Minggu, 22 Oktober 2017

Pemerintah introspeksi dari peristiwa MV Caledonia Sky

| 2.738 Views
Pemerintah introspeksi dari peristiwa MV Caledonia Sky
Dokumentasi bongkahan koloni karang yang rusak disebabkan MV Caledonian Sky berbendera Bahama, kandas di perairan Raja Ampat, Papua Barat, Sabtu (4/3/2017). Tim Peneliti Sumber Daya Laut Universitas Papua, Conservation International, The Nature Conservancy, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat mendata kerusakan terumbu karang diperkirakan seluas 13.533 meter persegi dan memusnahkan setidaknya delapan genus terumbu karang berusia ratusan tahun. (ANTARA FOTO/HO/Pemda Kabupaten Raja Ampat ()
... juga harus instrospeksi kenapa kapal itu bisa lepas. Jadi pemerintah akan memperkuat peraturan...
Surabaya (ANTARA News) - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Panjaitan, mengatakan, pemerintah akan mengintrospeksi sebab-musabab kapal pesiar MC Caledonia Sky bisa lepas dari perairan nasional. MV Caledonia Sky kandas, dan merusak belasan ribuan meter persegi terumbu karang di Raja Ampat, Papua. 

Diperkirakan diperlukan waktu 200 tahun untuk mengembalikan terumbu karang dan kekayaan hayati setempat ke kondisi semula. 

Panjaitan juga menyatakan, tim investigasi terpadu pemerintah dan beberapa pihak masih menyelidiki kerusakan terumbu karang di Raja Ampat.

"Saya menerima laporan per jam 12 siang tadi, tim investigasi terpadu masih bekerja menyelidiki kerusakan, ditambah tim asuransi yang juga turut hadir mengambil data di lapangan. Kami masih menunggu beberapa hari ke depan hasilnya," kata dia, di Surabaya, Senin.

Pemerintah, katanya, akan secara tegas mengambil langkah hukum apabila kapal pesiar tersebut dinyatakan bersalah. Dia juga telah memanggil Duta Besar Inggris, Moazzam Malik, atas perusakan kekayaan hayati nasional itu. 

"Soal kerugian, kami belum hitung. Tapi juga harus instrospeksi kenapa kapal itu bisa lepas. Jadi pemerintah akan memperkuat peraturan karena (Raja Ampat) adalah daerah tujuan wisata yang terumbu karangnya jenis langka di dunia," katanya.

MV Caledonian Sky yang dinakhodai Kapten Keith Michael Taylor, kandas pada 4 Maret 2017. Setelah kandas, dia meminta bantuan kapal yang ada di dekat perairan itu untuk menyeret dia keluar dari perairan yang menjadi dangkal itu. Gesekan-gesekan tubuh kapal dengan terumbu karang itulah yang sangat merusak lingkungan. 

Taylor tidak menunggu pasang laut naik agar kapalnya terangkat sehingga dia bisa berlalu. 

Perairan di Raja Ampat yang dia rusak berada di zona inti Taman Nasional Raja Ampat, di mana diperlukan ijin khusus dari pemegang otoritas pelestarian alam setempat untuk bisa masuk ke wilayah itu. Hanya kapal motor ringan dengan keperluan tertentu saja yang boleh masuk ke perairan itu. 

Kronologinya, kapal yang membawa 102 turis dan 79 anak buah kapal memasuki kawasan Raja Ampat pada 3 Maret 2017 untuk menikmati alam dan kekayaan hayati bawah laut serta menikmati pementasan seni.

Namun setelah para penumpang kembali ke kapal pada siang hari dan akan melanjutkan pelayaran ke Bitung sebelum tujuan akhir ke Filipina, kapal itu kandas di atas sekumpulan terumbu karang di Raja Ampat pada pukul 12.41 WIT.

Berdasarkan catatan resmi pemerintah, Taylor hanya merujuk pada petunjuk GPS dan radar tanpa mempertimbangkan faktor gelombang alam dan kondisi alam lain. Di dunia pelayaran sipil dan militer, buku daftar pasang-surut perairan terbaru menjadi satu perlengkapan wajib yang harus ada di anjungan kapal.

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga