas terdeteksi di Sumatera Selatan.

"Kalau di wilayah Riau, hotspot masih nihil. Bahkan, cenderung tidak muncul karena pengaruh fenomena El Nino," terang Slamet.

Sebelumnya, Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman mengatakan bahwa satuan tugas siaga darurat penanggulangan kebakaran hutan dan lahan akan segera dihentikan pada akhir November 2016.

"Kami pertimbangkan tidak diperpanjang setelah akhir November nanti," kata Arsyadjuliandi yang akrab disapa Andi Rachman.

Ia menyebut luas kebakaran hutan dan lahan di Riau telah mencapai 3.902 hektare sepanjang Januari hingga Oktober 2016.

Satgas Penegakan Hukum Kebakaran Hutan dan Lahan Riau telah tetapkan 95 orang tersangka dari 74 perkara, dua kasus di antaranya diduga dilakukan oleh korporasi.

Status Siaga Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Riau diberlakukan selama 6 bulan atau terhitung mulai 1 Juni sampai 30 November 2016.


Pewarta: Muhammad Said
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2016