Amman (ANTARA News) - Raja Yordania Abdullah II pada Senin mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membatalkan tindakan keamanan baru di kompleks tempat suci Masjid Al Aqsa di Yerusalem.

Ketika berbicara dengan Netanyahu melalui telepon, Raja Abdullah menekankan "perlunya menemukan solusi secepatnya dan menghilangkan alasan terjadinya krisis yang sedang berlangsung di kompleks Haram al Sharif" menurut pernyataan istana kerajaan yang dikutip kantor berita AFP.

Israel memasang detektor logam di pintu-pintu masuk ke kompleks tempat suci itu menyusul serangan 14 Juli yang menewaskan dua polisinya di dekat kompleks tersebut.

Peristiwa tersebut memicu bentrokan yang merenggut nyawa.

Warga Palestina melihat langkah itu sebagai upaya Israel untuk lebih mengendalikan kompleks yang mencakup masjid Al Aqsa dan Masjid Kubah Batu atau Dome of the Rock itu.

Yordania adalah penjaga resmi tempat-tempat suci umat Islam di Yerusalem.

Abdullah mendesak Netanyahu untuk membatalkan "tindakan baru yang diberlakukan Israel sejak dimulainya krisis terbaru itu."

Ia menekankan "pentingnya satu kesepakatan mengenai kebijakan apa pun untuk mencegah eskalasi ini berulang di masa depan" menurut pernyataan Kerajaan Yordania.

Ribuan warga Yordania sudah berdemonstrasi menentang Israel di Amman dan kota-kota lain, menyerukan "resistensi" terhadap "serangan-serangan Zionis" dan menuntut pembatalan perjanjian damai 1994. (hs)

(Baca: Jordania desak Israel hentikan langkah keamanan di Masjid Al-Aqsha)

Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2017