Ankara (ANTARA News) - Indonesia dan Turki sepakat untuk mengkonkretkan kerja sama di bidang imigrasi untuk mengatasi persoalan "Foreign Terrorist Fighters" (FTF).

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi di Ankara, Rabu, bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius mengatakan kepada pers bahwa mereka baru saja melakukan pertemuan bilateral dengan Pemerintah Turki yang diwakili Menteri Dalam Negeri Turki.

"Saya bersama Pak Dubes (Indonesia untuk Turki) dan Kepala BNPT baru saja melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Dalam Negeri Turki yang membawahi keamanan jadi sekali lagi, polisi, imigrasi semuanya ada di bawah beliau," kata Retno.

Ia mengatakan, pertemuan dilakukan dengan sangat terbuka, sangat bersahabat, dan cukup lama yakni hampir 1,5 jam.

Pertemuan itu membahas kerja sama di bidang pemberantasan terorisme, terutama dalam menangani FTF.

"Sejauh ini sudah berlangsung baik dengan Turki. Karena Turki ini memiliki posisi yang sangat strategis dalam artinya banyak sekali FTF yang pergi ke Suriah melalui Turki, selain itu juga Turki karena letak geografisnya yang berdekatan dengan Suriah menerima banyak sekali pengungsi dari Suriah yang jumlahnya lebih dari 2 juta orang dan kerja sama sekali lagi berlangsung dengan baik," paparnya.




Kedua pihak juga membahas kerja sama yang dapat ditingkatkan di masa mendatang, termasuk membahas draf "MoU" atau nota kesepahaman untuk kerja sama di bidang imigrasi.

"Tetapi masih dalam proses dan tadi kita sepakat agar kerja sama di bidang imigrasi ini dapat dipercepat sehingga akan lebih mempermudah kita dalam kerja sama penanganan FTF," ujarnya.

Ia menambahkan, sebelumnya pada Mei 2017, Kepala BNPT sudah melakukan kunjungan ke Turki dan melakukan pembahasan dengan mitra kerjanya di Turki.

"Dan banyak sekali hal yang kita bahas yang semuanya tidak dapat kita sampaikan untuk media, tetapi intinya kita mengapresiasi kerja sama yang sudah ada," tambahnya.

Retno menegaskan bahwa kerja sama di bidang imigrasi harus segera dikonkretkan supaya penanganan terhadap FTF menjadi lebih baik dan optimal.

Sementara Kepala BNPT Suhardi Alius menambahkan bahwa Indonesia pada kesempatan itu juga meminta masukan dari Turki terkait kiat-kiat mengatasi FTF.

"Karena prioritas keamanan menjadi prioritas pertama mereka. Dalam kaitannya soal perbatasan masuk dan masalah geografis dan banyaknya arus keluar masuk," tuturnya.

Pewarta: Hanni Sofia Soepardi
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2017