Sabtu, 23 September 2017

Alat deteksi gempa di puncak Gunung Marapi tidak berfungsi

| 2.480 Views
Alat deteksi gempa di puncak Gunung Marapi tidak berfungsi
Gunung Marapi terlihat mengeluarkan debu vulkanik, dari Kota Padangpanjang, Sumatera Barat, Minggu (4/6/2017) malam. Gunung yang berada di wilayah Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar itu sejak Minggu (4/6/2017) pagi mengeluarkan material debu vulkanik yang bertiup ke arah timur, sementara pihak terkait mengimbau agar warga menjauh sekitar radius tiga kilometer dari kawah atau puncak. (ANTARA/Iggoy el Fitra)
Bukittinggi (ANTARA News) - Alat sensor pendeteksi gempa yang ditempatkan di puncak Gunung Marapi, Sumatera Barat (Sumbar) tidak berfungsi setelah gunung tersebut mengalami erupsi pada awal Juni 2017.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Marapi Sumbar, Hartanto di Bukittinggi, Senin, mengatakan sensor itu tidak berfungsi karena delapan panel surya sebagai pendukung alat mengalami kerusakan akibat tertimpa lontaran batu pijar saat terjadi erupsi.

Delapan panel surya itu ditempatkan di ketinggian 2.740 meter di atas permukaan laut

"Ada sembilan sensor yang dipasang di sekeliling Marapi termasuk satu di puncak. Sensor di puncak adalah alat yang pertama mendeteksi bila ada aktivitas di Marapi seperti erupsi dan embusan," tambahnya.

Ia menerangkan sensor diketahui mati sejak 6 Juni 2017 atau dua hari setelah erupsi pertama dan petugas baru dapat mengecek kondisi alat pada 17 Juni 2017.

"Alat di puncak dipasang pada 2016 lalu. Direncanakan akan dilakukan penggantian usai lebaran 2017 ini dan kami sudah laporkan ke PVBMG pusat," ujarnya.

Terkait kondisi terkini Gunung Marapi, Hartanto mengemukakan masih terekam adanya aktivitas gempa vulkanik setelah mengalami erupsi pada 4 Juni 2017.

"Marapi karakteristiknya erupsi freatik yang hanya terjadi di sekitar kawah. Bukan magmatik seperti terjadi di Gunung Sinabung yang pergerakan magma bisa diprediksi oleh rekaman gempa," katanya.

Menurutnya kondisi tersebut tetap berbahaya sehingga pendaki dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak.

"Melihat kondisi panel surya yang rusak tertimpa lontaran batu pijar, ini juga akan berbahaya bagi para pendaki," ujarnya.

Editor: AA Ariwibowo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga