Roma (ANTARA News) - Sebanyak 25.800 migran anak tanpa pendamping mencapai Italia tahun lalu, dua kali lipat dari jumlah 2015, kata Dana Anak PBB (UNICEF) pada Jumat (13/1).

Itu berarti 90 persen lebih dari 28.200 anak memasuki Italia melalui laut pada 2016, kata badan dunia tersebut di dalam satu pernyataan.

Namun, menurut Kementerian Dalam Negeri Italia, sebanyak 12.300 anak migran tanpa pendamping didaftar di negeri itu pada 2015, turun dari 13.026 yang tercatat pada tahun sebelumnya.

"Jumlah tersebut memperlihatkan peningkatan mengkhawatirkan arus anak yang sangat rentan, yang bertarung nyawa untuk sampai ke Eropa," kata Manager Senior UNICEF Lucio Melandri.

Kebanyakan anak yang bepergian sendirian ke Italia tahun lalu berasal dari Eritrea, Mesir, Gambia dan Nigeria. Kebanyakan dari mereka adalah anak lelaki yang berusia antara 15 dan 17 tahun, kata UNICEF, sebagaimana diberitakan Xinhua. 

Tapi makin banyak anak kecil dan anak perempuan yang turut melakukan perjalanan ke Italia.

Badan PBB tersebut menyeru seluruh pemerintah Eropa agar memberikan lebih banyak perlindungan buat anak-anak itu, terutama anak perempuan --yang diduga sangat terpajan pada risiko "eksploitasi seksual dan pelecehan, termasuk prostitusi, di tangan jaringan penjahat".

Beberapa anak perempuan migran yang berusia di bawah umur dan diwawancarai di Italia pada awal Januari 2017 mengatakan mereka telah dipaksa terlibat dalam prostitusi saat berada di Libya untuk membayar biaya penyeberangan yang berbahaya melintasi Laut Tengah kepada para penyelundup, kata UNICEF.

Badan PBB tersebut menggambarkan tingginya jumlah anak tanpa pendamping yang menyeberangi Laut Tengah dari pantai Afrika Utara ke Italia sebagai "tak pernah terjadi sebelumnya".

Sementara itu hanya 17 persen migran dan pengungsi anak tiba di Yunani melalui laut pada 2016 tanpa pendamping, demikian data UNICEF.

"Selain menangani faktor yang memaksa anak-anak ini meninggalkan rumah mereka, dan melakukan perjalanan sendirian, perlu untuk mengembangkan sistem perlindungan dan pemantauan yang menyeluruh untuk menjaga mereka," kata Melandri.

Berbagai langkah alternatif sampai penahanan mesti diterapkan buat migran dan pencari suaka di bawah umur, dan mereka semua mesti selalu diberi akses ke pendidikan, layanan kesehatan dan layanan dasar lain, kata UNICEF.

Data terkini memperlihatkan Italia masih berada di garis depan dalam krisis migran di Eropa pada 2016.

Menurut Kementerian Dalam Negeri Italia, lebih dari 180.000 pengungsi dan migran tiba di negeri tersebut pada tahun lalu, angka yang tinggi dibandingkan dengan 153.600 migran dan pengungsi yang dicatat pada 2015, dan 169.300 pada 2014.

(Uu.C003)

Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2017