Kamis, 21 September 2017

Maksi dorong peningkatan promosi sawit ramah lingkungan

| 2.878 Views
Maksi dorong peningkatan promosi sawit ramah lingkungan
ilustrasi: Harga Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Naik Petani menumpukkan tandan buah segar kelapa sawit, di perkebunan sawit rakyat kawasan Desa Drien Leukiet, Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh, Senin, (3/10/2016). (ANTARA FOTO/ Suprian) ()
Jakarta (ANTARA News) - Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (Maksi) mendorong pemerintah dan masyarakat agar meningkatkan promosi positif terhadap minyak sawit.

Ketua Umum Maksi Darmono Taniwiryono di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa sumbangan ekspor minyak sawit mentah (CPO) terhadap devisa negara mencapai rata-rata lebih dari 15 miliar dolar AS setiap tahun.

Namun, lanjut dia, banyak pihak yang tidak mengenal produk sawit tetapi berbicara negatif tentang sawit. Akibatnya, opini negatif komoditas itu telah merasuk di pemikiran generasi muda Indonesia sejak dari rumah hingga pendidikan.

Masyarakat global, kata Darmono, selalu mendiskreditkan produksi minyak kelapa sawit sebagai produk yang tidak ramah lingkungan.

"Tudingan kalau sawit sebagai penyebab kebakaran hutan, sawit tidak sehat, sawit rakus air, dan lain sebagainya merupakan salah satu contohnya," katanya.

Menutut dia, semua isu itu tidaklah benar. Sebaliknya, kebakaran yang terjadi di perkebunan kelapa sawit pada tahun 2015 hanya sekitar 7 persen sampai dengan 14 persen dari total kejadian kebakaran lahan di Indonesia.

Dari segi gizi, menurut dia, minyak sawit tidak ada yang menandingi. Minyak sawit, khususnya minyak sawit merah dara (virgin red palm oil), mengandung pro-Vitamin A 800 s.d. 1000 ppm dan Vitamin E 400 ppm yang merupakan anti oksidan kuat yang bermanfaat bagi kesehatan.

Darmono menegaskan bahwa kampanye negatif terhadap sawit Indonesia tak terlepas dari persaingan bisnis dengan minyak nabati lainnya yang mulai tersingkir dengan adanya produk CPO dan turunannya dengan volume dan harga yang lebih kompetitif.

Oleh karena itu, Maksi mengajak masyarakat supaya bangga menjadikan sawit sebagai produk unggul Indonesia.

Pada rangkaian APEC First Senior Officials Meeting (SOM1), 22 s.d. 23 Februari 2017, sawit ditetapkan sebagai "development products", yaitu produk yang berkontribusi terhadap keberlanjutan dan pertumbuhan melalui pembangunan perdesaan dan pengentasan masyarakat dari kemiskinan.

Darmono menjelaskan bahwa FGD Strategi Pengembangan Ekspor dan Rantai Nilai Sustainable Palm Oil Indonesia dan Field Trip Perkebunan Sawit yang diselenggarakan di Pekanbaru Riau beberapa waktu lalu.

Hal itu merupakan wadah yang penting bagi para perwakilan perdagangan di luar negeri untuk mengetahui dan mengenal sawit lebih dalam sehingga secara konfiden dapat meyakinkan para calon konsumen CPO dan PKO serta berbagai produk turunannya di luar negeri.

"Para atase perdagangan dan direktur ITPC merupakan garda depan untuk menyampaikan mana yang mitos dan mana yang fakta dalam menangkis isu-isu negatif yang sengaja dibangun oleh kompetitor minyak nabati dunia, yaitu minyak kedelai, rapeseed, dan jagung," ujarnya.

Darmono menambahkan bahwa berdasarkan data Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI), produktivitas biodiesel per satuan luas perkebunan kelapa sawit 10 kali lebih produktif daripada kedelai.

Dengan demikian, nilai pengurangan emisi oleh sawit jauh lebih besar dari tanaman kedelai, apalagi seluruh biomasa sawit (cangkang, sabut, tandan kosong, batang, dan pelepah sawit) dikonversi menjadi energi.

Menurut dia, di Indonesia saat ini masih tersedia sekitar 24 juta hektare lahan kritis. Seharusnya itu bisa untuk pengembangan sawit.

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga