Selasa, 23 Mei 2017

Hubungan Donald Trump dan China semakin panas

| 14.818 Views
Hubungan Donald Trump dan China semakin panas
Presiden terpilih Donald Trump (right) and Presiden China Xi Jinping. (Reuters)
Kebijakan Satu China adalah bukan hal untuk dirundingkan
Jakarta (ANTARA News) - China memperingatkan Amerika Serikat bahwa kebijakan Satu China adalah hal yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Pernyataan keras China ini disampaikan setelah Donald Trump menyatakan bahwa dia tidak bisa menganggap sepi prinsip-prinsip demokrasi yang lama dipraktikkan Taiwan dan juga hubungan erat AS-Taiwan selama ini.

"Kebijakan Satu China adalah bukan hal untuk dirundingkan," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lu Kang seperti dikutip AFP.

"Hanya ada satu China di dunia, Taiwan adalah wilayah China yang mengasingkan diri, dan pemerintah Republik Rakyat China adalah satu-satunya pemerintahan yang sah mewakili China," sambung dia.

Trump mengancam akan bersikap keras terhadap apa yang disebutnya praktik perdagangan tidak adil yang dijalankan China.  Dia juga menyatakan kebijakan Satu China bisa menjadi alat tawar menawar.

"Segalanya ada di bawah negosiasi, termasuk (kebijakan) Satu China," kata Trump kepada Wall Street Journal.

Trump sudah sejak awal telah membuat marah China ketika menerima panggilan telepon dari Presiden Taiwan Tsai Ing-Wen setelah menang Pemilu.

"Kami mendesak pihak-pihak terkait di Amerika Serikat untuk menyadari kesangatsensitifan masalah Taiwan dan menghormati komitmen yang telah dibuat pemerintah-pemerintah Amerika sebelumnya serta mencegah rusaknya perkembangan hubungan bilateral yang sehat dan stabil," sambung Lu Kang.

China pertama kali mengingatkan Trump mengenai masalah Satu China Desember tahun lalu setelah pengusaha miliarder itu pernah berkata bahwa dia tidak melihat alasan mengapa Washington mesti terikat kepada kebijakan Satu China "sampai kita membuat kesepakatan dengan China untuk melakukan hal-hal lain, termasuk dalam perdagangan".

China bahkan siap mengambil tindakan bermusuhan kepada AS jika Trump membuktikan ancamannya.

Sebaliknya Trump membela keputusannya menerima telepon Presiden Taiwan bulan lalu.

"Kami menjual perangkat militer senilai 2 miliar dolar AS kepada mereka (Taiwan) tahun lalu. Kami boleh menjual peralatan militer terbaru dan tercanggih senilai 2 miliar dolar AS kepada mereka, tapi kita tidak diperboleh menerima telepon mereka (Taiwan)," kata Trump seperti dikutip AFP.

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar Pembaca
Baca Juga