Selasa, 24 Oktober 2017

Isu gempa dan lembaga amal abal-abal resahkan warga di China

| 3.022 Views
Isu gempa dan lembaga amal abal-abal resahkan warga di China
Regu penyelamat mengangkat seorang korban di lokasi longsor yang terjadi di Desa Xinmo, Wilayah Mao, provinsi Sichuan, China, Minggu (25/6/2017). (China Daily via REUTERS)
Beijing (ANTARA News) - Informasi mengenai adanya gempa susulan yang tersebar di media sosial dan lembaga amal abal-abal meresahkan warga China yang masih diliputi kedukaan gempa mematikan di Provinsi Sichuan.

Kementerian Keamanan Publik China berjanji akan menindak tegas penyebar informasi palsu dan lembaga amal abal-abal tersebut.

Rumor mengenai gempa yang akan terjadi di beberapa wilayah berbeda di daratan Tiongkok menyebar melalui media sosial sehingga menyebabkan kepanikan masyarakat dan mengganggu stabilitas sosial, demikian pernyataan kementerian tersebut sebagaimana dilaporkan media resmi pemerintah China di Beijing, Minggu.

Pihak berwajib akhirnya berhasil menangkap empat orang yang diduga menyebarkan informasi meresahkan tersebut melalui Wechat, aplikasi pesan media sosial yang digunakan oleh jutaan warga China.

Aparat setempat juga sedang menyelidiki lembaga amal abal-abal yang mengambil keuntungan dari simpati masyarakat terhadap korban gempa, demikian sebagaimana dikutip Peoples Daily.

"Pengguna internet seharusnya tidak membuat dan memercayai rumor gempa," demikian imbauan Kementerian Keamanan Publik China yang membawahi instansi kepolisian itu.

Gempa berkuatan 7 pada skala Richter di Kabupaten Jiuzhaigou, Selasa (8/8) malam, merenggut 24 nyawa dan melukai 493 lainnya.

Hingga berita ini diturunkan petugas masih melakukan pencarian terhadap adanya kemungkinan korban lain di Taman Nasional Jiuzhaigou yang pada saat bencana terjadi dikunjungi 38 ribu wisatawan.

Sementara itu, petugas penyelamatan juga dikerahkan ke Kabupaten Wenxian, Provinsi Gansu, yang dilanda banjir hingga menyebabkan delapan orang tewas, satu hilang, dan empat lainnya luka-luka, demikian laporan Kantor Berita Xinhua.

Editor: Heppy Ratna

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga