Rabu, 29 Maret 2017

Mengganti api dengan 13 "pasukan" mikroba

| 5.640 Views
id restorasi gambut, gambut
Mengganti api dengan 13
Petani menyiapkan bibit padi yang akan ditanam di lahan gambut dangkal Desa Pantik, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Rabu (1/2). Petani Desa Pantik mulai mencoba dekomposer dari mikroba untuk menyiapkan lahan tanam tanpa membakar guna mencegah kebakaran hutan dan lahan. (ANTARA News / Virna Puspa Setyorini)
Camat Sebangau Kuala Herman Wibowo baru saja tiba ketika perahu fiber tim Badan Restorasi Gambut (BRG) bersandar di dermaga trestle kayu kecil milik PT Sinar Pangan Indonesia (SPI) di Desa Pantik, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Rabu (1/2).

Roda sepeda motor bebek yang dikendarai dari rumahnya di Sebangau Kuala melalui jalur darat menuju Desa Pantik terlihat tebal diselimuti lumpur.

Ia rela menerjang jalan berlumpur yang kondisinya semakin parah karena diguyur hujan sejak pagi begitu mendengar kabar Kepala BRG Nazir Foead akan mendatangi kembali persawahan tanpa bakar yang sedang dikembangkan petani Desa Pantik dan SPI. Harapannya bisa mendapat informasi lengkap dan dukungan untuk melakukan pertanian tanpa bakar di desanya.

Keluarnya kebijakan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan, menurut Herman, membuat warga di daerahnya yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan nelayan darat kebingungan mencari cara menanam padi tanpa harus melibatkan api.

"2015 (lahan sawah ikut) terbakar, 2016 kami panen besar. Nah di 2017 ini kami belum tahu akan seperti apa, karena tidak boleh (menggunakan cara) bakar lagi warga bingung, semoga ini bisa jadi solusinya," kata pria asal Yogyakarta yang memimpin 5000 kepala keluarga (KK) ekstransmigran di lima desa di Kecamatan Sebangau Kuala ini.

Pelaksanaan kebijakan PLTB tampaknya memang dikawal ketat di Pulang Pisau. Ketua Kelompok Tani Sumber Makmur dari Desa Pantik Wagiman pun merasakan betapa pihak aparat begitu galak mengawasi masyarakat, bahkan kepada mereka yang hanya membakar sampah di sekitar rumah.

Jika mendengarkan cerita Yati (43), seorang ibu yang juga ikut turun ke sawah di Desa Pantik mengatakan bahwa penggunaan teknik bakar memang sudah lama digunakan petani di daerah sana, maka tidak heran jika kini pengawasan terhadap kemungkinan munculnya api begitu ketat di sana. Semua dilakukan untuk mencegah terjadinya kembali bencana asap dari kebakaran hutan dan lahan yang sudah puluhan tahun terjadi di Indonesia.

Dalam kuliah umumnya di Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, Kamis (2/2), Kepala BRG berbagi pengalaman dari tiga tahun hidup bersama masyarakat Dayak Kenyah di Kayan Mentarang yang kini berada di Provinsi Kalimantan Utara. Masyarakat di sana terbiasa memakai api dalam mempersiapkan lahan untuk bercocok tanam.

Ratusan tahun mereka menggunakan teknik berladang yang menurut Nazir, merupakan teknologi canggih karena terbukti tidak membawa kesengsaraan bagi pihak lain. Perencanaan dalam rapat bersama dilakukan begitu detil, memperhitungkan arah dan kekuatan angin, merencanakan sekat bakar, bagaimana api akan dikontrol secara sistematis sehingga pekerjaan dapat selesai dalam satu hari dan dipastikan tidak menjalar.

Masyarakat Pulau Padang di Riau yang seluruh lahannya berupa gambut sudah lama menanam karet, sagu, nanas, dan mereka juga menggunakan teknik bakar dengan target setengah hari selesai, dan api tidak menjalar, lanjutnya.

Persoalannya dulu hanya sepetak saja gambut yang mereka olah sehingga gambut sekitarnya tetap basah dan tidak menimbulkan masalah. Tapi sekarang, Nazir mengatakan jadi masalah karena gambut di sekeliling mereka sudah dikeringkan perusahaan sehingga menjadi sangat mudah terbakar.

"Praktik kearifan lokal yang berlaku dan tidak menyebabkan kesengsaraan bagi orang lain harus dihormati bersama. Tapi kita juga sadar ekosistem sudah berubah, alam berubah," ujar Nazir.

Memanfaatkan kekuatan hayati
Miskin hara, asam dan kurang subur. Karenanya tidak mudah dan murah untuk membuat sebuah area di lahan gambut menjadi produktif.

Pada lahan tidur yang sudah tidak tergarap bertahun-tahun yang bahkan sudah mencapai 20 tahun seperti di Desa Pantik, Kabupaten Pulang Pisau, persoalan hama dan penyakit serta tikus yang bisa hidup di sisa-sisa potongan pohon dan sersah yang biasa disebut simpukan jadi tambahan persoalan.

Biaya untuk menetralkan tingkat keasaman tanah gambut dengan memberikan kalsium dari kapur, pupuk dan pembasmi hama bisa mencapai Rp24 juta per hektare (ha). Angka itu seperti langit dan bumi jika harus dibandingkan dengan cara dibakar yang hanya membutuhkan dana Rp2 juta per ha namun sudah bisa melenyapkan hama, sekaligus memberikan magnesium, kalsium dan kalium dari abu sisa pembakaran.

Guna menggantikan teknik bakar, PT SPI bersama petani sedang mencoba dekomposer dari mikroba yang dikembangkan PT Indo Acidatama Tbk. Dan, menurut Yati, saat tim BRG berkunjung untuk kedua kalinya padi yang ditanam di atas lahan gambut yang telah diolah dengan dekomposer dari mikroba pengurai tersebut baru berusia 10 hari.

"Kalau dilihat sih padinya keliatan cepat hijau, beda kalau dengan cara yang lama. Hasilnya seperti apa ya nanti kita lihat, kan baru ditanam, belum panen," lanjut Yati.

Insinyur pupuk PT Indo Acidatama Tbk Supriyanto mengatakan aplikasi dekomposer dengan mikroba ini cukup sederhana. Hanya dengan mencampurkan 10 cc per liter cairan ini ke dalam air dan langsung bisa disemprotkan ke lahan yang akan dikomposkan.

Untuk lahan sawah gambut seluas satu hektare (ha) ia mencoba menggunakan dua hingga empat liter campuran dekomposer dengan air tadi, dalam waktu 15 hingga 21 hari lahan gambut tersebut sudah siap tanam tanpa harus dibakar.

"Tapi komposisinya bisa juga berubah tergantung dengan kondisi lahan dan bahan yang mau didekomposisikan. Kalau kandungan purun tebal, daun lebih banyak, ilalang banyak larutan campuran dekomposer tadi bisa lebih banyak yang harus dipakai," lanjut Supriyanto.

Ketua Kelompok Tani Sumber Makmur dari Desa Pantik Wagiman mengatakan penyiapan lahan sawah dengan dekomposer bernama BeKa ini memang membutuhkan lebih banyak tenaga, apalagi jika purun, daun, batang di sana lebih banyak.

Kabar baiknya, panen padi diperkirakan jadi dua kali dalam setahun, tidak seperti sebelumnya hanya satu kali setahun. Dan dengan memanfaatkan dekomposer hayati ini sekali panen diperkirakan bisa mencapai enam ton per ha.

"Cara alternatif ini ternyata bisa untuk sawah tanpa harus membakar. Terbukti tadi PH tanah naik, pirit turun, pupuk tidak perlu banyak karena sudah ada dari proses dekomposisi," ujar Nazir.

Sebenarnya, menurut dia, cara pengembangan sawah tanpa bakar ini sudah diterapkan juga di Kalimantan Selatan, dan jika yang ini berhasil akan terus dikembangkan di Kalimantan Tengah dan juga di Sumatera Selatan, Riau dan Jambi. "Mereka sangat ingin mengetahui cara alternatif membuka lahan yang relatif tidak mahal tanpa membakar".

Untuk lahan yang sudah lama tidur dengan tegakan dan tutupan yang cukup tebal memang akan lebih sulit pada awal menyiapkan lahannya. Namun untuk lahan yang memang sudah dimanfaatkan sebelumnya, tidak perlu banyak membersihkan simpuhan, maka pembiayaan dan pengerjaannya akan lebih murah hanya butuh dekomposisi seharga sekitar Rp200 ribu untuk penyiapan lahan gambut seluas satu hektare.




Kerja "pasukan" mikroba
Isolasi 13 jenis mikroba lokal, terdiri atas lima jamur dan delapan bakteri, hingga akhirnya bisa dijadikan dekomposer yang diberi nama BeKa ini, menurut Supriyanto, dilakukan dalam waktu 10 tahun. Uji coba juga telah dilakukan di berbagai jenis lahan hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Ia menyebut bakteri fiksasi, bakteri pelarut fosfat, bakteri pengikat K bekerja saling membantu antara melakukan dekomposisi dan menyediakan makanan atau nutrisi untuk lahan gambut yang diolah dan hendak ditanami.

Jika meminjam istilah peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI Sarjiya Antonius yang juga mengembangkan pupuk organik hayati (POH) sejak 2008 dari 10 mikroba lokal yang diperoleh dari hasil ekplorasi ke berbagai pelosok Nusantara, termasuk Malinau, tidak mudah menggabungkan mikroba dalam jumlah banyak yang tidak saling menyerang.

Sejak awal proses seleksi ketat terhadap mikroba yang kemungkinan tidak saling menyerang dilakukan. "Kita bangunkan tentara-tentara mikroba yang menjadi agen hayati yang akan bekerja 24 jam menyuburkan tanah tanpa pernah tidur," ujar peneliti yang mempelajari pengembangan pupuk hayati selama tujuh tahun di Jerman ini.

Sarjiya yang akrab disapa Anton ini sebelumnya menjelaskan bahwa mikroba unggulan yang telah melalui tahap isolasi dan seleksi di laboratorium menghasilkan isolat unggulan akan melakukan aktivitas biokatalis, berperan menambat N (nitrogen), melarutkan P (fosfor), K (kalium), menghasilkan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT), asam-asam organik, biopestisida. Hasilnya tidak hanya sekedar mengembalikan unsur hara tanah tetapi juga menambah daya tahan tumbuhan dari serangan penyakit.

Nazir dihadapan petani dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya yang ikut melihat penerapan dekomposer hayati ini di persawahan lahan gambut di Desa Pantik mengatakan jika memang hasil panen dengan menggunakan cara ini bagus tentu akan menjadi terobosan bagi petani di lahan gambut ke depan.


Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga