Jumat, 22 September 2017

Satu Kartini Kendeng berpulang di tengah perjuangan

| 3.955 Views
Satu Kartini Kendeng berpulang di tengah perjuangan
Mendiang Patmi (berkebaya hitam), petani asal Pegunungan Kendeng saat menggelar aksi memasung kaki dengan semen di depan Istana Negara, Jumat (17/3). Patmi meninggal di Jakarta di tengah perjuangannya menolak keberadaan pabrik Semen Indonesia, Selasa (21/3) dini hari. (ANTARA News/Monalisa)
Jakarta (ANTARA News) - Salah seorang Kartini Kendeng, Patmi (48), pada Selasa dini hari meninggal dunia di tengah perjuangannya dalam aksi kolektif menolak rencana pendirian dan pengoperasian pabrik semen milik PT Semen Indonesia di Rembang dan semen lainnya di kawasan Pegunungan Kendeng.

Aksi tersebut berlangsung sejak Senin 13 Maret 2017 dengan sejumlah peserta aksi mengecor kakinya dengan semen, memprotes sikap Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam menanggapi penolakan warga terhadap semen di kawasan Pegunungan Kendeng, demikian keterangan pers yang disebarkan Koalisi Untuk Kendeng Lestari, Selasa.

Mendiang Patmi tiba menyusul pada Kamis 16 Maret 2017 bersama kakak dan adiknya serta sekitar 55 warga dari Kabupaten Pati dan Rembang seizin suaminya. Ia termasuk salah satu dari peserta aksi yang mengecor kakinya dengan tanggung jawab penuh.

Selama mengecor kakinya dengan semen, Patmi dan peserta aksi lainnya harus beraktivitas dengan kaki terpasung.

Sejak awal aksi yang disebarkan di media sosial dengan tagar #DipasungSemen2 itu didampingi oleh tim dokter dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang bersiaga di lokasi aksi, di depan Istana Kepresidenan.

Pada Senin (20/3), sejumlah perwakilan warga peserta aksi akhirnya diundang Kepala Kantor Staf Presiden, Teten Masduki, untuk berdialog dengan pokok menolak skema penyelesaian konflik yang hendak digantungkan pada penerbitan hasil laporan KLHS yang tertutup dan tidak menyertakan warga yang menolak pabrik PT Semen Indonesia serta pabrik semen lain di sekitar Pegunungan Kendeng tersebut.

Lantas pada Senin (20/3) malam Koalisi Untuk Kendeng Lestari memutuskan melanjutkan aksi namun mengubah caranya, dengan hanya menyisakan sembilan orang namun sebagian besar warga akan pulang ke kampung halaman, termasuk mendiang Patmi.

Seluruh warga yang akan persiapan pulang, dilepas cor kakinya pada Senin (20/3).

Mendiang Patmi sebelumnya dinyatakan sehat dan dalam keadaan baik oleh dokter, namun sekira pukul 02.30 WIB Selasa, selepas mandi mendiang mengeluh badannya tidak nyaman dan mengalami kejang-kejang serta muntah.

Dokter siaga di YLBHI segera membawa mendiang Patmi ke RS St. Carolus Salemba, namun mendiang meninggal dunia dalam perjalanan dan pihak RS St. Carolus Salemba menyatakan Patmi meninggal mendadak sekira pukul 2.55 WIB dengan dugaan serangan jantung.

Jenazah mendiang Patmi telah dibawa pulang ke Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Pati, pagi ini, untuk dimakamkan di desanya, sementara "dulur-dulur" Kendeng juga akan bertolak pulang menuju kampung halaman masing-masing.

"Kematian Bu Patmi menjadi saksi bagi seluruh dunia, bahwa warga masyarakat Indonesia masih harus menyatakan sikapnya sendiri karena tidak adanya pembelaan sama sekali dari pengurus kantor-kantor pemerintah yangs eharusnya mengurus nasib warga negara," kata pengacara publik dari YLBHI Muhammad Isnur.

Baca juga: (Aksi protes semen kaki petani Kendeng (video))
VIDEO:

Editor: Monalisa

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar Pembaca
Baca Juga