Washington (ANTARA News) - "Ibu segala bom" yang berbobot 11 ton yang dijatuhkan pasukan AS ke posisi-posisi ISIS di Afghanistan adalah senjata sangat khusus yang asal muasalnya dari bom besar yang diciptakan untuk digunakan menyerang sasaran-sasaran Nazi pada Perang Dunia Kedua.

Bom berberat 9.797 kg dengan nama GBU-43 (Guided Bomb Unit, unit bom terkendali), yang hanya diproduksi 15 bom, diciptakan setelah militer AS memerlukan senjata khusus untuk menghancurkan sistem terowongan Alqaeda ketika memburu Osama Bin Laden pada 2001.

Namun Massive Ordnance Air Blast Bomb (MOAB yang kadang dipelesetkan dengan 'mother of all bombs' atau ibu segala bom) tak pernah digunakan sampai sebuah pesawat MC-130 milik AS menjatuhkan salah satu dari 15 bom itu di distrik Achin di Nangarhar, yang berbatasan dengan Pakistan, Kamis lalu.

Pemerintah Afghanistan menyatakan bom itu telah menewaskan 36 militan ISIS, namun sebuah kantor berita yang berafiliasi ke ISIS di Timur Tengah menyatakan bom itu tak merenggut satu pun nyawa militan ISIS. Militer AS sendiri menyatakan mustahil bisa menghitung korban mati akibat bom itu, namun yang jelas pasti banyak.

Panglima pasukan AS di Afghanistan menyatakan penggunaan bom konvensional terbesar di dunia itu adalah sepenuhnya sebagai taktik militer.

Para pakar membayangkan bom non nuklir terbesar di dunia itu tak hanya ditujukan untuk menghancurkan ISIS, namun juga untuk mengguncang Korea Utara dan Iran yang keduanya memiliki program nuklir bawah tanah.

Para pakar menilai Presiden AS Donald Trump telah memberikan keleluasaan lebih kepada militer AS ketimbang yang diberikan pendahulunya, Barack Obama.

"Yang saya lakukan adalah saya mengotorisasi militer saya. Kita memiliki militer terhebat di dunia, dan mereka berhasil menunaikan tugas, sebagaimana biasanya. Kita telah memberi mereka otorisasi total dan itulah yang mereka lakukan," kata Trump.

Penjatuhan "ibu segala bom" itu hanya sepekan setelah Trump memerintahkan peluncuran 59 rudal Tomahawk ke Suriah menyusul dugaan penggunaan senjata kimia. Langkah Trump ini membangkitkan pertanyaan akankah Trump juga membom Korea Utara yang kerap melanggar sanksi PBB dengan ngotot uji coba nuklir.

Mark Cancian, purnawirawan tentara AS yang spesialis artileri menyatakan kemungkinan memang ada pesan kepada Suriah dan Korea Utara dari serangan itu. Yang jelas, kata dia, "Ini sinyal kepada ISIS bahwa tak peduli sesering apa kalian sembunyi, tak peduli seberapa dalam kalian menggali, kami tetap bisa menemukan kalian."


Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2017