Orang banyak lupa apa bedanya kritik dengan menghina, mana kritik mana menjelek-jelekan, mana kritik mana yang menghasut, mana kritik mana ujaran kebencian, dan tidak bisa membedakan mana kritik mana makar, padahal bedanya jelas sekali...."
Jakarta (ANTARA News) - Presiden RI Joko Widodo mengatakan saat ini ada orang lupa atau tidak bisa membedakan antara kritik dengan hasutan atau kritik dengan makar akibatnya menghabiskan energi untuk hal-hal tidak produktif.

Hal itu disampaikan Jokowi dalam pidato sambutannya di acara Munaslub Partai Hanura di DPP Partai Hanura di Cilangkap Jakarta Timur, Rabu malam.

"Orang banyak lupa apa bedanya kritik dengan menghina, mana kritik mana menjelek-jelekan, mana kritik mana yang menghasut, mana kritik mana ujaran kebencian, dan tidak bisa membedakan mana kritik mana makar, padahal bedanya jelas sekali. Jangan sampai energi habis untuk hal-hal tidak produktif," ujar Jokowi.

Jokowi menyampaikan Indonesia membutuhkan energi positif untuk mengatasi berbagai persoalan. Energi itu dapat diperoleh dari berbagai unsur, tak terkecuali Partai Hanura yang menurut dia telah berkembang menjadi partai ternama sejak pertama berdiri 10 tahun lalu.

"Saya berharap Hanura terus menjadi mitra strategis, konstruktif bagi pemerintah. Sebab bangsa Indonesia butuh energi termasuk dari Partai Hanura untuk mengatasi berbagai persoalan," ujar Jokowi.

Jokowi menekankan jika energi habis untuk hal-hal tidak produktif maka bangsa ini akan lupa membangun strategi besar pembangunan ke depan.

"Nanti lupa membangun strategi besar ekonomi kita, lupa bangun strategi industri kita, lupa siapkan strategi SDM kita, padahal 2030 kita akan dapat bonus demografi," kata Jokowi.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi secara resmi membuka Munaslub Hanura, sekaligus meresmikan keberadaan DPP Partai Hanura di Cilangkap dan perayaan 10 tahun Partai Hanura.

Menurut Jokowi, rakyat Indonesia telah menyaksikan Hanura bertumbuh dengan cepat dan menjadi salah satu partai ternama di Indonesia.

Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2016