Minggu, 25 Juni 2017

20 tahun kemudian penerbangan dunia menurut Airbus Industrie

| 6.343 Views
20 tahun kemudian penerbangan dunia menurut Airbus Industrie
Airbus A321neo dalam penerbangan perdananya, di Hamburg, Jerman, beberapa waktu lalu. A321neo termasuk seri Airbus lorong tunggal yang digadang-gadang menjadi andalan pada pasar pesawat terbang komersial lorong tunggal di seluruh dunia. (www.airbus.com)
Angka perjalanan udara pun berlipat ganda setiap 15 tahun
Jakarta (ANTARA News) - Kira-kira, bagaimana arsitektur dan perkembangan penerbangan sipil dunia pada 20 tahun kemudian dari sekarang? Apakah bertumbuh bertumbuh signifikan secara linier atau eksponensial?

Airbus Industrie, dalam Airbus Global Market Forecast 2017-2036, diterima Rabu, memiliki perkiraan pertumbuhan dan wajah penerbangan dunia itu. Dalam 20 tahun lagi dunia memerlukan 35.000 pesawat terbang baru dengan nilai pembelian sekira 5,3 triliun dolar Amerika Serikat (AS). 

Industri penerbangan itu menyatakan pula bahwa pesawat terbang yang dimaksud dalam pertumbuhan itu adalah yang berkapasitas minimal 100 kursi, dan bisa saja jumlah unitnya bertambah hingga 44.000 pesawat terbang.

Alasan utamanya, tingkat pertumbuhan industri dan bisnis penerbangan dunia bertumbuh 4,4 persen setahun berdasarkan data saat ini, sementara pertumbuhan ekonomi dunia cuma di angka 1,5 hingga 2 persen setahun.

Walaupun tingkat pertumbuhan ekonomi dunia seperti itu, ternyata pertumbuhan jumlah pemakai jasa penerbangan berpenumpang yang akan menempuh penerbangan pertamanya juga meningkat.

Hal ini berdampak pada peningkatan pengeluaran untuk perjalanan udara, kemajuan pariwisata, liberalisasi industri, operasionalisasi rute-rute baru, dan model bisnis penerbangan yang terus berkembang.

Berujung pada dorongan untuk memenuhi keperluan 34.170 pesawat terbang komersial dan 730 pesawat terbang kargo dengan total nilai 5,3 triliun dolar AS. 

Dari jumlah itu, lebih dari 70 persen keperluan itu adalah pesawat komersial lorong tunggal (single aisle), dengan komposisi 60 persen didedikasikan untuk pertumbuhan dan 40 persen untuk menggantikan pesawat lama yang lebih boros bahan bakar.

Konsekuensi logis lain adalah keperluan pilot baru hingga 530.000 orang lebih dan 550.000 orang teknisi serta insinyur yang fokus hanya pada perawatan dan pemeliharaan pesawat terbang. Mendidik dan melatih teknisi memerlukan waktu lebih panjang ketimbang mendidik dan melatih pilot.

Itulah sisi lain dan industri turunan lain yang menggiurkan untuk digeluti secara serius, karena industri pemeliharaan dan perawatan pesawat terbang jelas sangat diperlukan. Belum lagi industri pelatihan penerbangan dan perawatan-pemeliharaan pesawat terbang. 

Khusus untuk Airbus Industrie, mereka telah meluaskan jaringan pelatihannya secara mondial, dari lima lokasi menjadi 16 lokasi hanya dalam tiga tahun saja. Belum lagi industri tata-kelola bandar udara yang dipastikan makin sibuk dan jumlah pergerakan pesawat terbang makin rapat perskala waktu yang sama.

Pertumbuhan lalu-lintas udara tercatat paling tinggi di pasar-pasar negara berkembang, di antaranya China, India, negara-negara lain Asia, dan Amerika Latin. Negara-negara berkembang ini menaungi 6,4 miliar dari 7,4 miliar penduduk dunia, dan akan mewakili hampir 50 persen konsumsi dunia pada 2036. 

Konsisten dengan kecenderungan itu, laju pertumbuhan lalu-lintas udara di negara-negara ini tercatat hampir dua kali lipat dari perkiraan laju pertumbuhan sebesar 3,2 persen per tahun di pasar-pasar yang telah lebih mapan seperti Amerika Utara dan Eropa Barat.

"Perjalanan udara memiliki ketahanan yang luar biasa terhadap guncangan-guncangan eksternal. Angka perjalanan udara pun berlipat ganda setiap 15 tahun," kata John Leahy, Chief Operating Officer-Customers, Airbus Commercial Aircraft. 

Ia menimpali, "Asia Pasifik terus menjadi pendorong pertumbuhan ini dengan China yang akan menjadi pasar terbesar dunia. Pendapatan yang siap dibelanjakan terus bertumbuh, dan jumlah orang yang melakukan perjalanan udara di negara-negara berkembang akan meningkat hampir tiga kali lipat dalam kurun waktu hingga 2036."

Hingga 20 tahun ke depan, Asia Pasifik akan menerima 41 persen kiriman pesawat baru, disusul Eropa (20 persen) dan Amerika Utara (16 persen). Jumlah penduduk kelas menengah akan meningkat hampir dua kali lipat menjadi hampir lima miliar. 

Seiring angka-angka itu, peningkatan kesejahteraan membuat perjalanan udara semakin mudah diakses, khususnya di negara-negara berkembang. Di negara-negara berkembang ini pulalah pengeluaran untuk perjalanan udara diperkirakan akan meningkat dua kali lipat.

Di kelas lorong ganda, seperti keluarga armada A330, A350 XWB dan A380, Airbus Industrie memperkirakan munculnya kebutuhan terhadap 10.100 pesawat senilai 2,9 triliun dolar Amerika Serikat.

Adapun di kelas lorong tunggal, seperti di keluarga armada A320neo, Airbus memperkirakan munculnya kebutuhan terhadap sekitar 24.810 pesawat senilai 2,4 triliun dolar AS. 

Tak hanya itu, A321neo akan memberikan lebih banyak peluang bisnis kepada maskapai-maskapai yang sebelumnya ingin meningkatkan kapasitas dengan meningkatkan skala ukuran ke varian pesawat lorong tunggal terbesar, A321. 

Hal ini ditunjang jangkauan jelajah A321neo yang mencapai 4.000 mil laut dan efisiensi bahan bakar yang tak terkalahkan. Pada 2016, A321 mencatatkan lebih dari 40 persen dari total kiriman pesawat lorong tunggal, serta lebih dari 60 persen dari total pesanan pesawat lorong tunggal.

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga