Semarang (ANTARA News) - Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) Jakarta mengajak mahasiswa untuk peduli terhadap kasus kekerasan yang kerap menjadikan kaum perempuan sebagai korban.

Ajakan itu terangkum dalam acara Nonton Bareng Film Dokumenter "Brave Miss World" dan diskusi yang berlangsung di American Corner Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang, Selasa.

Film dokumenter yang diproduseri Cecilia Peck itu menceritakan tentang perjuangan penyintas kekerasan seksual, Linor Abargil asal Israel yang pernah memenangi ajang Miss World pada 1998.

Hanya tujuh minggu sebelum dikirim untuk berkompetisi pada ajang Miss World 1998 dan akhirnya dimenanginya, Linor yang mewakili Israel diculik, ditusuk, dan diperkosa.

Setelah dinobatkan sebagai Miss World, Linor memutuskan membuka suara tentang kekerasan seksual yang dialaminya dan memberi bantuan, serta dukungan kepada orang-orang yang mengalami nasib serupa.

Menurut Information Assistant, Public Affairs Section, Kedubes AS, Kresna S. Soegio, acara nonton bareng ini digagas oleh #IAMBRAVE Indonesia, alumni pertukaran jurnalis yang disponsori Kedubes AS.

"Program #IAMBRAVE Indonesia merupakan salah satu pemenang US Embbassy Jakarta Small Grant Competition tahun lalu yang dibuka bagi alumni program pertukaran Kedubes AS," katanya.

Ada empat alumni yang tergabung dalam #IAMBRAVE, dan dua di antaranya hadir pada diskusi tersebut, yakni Monique Rijkers dan Fitriah "Riri" Artakusuma yang merupakan jurnalis senior.

"#IAMBRAVE hanya salah satu project, masih ada project dengan nama lain. Namun, semuanya digarap oleh para jurnalis Indonesia yang pernah ikut program pertukaran Kedubes AS," katanya.

Kebetulan, kata dia, #IAMBRAVE mengangkat film dokumenter "Brave Miss World" untuk disosialisasikan kepada mahasiswa, termasuk mengenai peran media dalam melawan kekerasan terhadap perempuan.

Pertama kali, kata dia, acara nobar dan diskusi digelar di @america, pusat kebudayaan AS di Jakarta, kemudian UIN Syarif Hidayatullah, disusul di Yogyakarta, dan terakhir di UIN Walisongo Semarang.

Sementara itu, Cultural Attache Kedubes AS Karen Schinnerer mengatakan kegiatan itu untuk memperingati Hari Perempuan Internasional, sekaligus meningkatkan hubungan baik antara Pemerintah Indonesia dan AS.

"Ini merupakan dukungan kami atas relationship Pemerintah AS dengan Indonesia. Selain untuk jurnalis, kami juga punya banyak program lainnya untuk mahasiswa, baik S-1, S-2, maupun S-3," pungkasnya.

(KR-ZLS/I007)

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2017