Selasa, 28 Februari 2017

Ekonom : dolar AS menguat jelang pidato Trump

| 3.822 Views
id dolar amerika serikat
Ekonom : dolar AS menguat jelang pidato Trump
Ilustrasi mata uang dolar Amerika Serikat. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jakarta (ANTARA News) - Nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap mata uang lain, termasuk rupiah, diperkirakan menguat sepanjang perdagangan Rabu ini, karena pelaku pasar sedang menunggu konferensi pers perdana Presiden Amerika Serikat terpilih Donald Trump.

"Pelaku pasar akan menanti pernyataan Trump pada Rabu malam ini tentang kebijakan ekonomi AS ke depan, termasuk sikap negara Paman Sam terhadap perdagangan global dan kemitraan dengan China, kata Ekonom OCBC Bank Wellian Wiranto melalui pesan elektronik diterima Antara di Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan dolar AS sedikit menguat terhadap mata uang lainnya, dengan adanya antisipasi pasar sebelum konferensi pers Trump malam ini.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada pembukaan pasar Rabu pagi melemah 32 poin menjadi Rp13.312, dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.280 per dolar AS.

Begitu juga pada kurs refrensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), yang menunjukkan rupiah melemah tipis menjadi Rp13.327 dari posisi Selasa di Rp13.320 per dolar AS.

Donald Trump, presiden terpilih dari Partai Republik dijadwalkan akan dilantik pada pekan depan, dan memberikan konferensi pers perdana Rabu malam waktu setempat.

Pelaku pasar menanti apakah Trump akan konsisten dengan janji-janji dalam kampanye, ketika konglomerat tersebut menawarkan kebijakan fiskal yang ekspansif sehingga akan mendorong banyak penerbitan obligasi, dan juga sikap perdagangan yang proteksionis dan konservatif.

Namun, menurut Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada, pelemahan rupiah pada Rabu ini relatif terbatas dimana faktor kenaikan cadangan devisa Indonesia masih menjadi sentimen positif bagi mata uang domestik.

Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa Indonesia akhir Desember 2016 tercatat sebesar 116,4 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir November 2016 yang sebesar 111,5 miliar dolar AS.

Reza menambahkan bahwa laju rupiah masih memiliki peluang untuk kembali melanjutkan penguatannya seiring dengan sejumlah harga komoditas yang berada dalam tren penguatan. Hal itu dapat memberikan kesempatan pada mata uang rupiah, yang berbasis komoditas, untuk kembali bergerak menguat.

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga