Jumat, 23 Juni 2017

ANTARA Doeloe : Peringatan malam Nuzulul Qur'an di Istana Negara

| 7.562 Views
ANTARA Doeloe : Peringatan malam Nuzulul Qur'an di Istana Negara
Presiden Sukarno pada foto 1960. (Wikimedia Commons/Cuban Press)
Djakarta 10 Juni 1952 (Antara) - Malam Nuzulul Qur'an tanggal 17 Ramadhan pada hari Senin malam di Istana Negara telah diperingati oleh ribuan ummat Islam di Djakarta.

Hadir pada peringatan itu, Presiden Sukarno, Menteri2 Agama, Dalam Negeri, Duta2 dari negara2 Islam seperti Mesir, Saudi Arabia dan Pakistan, dan pembesar2 sipil dan militer lainnja.

Upatjara peringatan malam Nuzulul Qur'an dipimpin oleh Nazaruddin Latif dengan sebuah pidato pembukaan singkat, dimana oleh pembitjara diutjapkan sjukur kehadhirat Illahi, bahwa ummat Islam Indonesia dapat merajakan untuk ketiga kalinja peringatan Nuzulul Qur'an di Istana Negara bersama2 dengan Kepala Negara.

Atjara kemudian disusul dengan pembatjaan kitab sutji Al Qur'an oleh Tubagus Mansur, sedangkan uraian tentang arti Nuzulul Qur'an diuraikan dengan pandjang lebar oleh Gaffar Ismail.

Presiden Sukarno jang berbitjara sesudah Gaffar Ismail, dalam memperingati hari turunnja kitab sutji Al Qur'an ini setjara singkat tapi tjukup djelas menguraikan betapa pentingnja arti kitab sutji bagi ummat Islam bahkan bagi seluruh ummat manusia dimuka bumi ini.

Dengan tidak adanja kitab sutji Al Qur'an, maka dunia pasti mendjadi gelap gulita, dan dengan tidak diturunkannja agama Islam kemuka bumi ini, maka kita sekalian mungkin akan menjembah patung dan berhala2. Demikian Presiden.

Oleh Presiden Sukarno kemudian dikupas kemadjuan2 jang dialami oleh dunia Barat, Eropa dan Amerika, jang telah dapat mentjapai pengetahuan setinggi2nja dalam lapangan pengetahuan ilmu dan tehnik.

Tapi dalam abad pertengahan, dunia Barat pernah mengalami kegelapan dan pada waktu dunia Barat mengalami kegelapan itu, datanglah tjahaja dari Timur, berupa indjeksi dengan turunnja kitab sutji Al Qur'an.

Oleh Presiden diuraikan djuga sifat kerahiman Tuhan kepada ummat manusia. Dikatakan, bahwa sadar atau tidak sadar, setiap hari, setiap djam, menit dan setiap detik, kita selalu mengalami dan merasai kerahiman dari Tuhan.

Antaranja oleh Presiden disebut, bahwa udara jang kita hirup setiap hari, djam, menit dan setiap detik, adalah termasuk dari kerahiman Tuhan, sebab djika dalam tempo beberapa menit sadja kita tak menghirup udara, maka kita akan meninggal dunia.

Pada achir pidatonja, Presiden Sukarno mengandjurkan, agar segenap ummat Islam benar2 berbuat seperti apa jang diadjarkan didalam kitab sutji Al Qur'an, agar dengan demikian dapatlah kita benar2 mendjadi suatu bangsa jang berdjiwa dan kuat.

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Ikuti berita dalam topik #

ANTARA Doeloe

Komentar Pembaca
Baca Juga