Minggu, 24 September 2017

"Dear Nathan" tertawan pada pesona "Bad Boy"

| 60.511 Views
Jakarta (ANTARA News) - Keisengan mengunggah coretan ringan di laptop ke wattpad tak dinyana mengubah hidup Erisca Febriani secara drastis.

Gadis kelahiran Bandar Lampung, 25 Maret 1998, yang hobi menulis itu segera menjadi idola anak muda berkat karya pertamanya dalam sebuah novel berjudul "Dear Nathan".

Novel yang berkisah tak jauh dari "melankoli" anak SMA itu pada unggahan pertamanya di wattpad telah dibaca lebih dari 15 juta kali.

Format bukunya yang diterbitkan oleh Best Media pada Maret 2016 pun langsung menempati posisi mega best seller di berbagai toko buku terkemuka di Tanah Air.

Tak tanggung-tanggung, novel Dear Nathan segera difilmkan kurang dari setahun setelah terbit.

Kisah gadis SMA bernama Salma Alvira yang baru saja pindah ke sebuah SMA favorit di Ibu Kota, yakni SMA Garuda menjadi plot cerita yang menarik saat dibumbui dengan kegalauan khas remaja.

Perkenalan Salma dengan Nathan sang "bad boy" di sekolah barunya itu kian kontras dan penuh warna ketika disemarakkan dengan kisah-kisah lucu hingga akhirnya pada rasa saling tertarik satu sama lain.

Boleh jadi setting cerita serupa tentang seorang gadis yang jatuh hati pada "bad boy" sudah sering diangkat ke permukaan, namun sepertinya orang tak pernah bosan untuk beranjak dari tema klise yang sederhana tersebut.

"Saya dibuat tersenyum sepanjang cerita dengan kekonyolan khas anak SMA. Ditambah gaya penuturan luwes seakan mengilas balik memori saya sewaktu duduk di bangku SMA. Good job, Ris!" ujar LM Cendana, Penulis Klandestin, dalam komentar khususnya terhadap buku tersebut.

Novel itu sendiri enak dibaca dan ringan seperti membaca buku harian anak SMA karena Erisca sang penulis mengakui betapa ketika menulis cerita Nathan persis seperti menulis diary.

"Menulis novel ini seperti menulis diary, diary yang nantinya akan dibaca semua orang," kata Erisca dalam buku tersebut di halaman 525.

Pesona Nathans

Dear Nathan untuk tak dibilang terlampau sederhana, mengawali kisahnya dari sebuah romansa remaja SMA. Singkat cerita Salma jatuh hati kepada Nathan.

Nathan diceritakan sebagai bad boy yang hanya populer karena kebadungannya, alih-alih rajin belajar, ia bahkan senang jika ada guru yang marah dan mengeluarkannya dari kelas.

Plot cerita Dear Nathan berkembang searah hubungan Salma dan Nathan. Sang gadis diceritakan pada awal mulanya menghindari Nathan karena takut pada reputasinya yang buruk di sekolah, yakni sebagai anak nakal.

Namun jauh di luar dugaannya, sikap Nathan kepadanya justru berbeda, Nathan yang badung itu justru bersikap lembut, menggoda, dan bahkan menyatakan langsung perasaannya:

"Kamu benci saya?"

Salma menatap heran kemudian tertawa renyah. "Jelas enggaklah. Emangnya kata siapa?"

"Bagus kalau gitu." Nathan memasukkan ponselnya ke dalam saku, tapi matanya tertuju pada seraut wajah cewek di depannya. "Saya cinta kamu," lanjut Nathan skakmat. (halaman 150).

Sayangnya, Erisca tampak tidak terlampau tertarik untuk mengajak pembacanya mengeksplorasi sosok fisik Nathan maupun Salma.

Erisca cenderung memilih mengarahkan pembaca untuk mengembangkan imajinasi mereka pada kenakalan Nathan dan sifat pemberontaknya lewat seragam yang berantakan, juga kebiasaannya merokok.

Selain itu, penjelasan tentang sosok Nathan secara tidak langsung menunjukkan karakter Salma yang sederhana, polos, dan mewakili pandangan umum.

Namun secara umum, Erisca lebih memberikan peluang kepada pembacanya untuk berimajinasi tentang seperti apakah sosok Salma, apakah ia cantik, berkulit putih, atau berambut panjang? Erisca lebih memilih untuk tidak mendeskripsikannya secara detail.

Setting yang diambil dari cerita itu adalah sekolah, khususnya SMA, menjadikan jalan cerita cukup dinamis dengan tokoh-tokoh lain yang muncul seperti Afifah, Orlin, hingga Ucup yang seluruhnya "tunduk" pada pesona Nathan.

Kekuataan Wattpad
Gaya dan bahasa novel Dear Nathan tidak muluk-muluk dan datar.

Namun kepiawaian Erisca mampu meramu dan memainkan kata-kata dengan detail yang baik sehingga menciptakan kisah-kisah dengan "nada" yang cenderung pop dan mudah untuk disukai.

Pesan-pesan moral di dalamnya tentang hidup, termasuk keluarga Nathan dan perasaan emosional Nathan, hingga meneteskan air mata ketika adiknya, Daniel kecil lahir menjadi muatan tersendiri.

"Novel ini pecah! Bukan hanya membuat pembaca suka dengan Nathan, tapi di cerita ini mengajarkan kita tentang arti persahabatan, kekompakan, pentingnya keluarga, dan belajar dari masa lalu," tulis seorang pembaca bernama Wulan di halaman belakang buku tersebut.

Namun gambaran SMA favorit yang dibawakan oleh Erisca kerap kali kabur dengan penggambaran kenakalan anak-anak SMA yang cenderung "keterlaluan" dan menjadi contoh yang tidak patut untuk ditiru oleh pembaca di bawah umur.

Dari mulai kebiasaan buruk Nathan yang merokok bahkan digambarkan keren dengan kenakalannya tersebut, bagaimana ia melawan senior ketika Masa Orientasi Siswa, lempar-melempar sepatu, melawan guru, hingga nyaris melempar kursi sangat jauh dari kesan SMA favorit.

Tetapi wajar jika kemudian novel tersebut begitu disukai di tengah semakin langkanya kisah-kisah melankoli bagi remaja.

Di luar semua itu, kekuatan wattpad dan media sosial lebih sering mencengangkan untuk mencetak dan melahirkan penulis-penulis muda berbakat sekelas Erisca Febrianti.

Catatan khusus bagi editor yang menangani novel tersebut, yakni penggunaan kata baku dan huruf kapital, yang kerap kali lolos dari pengamatan.

Memang bukan tabu untuk menggunakan kalimat "slang" yang populer, tetapi penggunaan yang terlampau sering dan berlebihan bisa saja berpotensi mengurangi atensi terhadap penggunaan kata baku yang benar.

Di luar itu semua, novel setebal 528 halaman ini seperti inspirasi tersendiri sebab tidak banyak remaja yang baru berumur 19 tahun mampu menciptakan sesuatu yang besar termasuk novel mega best seller.

"Dear Nathan itu keren. Benar-benar khusus buat anak-anak muda di masa sekarang. Pokoknya rekomendasi banget! Semua anak muda harus baca cerita ini." Tulis Poppi Pertiwi, penulis Harmony, tentang buku itu.

Sebuah apresiasi untuk Erisca Febriani!

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga