Senin, 25 September 2017

Petani: metode bakar memang murah tapi merugikan

| 4.742 Views
Petani: metode bakar memang murah tapi merugikan
ilustrasi: Seorang petani menyemprotkan cairan detergen yang dicampur dengan pestisida untuk memberantas hama wereng di desa Pekandangan, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (8/3/2017). (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)
Jakarta (ANTARA News) - Seorang petani dari Desa Banyu Biru, Kecamatan Air Sugihan Kabupaten Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan, Jeni (41), mengatakan metode bakar lahan memang murah tapi merugikan dalam jangka panjang.

"Metode bakar memang lebih mudah dan murah, namun dampak jangka panjangnya merugikan. Selain rawan kebakaran, tanah juga akan semakin kering dan gersang. Apalagi kalau melihat dampak kebakaran bagi kesehatan, anak-anak terkena ISPA karena asap," ujar Jeni di Jakarta, Sabtu.

Oleh karenanya, ia mengajak warga didesanya untuk cara mengolah lahan tanpa menggunakan metode bakar kepada masyarakat desanya.

Namun, apa yang dipromosikan Jeni dianggap menghambat dan mengganggu kegiatan pencaharian warga. Berbagai ancaman dan intimidasi kerap diterima oleh Jeni atas aksinya tersebut.

"Pokoknya kalau kami menanam padi ini gagal, kami akan datangi rumahmu, kami bawakan parang," demikian Jeni menirukan ancaman salah satu warga.

Selama puluhan tahun, metode bakar telah diterapkan oleh masyarakat Banyu Biru dalam membuka lahan pertanian, karena dianggap sebagai cara paling mudah dan murah. Namun dengan bermodal niat baik dan keteguhan hatinya, Jeni secara perlahan mampu mengubah keadaan. Jeni mengungkap alasan mengapa ia merasa tergerak melakukan sesuatu terhadap perilaku bertani warga desanya.

Keraguan warga mulai sirna ketika mereka telah melewati fase pemupukan awal. Mereka baru mengakui bahwa ternyata memungkinkan untuk mengolah lahan tanpa bakar.

Kisah Jeni yang menginspirasi warga desa Banyu Biru ini membuatnya hadir di acara Indogreen Environment & Forestry Expo, sebuah pameran tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KLHK) dalam mendukung pelestarian lingkungan hidup Indonesia. Acara yang digelar di Balai Sidang Jakarta pada 13-16 April diikuti oleh perwakilan multisektor, dan merupakan pameran lingkungan dan kehutanan terbesar di Indonesia.

Jeni merupakan petani binaan Desa Makmur Peduli Api (DMPA), sebuah program yang digagas oleh Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas yang turut berpartisipasi dalam pameran itu. Program DMPA fokus dalam melibatkan masyarakat sekitar konsesi perusahaan untuk berdaya secara sosial-ekonomi melalui kegiatan wanatani (agroforestry).

Dalam kesempatan itu, Jeni membawa hasil kerja kerasnya, yaitu beras yang telah dipanen beberapa saat lalu bersama kelompok tani yang dikepalainya.

"Tahap awal memang masih belum maksimal, tapi Insya Allah akan diperjuangkan agar dapat meningkat lagi hasil produksinya," tutur dia.

Dalam kesempatan yang sama Rektor Universitas Trilogi, Prof Asep Saefuddin, mengatakan pemerintah perlu kembali ke ekonomi yang berkeadilan seperti yang dikonsepkan Pancasila untuk mensejahterakan masyarakat termasuk para petani.

"Campur tangan pemerintah sangat diperlukan karena jika diserahkan kepada mekanisme pasar, maka yang terjadi adalah kesenjangan ekonomi antar daerah antar wilayah. Termasuk dalam bidang pertanian," kata Asep.

(I025/J003)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga