Kamis, 19 Januari 2017

Nutella bela industri minyak kelapa sawit pasca studi risiko kanker

| 3.645 Views
id nutella
Nutella bela industri minyak kelapa sawit pasca studi risiko kanker
Nutella dijual di Carrefour di Nice, Prancis (6/4/2016) (REUTERS/Eric Gaillard/File Photo)
Membuat Nutella tanpa minyak kelapa sawit akan menghasilkan produk pengganti yang lebih jelek dari yang asli, itu sebuah kemunduran."
Jakarta (ANTARA News) - Industri minyak kelapa sawit senilai 44 miliar dolar AS yang sedang ada di bawah tekanan di Eropa setelah otoritas memasukkan minyak makan itu ke dalam daftar risiko kanker, kini mendapat sekutu yang kuat: Nutella.

Perusahaan penganan Italia Ferrero telah membuat pernyataan publik dalam membela satu bahan makanan yang diboikot di sejumlah negara.

Ferrero sudah meluncurkan iklan kampanye guna meyakinkan publik soal keamanan mengkonsumsi Nutella, produk unggulannya yang merupakan seperlima dari penjualannya.

(Baca juga: Menteri Ekologi Prancis sebut Nutella berkontribusi rusak hutan)

Selai hazelnut dan cokelat, salah satu merk Italia yang paling terkenal dan menu sarapan favorit anak-anak itu bergantung pada minyak kelapa sawit untuk menghasilkan teksturnya yang lembut dan sebagai bahan pengawet.

Bahan pengganti untuk minyak kelapa sawit di antaranya adalah minyak bunga matahari, namun itu bisa mengubah karakternya, demikian menurut Ferrero.

"Membuat Nutella tanpa minyak kelapa sawit akan menghasilkan produk pengganti yang lebih jelek dari yang asli, itu sebuah kemunduran," kata manajer pembelian Ferrero Vincenzo Tapella pada Reuters.

Langkah apapun untuk mengganti minyak kelapa sawit juga akan berdampak secara ekonomis karena minyak kelapa sawit adalah minyak sayur yang paling murah, harganya sekitar 800 dolar AS per ton, dibanding dengan minyak bunga matahari seharga 845 dolar AS atau minyak canola seharga 920 dolar AS.

Otoritas Keamanan Makanan Eropa (EFSA) pada Mei menyatakan minyak kelapa sawit menghasilkan lebih banyak potensi kandungan karsinogenik dibanding minyak sayur lain saat diolah pada temperatur lebih dari 200 derajat Celcius.

Meski demikian, studi tersebut tidak merekomendasikan konsumen berhenti mengkonsumsinya dan studi lebih lanjut dibutuhkan untuk menilai derajat risikonya.

Temperatur tinggi diperlukan untuk menghilangkan warna merah alami dan menetralisasi bau minyak kelapa sawit, namun Ferrero mengatakan itu dilakukan dengan proses industri yang memadukan antara temperatur di bawah 200 derajat C dan tekanan sangat rendah untuk meminimalisir kandungan karsinogenik.

"Minyak kelapa sawit yang digunakan Ferrero aman karena dihasilkan dari buah yang baru saja dipetik dan diproses dalam temperatur yang terkontrol," kata Tapella di TV yang difilmkan di pabrik di Utara kota Alba.

Industri minyak kelapa sawit didominasi oleh produsen asal Malaysia dan Indonesia, mereka percaya Ferrero memainkan peranan penting dalam meluruskan kesalahpahaman yang berkembang di konsumen.

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar Pembaca
Baca Juga