Rabu, 20 September 2017

Dirjen: Maluku bisa berjaya melalui kebudayaan

| 3.500 Views
Dirjen: Maluku bisa berjaya melalui kebudayaan
Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid - (Monalisa / ANTARA Foto)
Ambon (ANTARA News) - Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid optimistis seni dan budaya generasi muda di Maluku akan bersinar dan diminati para wisatawan karena bernilai komparatif dan berbeda dengan daerah lainnya di tanah air.

"Jika kita bisa memastikan bahwa talenta anak-anak dan generasi muda di daerah ini diarahkan dengan benar sesuai kemampuan mereka maka di masa mendatang kebudayaan Maluku akan semakin berkembang dan diminati oleh para wisatawan," katanya di Ambon, Kamis.

Dia menegaskan, sudah saatnya di Maluku dibangun sekolah seni sebagai salah satu strategi untuk mengembangkan bakat dan kreativitas generasi muda di daerah ini sehingga lebih berkembang dan sesuai dengan perkembangan industri seni budaya di tanah air saat ini.

Farid yang berada di Ambon dalam rangka membuka Karnaval Budaya Multietnik Nusantara dan Festival Musik Hawaiian 2017, menandaskan, dirinya "jatuh hati" terhadap seni dan budaya generasi Maluku yang ditampilkan generasi muda di Maluku atau menyukai talenta generasi muda di Maluku dalam berkreativitas generasi muda di Maluku dalam menampilkan berbagai seni dan budaya pada karnaval kudaya multi etnik nusantara dan festival musik hawaiian 2017.

"Jujur saja saya sangat tertarik dengan berbagai jenis seni dan budaya yang ditampilkan generasi muda di Maluku. Daerah ini sangat kaya akan beragam seni dan budaya yang brnilai tradisional. Saya pasti akan kembali ke Ambon untuk menikmati beragam budaya tradisional yang ada di daerah ini," katanya.

Dia juga mengaku sangat senang melihat para peserta karnaval yang umumnya generasi muda dan anak-anak mampu menunjukkan kreativitas dan talenta yang luar biasa, di samping apresiasi yang tinggi terhadap sambutan warga Ambon terhadap kegiatan tahunan tersebut.

Dia mengakui, antusiasme dan dukungan warga kota Ambon terhadap kegiatan tersebut menunjukkan kebesaran hati masyarakat di ibu kota provinsi Maluku tersebut akan pentingnya pengembangan seni dan budaya tradisional.

"Kebesaran hati yang ditunjukkan warga Ambon terhadap kegiatan seni budaya seperti ini, merupakan salah satu nilai penting yang dibutuhkan masyarakat Indonesia saat ini," katanya.

Sedangkan Sekda Maluku, Hamin Bin Thahir menegaskan, refleksi dari karnaval dan festival bertepatan dengan 200 tahun perjuangan pahlawan nasional Thomas matulessy yang berjuluk Kapitan Pattimura dan dirayakan pada 15 Mei 2017, perlu dimaknai sebagai konsep kebangsaan yang semua pihak.

"Musik adalah bagian dari budaya. Karena itu musik dan kebudayaan merupakan identitas yang melekat pada visi kebudayaan kita bersama," ujarnya.

Maluku, menurutnya, kini telah menjadi rumah bagi semua orang, di mana keberadaannya tidak hanya untuk etnis Maluku saja, tetapi memberi ruang bagi muncul dan berkembangnya kebudayaan suku bangsa di nusantara.

Hal tersebut, ujarnya, bisa dilihat dari beragam fam atau marga di Maluku selain ratusan marga lokal, seperti Patty, Toisuta, Sahanaya, Sahetapy, Manuhuttu, Saiya, Riry, Wattimena, Pattikawa, Latuconsina, Wakanno, Madubun, Retraubun, Rahawarin, Kudubun, Rahayaan, Keliobas dan lain-lain.

Terdapat juga puluhan hingga ratusan marga yang merupakan akulturasi dengan kebudayaan luar, misalnya dari Sulawesi Selatan yang menggunakan marga Bugis atau Makassar, dari Sulawesi Tenggara menggunakan marga La atau Wa di depan nama, dari Sumatera menggunakan marga Padang, Palembang.

Begitu jua dari Arab ada yang menggunakan marga Assagaff, Alidrus, Alkatiri, Basalamah, Atamimi, Bachmid dan Bahasoan, sedangkan dari Belanda dengan marga van Capel, van Brook, de Kock, Ramschy, Payer, dari Portugis dengan marga da Costa, de Fretes dan de Lima, sedangkan dari China ada yang menggunakan fam Liem, Kho, dan lain-lainnya.

Hal lain yang lahir dari akulturasi budaya tersebut yakni muncul berbagai khasanah seni budaya di daerah ini, diantaranya akulturasi budaya lokal dengan Islam atau budaya Arab, seperti Abdau di Negeri Tulehu, pukul Sapu di negeri Mamala - Morela maupun tarian sawat di beberapa desa muslim.

Selain itu, akulturasi budaya lokal dengan Arab dan Melayu, seperti tarian dana-dana serta campuran budaya lokal dengan barat atau Eropa sepert tari Katreji, Orlapeij serta tarian Cakaiba.

"Walaupun berbeda setapi semua warga merasa sebagai orang sudara (bersaudara-red). Betapa pun berbeda tetap Beta Maluku dan saling memiliki satu dengan lainnya," katanya.

(T.KR-JA/J007)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga