Kamis, 27 Juli 2017

Ekspatriat Venezuela ikut tolak Maduro

| 3.813 Views
Ekspatriat Venezuela ikut tolak Maduro
Seorang ekspatriat Venezuela di Sao Paulo, Brazil, Minggu (16/7/2017), memberikan suara dalam pemilihan umum tidak resmi untuk menolak pemerintahan Presiden Nicolas Maduro melanjutkan jabatan dan mengganti konstitusi negerinya. (Reuters)
Dengan suara ini, kami ingin mengatakan kepada Maduro bahwa Venezuela tidak dapat menunggu."
Madrid/Roma (ANTARA News) - Ekspatriat Venezuela mulai memberikan suara di ratusan kota di seluruh dunia pada Minggu (16/7) dalam sebuah plebisit tidak resmi yang bertujuan untuk menolak Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang berencana menulis ulang konstitusi negeri itu.

Melalui stasiun pemungutan suara improvisasi di lebih dari 80 negara, ekspatriat Venezuela diprediksi akan hadir untuk mengikuti pemungutan suara, yang terjadi di tengah demonstrasi anti-pemerintahan Maduro selama tiga bulan yang menyebabkan hampir 100 kematian.

Pengunjuk rasa mengatakan Maduro berusaha untuk mengonsolidasikan sebuah kediktatoran di negara yang kaya minyak dan harus dihentikan sebelum kondisi kekurangan makanan dan obat kian memburuk karena pemerintahan yang korup.

Pemungutan suara simbolis dirancang untuk mendahului pemilihan umum resmi pada 30 Juli 2017 untuk menyeru majelis konstituen, yang akan dapat menulis ulang konstitusi dan membubarkan institusi negara, demikian laporan kantor berita Reuters.

Pemungutan suara yang tidak mengikat, yang diserukan oleh dewan yang dikuasai oposisi, Majelis Nasional, akan mengajukan tiga pertanyaan kepada warga Venezuela, apakah mereka menolak majelis konstitusional, apakah mereka menginginkan angkatan bersenjata untuk mempertahankan konstitusi yang ada, dan apakah mereka menginginkan pemilihan umum dilakukan sebelum masa jabatan Maduro berakhir pada 2018.

Di Madrid tengah, Spanyol, di mana beberapa kritikus tingkat tinggi pemerintah termasuk di antara 30.000 orang Venezuela yang diharapkan memberikan suara mereka dalam pemungutan suara sepanjang hari ini, para relawan mengawaki tempat pemungutan suara di tengah suasana yang meriah.

Mitzy Capriles, istri mantan wali kota Caracas Antonio Ledezma yang saat ini dipenjara di Venezuela atas tuduhan konspirasi, mengatakan bahwa ekspatriat Venezuela bersatu dalam menolak pemerintahan Maduro.

"Dengan ini, kami memberitahu Nicolas Maduro sekali lagi bahwa dia adalah penyebab masalah yang dihadapi negara ini hari ini," ujar Ledezma kepada wartawan setelah memberikan suaranya di Madrid.

Di Roma, Italia, Leopoldo Lopez Gil, ayah pemimpin oposisi terkemuka Leopoldo Lopez yang baru-baru ini dibebaskan untuk menjalani tahanan rumah setelah demonstrasi massa, mengatakan bahwa sifat damai dari pemilihan tersebut berbeda dengan kekerasan yang digunakan oleh pemerintah di Venezuela.

"Hari ini kita berkumpul dengan damai untuk mengirim pesan yang jelas bahwa (pemerintah Venezuela) perlu mendengarkan ... dan untuk membuka matanya dan melihat apa yang terjadi dan apa yang diinginkan oleh rakyat Venezuela," kata Lopez kepada wartawan.

Di Madrid, Audrey Lopez (49) berada di antara relawan yang menjadi staf di tempat pemungutan suara dan telah tinggal di Spanyol selama 10 tahun.

"Saya belum kembali ke Venezuela dalam empat tahun terakhir, apa yang saya simpan dalam perjalanan ini saya kirim ke keluarga saya dalam bentuk makanan, obat-obatan atau produk kebersihan karena harganya sangat mahal atau tidak ada di sana," katanya.

Ia menimpali, "Dengan suara ini, kami ingin mengatakan kepada Maduro bahwa Venezuela tidak dapat menunggu. Kami menginginkan pemilihan umum sekarang, Orang-orang menginginkannya mundur."

Carlos Morazzani, seorang insinyur berusia 50 tahun yang datang ke Spanyol tiga tahun lalu setelah perusahaannya bangkrut, mengatakan bahwa sebagian besar orang Venezuela menolak rencana untuk merombak konstitusi negerinya.

"Sebagian besar rakyat Venezuela menentang pemerintah," katanya. "Venezuela disandera 10 atau 15 persen warga di negara ini," ujarnya.

Sebuah survei baru-baru ini oleh lembaga Datanalisis menemukan bahwa 67 persen orang Venezuela menentang majelis baru untuk menulis ulang konstitusi, yang direformasi oleh Hugo Chavez saat mengambil-alih pemerintahan pada 1999.

Chavez saat itu menjabat Presiden Venezuela, dan Nicolas Maduro menjadi wakil presiden. Maduro menggantikan Chavez yang meninggal dunia akibat sakit pada 2013.

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga