Minggu, 24 September 2017

Meniti sejarah kuliner di "Jejak Rasa Nusantara"

| 66.754 Views
Meniti sejarah kuliner di
Buku "Jejak Rasa Nusantara : Sejarah Makanan Indonesia" karya Fadly Rahman terbitan PT Gramedia Pustaka Utama tahun 2016. (ANTARA News/ Arindra Meodia)
Jakarta (ANTARA News) - Travel blogger Trinity, yang sudah mengunjungi 80 negara, mengatakan bahwa tidak ada makanan yang lebih enak dari masakan Indonesia. Dan pendapat itu bisa jadi diamini oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Namun, sebagai warga Indonesia, pernahkah Anda bertanya-tanya mengenai cerita di balik terbentuknya citarasa masakan Indonesia saat ini?

Kalau iya, Fadly Rahman mengungkap jawabannya dalam buku "Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia", yang merupakan hasil penelitian untuk tesisnya di Program Studi Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada (UGM).

Saat peluncuran bukunya pekan lalu, Fadly mengatakan bahwa menelusuri sejarah makanan Indonesia adalah hal yang menantang, sebab budaya lisan lebih dominan di Indonesia, sehingga sejarah makanan pada masa lalu tidak dicatat secara rinci.

Catatan mengenai makanan Indonesia ada di berbagai naskah kuno, seperti tempe yang ada dalam naskah kuno Serat Centhini. Namun data itu tersebar di mana-mana.

"Ini adalah pengantar bagi siapa pun yang minat dengan sejarah kuliner," kata Fadly.

Buku setebal 395 halaman itu ditulis dengan gaya khas buku teks, lengkap dengan berbagai referensi dan catatan kaki yang banyaknya nyaris 100 halaman.

"Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia" mengungkapkan perkembangan makanan di Indonesia sejak masa kuno, ketika masyarakat masih membuat makanan dengan memanfaatkan apa yang ada di sekitar mereka.

Kehadiran para pedagang Tiongkok maupun India hingga masuknya Islam ke Tanah Air yang membawa bahan-bahan makanan baru, baik itu tanaman mau pun hewan, kemudian mempengaruhi masakan Indonesia.

India membawa bahan makanan seperti bawang, ketumbar, jintan hingga jahe yang kelak mendukung berkembangnya kari di Sumatra.

Sementara orang-orang Tionghoa mempengaruhi cara mengolah makanan, seperti menggoreng cepat menggunakan wajan.

Datangnya Islam turut mengubah wajah kuliner dengan pengaruhnya pada pola konsumsi daging. Dan saat Belanda datang, kuliner Indis alias Indische keukeun pun tercipta.

Buku ini juga mengungkapkan cikal bakal kuliner Indonesia yang tercitrakan dalam "Kokki Bitja", buku masak pertama yang terbit di Hindia Belanda pada 1857.

Lewat buku ini, penulis ingin mengajak pembaca melestarikan kekayaan sejarah, budaya, dan citarasa kuliner sebagai bagian dari identitas bangsa.

Buku ini bisa rujukan bagi mereka yang ingin mempelajari sejarah dan perkembangan makanan Indonesia,  orang yang benar-benar ingin mengetahui dan membutuhkan referensi mengenai sejarah kuliner Nusantara.

Namun pembaca awam yang sekedar suka kuliner dan ingin tahu sejarah masakan Indonesia, mungkin harus berjuang untuk membaca dan menikmati buku ini.

Informasi padat yang disampaikan menggunakan kalimat-kalimat yang serius membuat buku ini lebih terasa seperti buku teks atau hasil penelitian ilmiah yang "berat".

Kesan "berat" dan seriusnya makin bertambah dengan gambar-gambar grafik dan tabel, serta minimnya gambar dan foto warna-warni yang umumnya menghiasi buku-buku tentang memasak dan makanan.

Meski demikian gambar sampul muka buku resep masakan masa lalu seperti buku "Mustika Rasa" (1967), "Pandai Masak" (1967), Kokki Bitja (1859), dan Kookboek uit het Districtgewet Bedji serta foto demo masak di Bandung tahun 1937 dan resep rendang Ietje Go Pheek Thoo bisa menjadi hiburan menyenangkan bagi pembaca buku 396 halaman ini.


Editor: Maryati

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga