Chicago (ANTARA News) - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange berakhir lebih rendah pada Senin (Selasa pagi WIB), karena berlanjutnya pembicaraan tentang kenaikan suku bunga menekan logam mulia.

Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Februari turun 1,3 dolar AS, atau 0,11 persen, menjadi menetap di 1.176,50 dolar AS per ounce.

Emas diletakkan di bawah tekanan lebih lanjut ketika Presiden Fed New York, William Dudley, mengatakan kepada khalayak Kota New York pada acara "Asosiasi untuk New York yang Lebih Baik" bahwa ia akan mendukung kenaikan bertahap (suku bunga) karena ia percaya Federal Reserve AS hampir mencapai kedua mandatnya, mengendalikan inflasi dan meningkatkan lapangan kerja.

Para investor percaya bahwa Fed akan menaikkan suku bunga dari 0,50 ke 0,75 selama pertemuan FOMC Desember.

Menurut alat Fedwatch CME Group, probabilitas tersirat saat ini untuk menaikkan suku bunga dari 0,50 menjadi setidaknya 0,75 adalah 93 persen pada pertemuan Desember dan 93 persen untuk pertemuan Februari.

Sebuah laporan yang dirilis oleh Institute for Supply Management (ISM) yang berbasis di AS menunjukkan indeks non-manufaktur penting meningkat ke level 57,2 selama Juli, angka yang lebih baik dari yang diharapkan dan di atas tingkat tertinggi dari kisaran konsensus.

Analis mencatat penguatan dalam pesanan baru dan pesanan ekspor, lebih lanjut meningkatkan kepercayaan investor, menempatkan tekanan pada logam mulia.

Para investor pekan ini sedang menunggu laporan perdagangan internasional pada Selasa, lowongan pekerjaan dan survei perputaran tenaga kerja pada Rabu (7/12), laporan klaim pengangguran mingguan pada Kamis (8/12), dan laporan sentimen konsumen pada Jumat (9/12).

Perak untuk pengiriman Maret bertambah 6,7 sen, atau 0,40 persen, menjadi ditutup pada 16,899 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari turun 5,9 dolar AS, atau 0,63 persen, menjadi ditutup pada 938,60 dolar AS per ounce. Demikian laporan Xinhua.

(UU.A026)

Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2016