Selasa, 19 September 2017

"Manusia pohon" Wonosobo tulang punggung keluarga

| 6.182 Views
Manusia pohon Habdi Awaludin warga Kampung Mertosari, Kelurahan Selomerto, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo saat menerima kunjungan rombongan komunitas "Agus Agus Bersaudara Indonesia" (AABI) Wonosobo. (Foto: ANTARAJATENG.COM/Dinas Kominfo Wonosobo)
Pria warga Kampung Mertosari, Kelurahan Selomerto, Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, mengidap Epidemodysplasia Verruciformis, suatu penyakit kulit genetik langka yang menyebabkan seseorang rentan ditumbuhi kutil.

Habdi Ahwadin (51), penderita penyakit kulit langka yang sering disebut "manusia pohon" tersebut, sekujur tubuhnya ditumbuhi kutil akibat virus papiloma.

Tubuh Habdi mulai dari ujung kepala hingga kedua kakinya tidak lepas dari benjolan sebesar buah tomat, bahkan kaki kanannya tumbuh benjolan hingga sebesar buah kelapa.

Habdi ketika menemui rombongan komunitas "Agus Agus Bersaudara Indonesia" (AABI) Wonosobo mengaku sudah pasrah dengan kondisinya, bahkan meski sudah terdaftar sebagai pasien yang dijadwalkan menjalani operasi di Rumah Sakit Margono Purwokerto, ia memilih tidak berangkat.

"Karena banyak yang bilang kalau dioperasi risikonya malah bisa lumpuh, saya jadi tidak berangkat," katanya.

Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Tri Astuti, menjelaskan perihal rencana operasi yang sedianya dijadwalkan pada pertengahan Mei lalu.

Sebagai penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), Habdi juga telah menerima dana asistensi sosial setiap bulannya.

Tri menuturkan semua berkas yang dipersyaratkan hingga operasi sudah siap, bahkan diagnosa dari dokter Rumah Sakit Margono pun telah dikantongi.

"Pak Habdi hanya khawatir karena banyak yang bilang bahwa operasinya termasuk amputasi kaki," katanya.

Pihak keluarganya juga keberatan dengan operasi tersebut, termasuk istrinya, Anik Usmah (38) dan ketiga anaknya.

Anik mengaku Habdi memang merupakan tulang punggung keluarga yang selama ini juga masih tetap bekerja, meski sekadar buruh serabutan di kampungnya.

Hampir setiap hari, tenaga Habdi selalu dibutuhkan warga sekitar sehingga kebutuhan dapur tetap terjaga, meskipun hanya sebatas memenuhi keperluan harian.

Menurut dia, Habdi tidak pernah minder dengan kondisi tubuhnya dan bahkan selalu terlihat semangat ketika hendak berangkat bekerja.

Ketiga anaknya, yaitu Mujiyati (18), Wawan Setyawan (13), dan Agus Hermawan (10), menurut Anik, juga menerima keadaan ayah mereka dengan lapang dada.

"Mereka tumbuh sehat dan normal dan Mujiyati sekarang sudah bekerja, Wawan mau masuk SMP, dan Agus masih di kelas 4 SD," katanya.

Penasihat AABI Wonosobo, Agus Purnomo, mengaku sangat prihatin melihat kondisi Habdi.

Ia bersama komunitas AABI sengaja mengunjungi Habdi, selain untuk memberikan bantuan pendukung hidup sehari-hari, juga untuk menyemangatinya.

"Pak Habdi Ahwadin ini layak menjadi teladan bagi kita, karena meski secara fisik terlihat demikian, beliau tidak pernah merasa rendah diri atau minder, serta tetap semangat mencari rizki halal," katanya.

Terkait dengan penyakit yang telah diderita sejak anak-anak tersebut, Agus berharap ada solusi pengobatan selain operasi sehingga Habdi kembali sehat.

Komunitas AABI Wonosobo akan berusaha untuk bisa meringankan beban hidup keluaga Habdi dengan memanfaatkan jaringan komunitas.

Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Wonosobo, jumlah pemilik nama Agus yang berusia di atas 17 tahun sudah mencapai lebih dari 3.300 orang.

"Hal ini tentu merupakan potensi untuk kami lebih banyak bergerak di bidang sosial, termasuk membantu saudara-saudara kita yang tengah menderita kesulitan," katanya. 

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga