Jumat, 18 Agustus 2017

Enam elang jawa terpantau di Merapi

| 6.089 Views
Enam elang jawa terpantau di Merapi
Ilustrasi--Satu elang jawa di Taman Wisata Alam Kawah Ijen, Desa Tamansari, Licin, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (15/1). (ANTARA/Seno S.)
Setiap tahun elang jawa hanya bertelur satu kali, dan itu pun jumlah telurnya hanya satu...
Sleman (ANTARA News) - Ada enam elang jawa yang terpantau berada di kawasan lereng Gunung Merapi dalam kegiatan monitoring yang dilakukan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) tahun lalu.

"Enam ekor elang jawa yang terpantau, ada yang terlihat masih remaja, dalam artian sudah bisa terbang namun belum lancar," kata Pengendali Ekosistem Hutan TNGM Dhani Suryawan di Sleman, Sabtu.

Ia menambahkan monitoring elang jawa terakhir dilakukan tahun lalu dan rencananya kembali dilakukan September sampai Oktober tahun ini.

"Untuk melakukan pengamatan elang jawa itu, sebagaimana yang dilakukan pada 2016 lalu, dilakukan menggunakan metode pengamatan serentak," katanya.

Pengamatan serentak, ia menjelaskan, dilakukan dari semua sisi pada hari dan jam yang sama.

"Pada 2016 pengamatan serentak keseluruhan tim dibagi dalam enam regu," katanya.

Tahun lalu, ia melanjutkan, pemantauan dilakukan oleh petugas TNGM dan unsur masyarakat seperti Paguyuban Pecinta Burung Jogja (PPBJ).

Dhani menjelaskan pula bahwa selain elang jawa, di lereng Merapi juga hidup jenis elang hitam, elang brontok, elang bido, dan elang sikep madu.

"Hanya saja, dibandingkan jenis lain, elang jawa perkembangan populasinya termasuk yang tergolong lambat sehingga terus dimonitor. Setiap tahun elang jawa hanya bertelur satu kali, dan itu pun jumlah telurnya hanya satu butir," katanya.


Jejak macan tutul

Sejumlah kamera di pasang pada batang-batang pohon di kawasan taman nasional untuk mendukung pemantauan satwa.

"Untuk keberadaan macan tutul, disampaikan rekaman kamera trap belum menunjukkan bukti macan tutul, meski orang dari desa sekitar ada yang mengaku melihat hewan seperti kucing namun ukurannya besar yang diduga sebagai macan tutul," kata Dhanin.

"Yang terpantau selama ini baru kucing hutan, ukurannya itu seperti kucing rumahan itu tapi motifnya memang seperti macan tutul," katanya.

Meski demikian, ia mengatakan, belum bisa dipastikan juga macan tutul tidak ada di kawasan itu.

"Memang ada temuan jejak kaki dengan diameter delapan sentimeter, hanya saja mengenai jejak itu belum dipastikan sebagai jejak macan tutul. Kalau jejak kucing hutan tidak sebesar itu, karena ukuran diameternya tidak sampai empat centimeter," katanya.

Editor: Maryati

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga