Selasa, 28 Februari 2017

Mengenang Fidel Castro

| 17.822 Views
id jaya suprana, fidel castro
Mengenang Fidel Castro
Duta Besar RI untuk Kuba, Alfred Palembangan didampingi budayawan Jaya Suprana di balairung Plaza Revolucion, Havana, Kuba ketika mewakili bangsa Indonesia menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Fidel Castro. Upacara Penghormatan Terakhir bagi Fidel Castro diselenggarakan pada hari Senin, 28 November 2016 (Foto : hand out/A.S)
Saya kerap debat spekulatif dengan teman-teman pemerhati politik internasional bahwa sebenarnya Fidel Castro sudah meninggal dunia namun dirahasiakan kemeninggal-duniaannya dengan alasan politik tertentu bagi negara, bangsa dan rakyat Kuba.

Dengan bekal keyakinan seperti itu, saya terbang ke Havana Kuba dan tiba di bandara Havana pada tanggal 25 November 2016 sekitar pukul 20.30 waktu Kuba. Sebab terlalu letih akibat perjalanan jauh, saya langsung masuk hotel untuk segera tidur nyenyak tanpa sempat melihat berita di televisi hotel.

Baru keesokkan harinya saya memperoleh kiriman e-mail dari Sandyawan Sumardi dari Jakarta bahwa bertepatan pada malam hari ketibaan saya di Havana, terberitakan bahwa mantan Presiden Kuba, Fidel Catro, meninggal dunia di Havana, Kuba.

Pemimpin Kuba itu menghembuskan napas terakhir pada usia 90 tahun. Presiden Raul Castro, adinda Fidel Castro mengumumkan wafatnya ikon legendaris revolusi Kuba itu pada Jumat (25/11) pukul 22.29 malam waktu setempat seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (26/11/2016).

Rakyat Kuba belum lama berselang telah merayakan ulang tahun Castro yang ke-90 pada 13 Agustus 2016 yang lalu. Saat itu, ribuan warga turun ke jalan-jalan di ibukota Havana, sembari menari-nari mengikuti alunan musik berirama Latin. Meski Fidel Castro tidak tampak tampil ke khalayak ramai.

Fidel Castro merupakan seorang kepala negara dengan masa pemerintahan paling lama. Dilahirkan pada 13 Agustus 1926, Castro merupakan anak seorang petani gula imigran dari Spanyol.

Dia bergabung dengan Partai Rakyat Kuba tahun 1947. Dia kemudian merebut kekuasaan tahun 1959 dan mendirikan negara komunis dan merupakan penganut ideologi Marxisme.

Castro juga dikenal sebagai tokoh organisasi non blok dan tetap mempertahankan ideologi komunis sementara negara-negara penganut komunisme lain-lainnya --kecuali Korea Utara dan Republik Rakyat Cina telah runtuh--.

Bagi saya pribadi, Fidel Castro berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu memimpin negerinya meski diblokade oleh Amerika Serikat. Bagi Amerika Serikat, Kuba merupakan duri di dalam daging yang sangat mengganggu bahkan menjengkelkan.

Berbagai upaya dilakukan mulai dari sabotase sampai serangan langsung ke daratan Kuba yang dilakukan oleh Amerika Serikat terbukti tidak berhasil meruntuhkan kedaulatan negara, bangsa dan rakyat Kuba.

Bendera Kuba tetap jaya berkibar meski dirongrong habis-habisan oleh Amerika Serikat. Maka wafatnya Fidel Castro disambut dengan penuh rasa duka oleh rakyat Kuba.

Yang menarik adalah pada hari Sabtu 26 November 2016, bendera Kuba tampak dikibarkan setengah tiang di kantor-kantor kepemerintahan namun masyarakat Kuba tidak ikut mengibarkan bendera Kuba setengah tiang. Mungkin Fidel Castro sudah dianggap sebagai bagian melekat pada diri rakyat Kuba maka rakyat Kuba tidak perlu secara simbolis mengungkapkan rasa duka mereka.

Sementara warga Kuba di dalam negeri Kuba berkabung, ternyata warga Kuba yang mengungsi di perantauan terutama di kawasan Miami, Amerika Serikat, malah berpesta pora beriang-gembira menyambut kematian Fidel Castro.

Para pengungsi Kuba merasa sangat benci terhadap Fidel Castro yang mereka anggap sebagai sang biang keladi penyebab mereka terpaksa mengungsi meninggalkan Kuba sebagai Tanah Air mereka.

Kematian Fidel justru disambut positif sebab dianggap sebagai kesempatan untuk kembali ke Tanah Air mereka setelah sejak 1959 terpaksa mengungsi ke mancanegara.

Apalagi setelah Kuba dipimpin oleh adinda Fidel Castro, Raoul Castro, memang negara cerutu ini secara lambat namun pasti membuka pintu gerbang Kuba kepada Amerika Serikat sebagai bagian dari politik luar negeri Kuba mirip dengan politik pintu terbuka yang dilakukan Deng Xiao Ping terhadap Republik Rakyat Cina setelah Mao Tse Tung meninggal dunia.

Uluran tangan Kuba disambut baik oleh Amerika Serikat. Apalagi presiden terpilih Donald Trump dengan naluri bisnisnya pasti memandang Kuba pada hakikatnya sangat potensial untuk mengembangkan kepentingan bisnis Amerika Serikat.

Terlepas dari pro konta, suka tidak suka, benci tidak benci, tidak bisa diingkari bahwa Fidel Castro merupakan satu di antara segelintir tokoh negarawan kaliber legendaris dan ikonikal yang akan dikenang sepanjang masa peradaban umat manusia di planet bumi.

*) Penulis adalah seniman dan budayawan. Naskah ditulis di Havana, Kuba, 27 November 2016





Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga