Sabtu, 19 Agustus 2017

Mensos ajak warga retrospeksi perjalanan bangsa

| 2.113 Views
Mensos ajak warga retrospeksi perjalanan bangsa
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. (ANTARA /M Agung Rajasa)
Jombang (ANTARA News) - Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh warga untuk retrospeksi atau mengenang kembali perjalanan sampai terwujudnya bangsa Indonesia, yang salah satunya mengajak serta pertemuan dengan putra dan putri pendiri bangsa.

"Putra dan putri pendiri bangsa turun gunung di HUT Ke-72 Kemerdekaan RI ini. Mereka memanggil kembali memori warga bangsa, bahwa dulu Indonesia merdeka karena bersatunya 714 suku, 15.676 pulau, kemudian agama dan akhirnya bisa menikmati kemerdekaan itu," kata Mensoso.

Mensos mengemukakan itu dalam acara pertemuan putra-putri pendiri bangsa dan tokoh lintas agama dengan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Minggu.

Ia mengatakan, setelah Indonesia merdeka dan saat ini sudah yang Ke-72, secara tiba-tiba ada dinamika sosial, politik, ekonomi, pertahanan dan keamanan, yang akhirnya ada radikalisme, terorisme, bahkan ada yang secara eksplisit ingin mengganti Pancasila, NKRI.

"Maka kebersatuan mereka atas nama wakil dari para pendiri bangsa ini, menjadi sangat penting untuk hadiah ulang tahun yang ke-72 tahun ini, bahwa mereka tidak tinggal diam melihat ujian bangsa itu, yang hari ini kita rasakan. Mereka turun gunung dan merumuskan seruan nasional," tuturnya.

Mensos juga mengatakan, dalam pertemuan itu ingin mengajak retrospeksi dari perjalanan bangsa ini bahwa ada proses sampai terwujudnya bangsa Indonesia. Proses tersebut sebagian adalah adanya persatuan, gotong royong.

"Para alim ulama, baik beragam agama, mereka bersama, demi persatuan. Mereka mengorbankan jiwa raga, dan jadilah Indonesia. Ada proses sampai menjadi Indonesia, dan ketika Indonesia merdeka, putra dan putri pendiri bangsa memanggil memori kita semua, turun gunung untuk isi jiwa kemerdekaan, jiwa perjuangan, pengorbanan, kepahlawanan," ujarnya.

Mensos mengatakan, Kementerian Sosial mendapatkan mandat dari para putra dan putri pendiri bangsa tersebut, terkait dengan seruan kepada bangsa tersebut. Rencananya, hal itu akan disampaikan ke Presiden, bahkan diharapkan ada pertemuan langsung dengan Presiden, sehingga pesan yang ingin disampaikan tidak hanya tertulis melainkan juga lisan.

Ia juga menambahkan, seruan ini tidak hanya ditandatangani oleh putra putri pendiri bangsa, melainkan juga tokoh lintas agama. Dengan bersatunya lintas agama, diharapkan bisa menjadi perekat yang lebih kuat bagi NKRI, baik saat ini ataupun yang akan datang.

Lebih baik

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, KH Sholahudin Wahid mengatakan para putra dan putri pendiri bangsa ini memang sengaja membuat seruan kepada bangsa tersebut. Seruan itu sebagai saran, dengan harapan menjadikan bangsa ini lebih baik lagi.

"Kalau itu saran, bagaimana caranya tergantung pemerintah. Kami ingin menyampaikan langsung ke Presiden, mudah-mudahan bisa diterima dan jadi perhatian beliau (Presiden)," kata Gus Sholah, sapaan akrabnya.

Ia juga mengatakan, para putra dan putri pendiri bangsa rencananya juga akan menyampaikan seruan ini dengan berkeliling ke beberapa tempat. Hal itu diharapkan bisa mencegah perpecahan di antara bangsa.

"Ada rencana akan berkeliling ke beberapa tempat menyampaikan seruan ini. Kami merasa, ada yang menganggu, potensi perpecahan ada, seberapapun kecilnya harus dicegah. Namun, kuncinya supaya jangan sampai pecah, adalah toleransi, menghargai perbedaan," ucap Gus Sholah.

Dalam kegiatan tersebut, selain dihadiri Mensos, juga dihadiri sejumlah putra dan putri pendiri bangsa, di antaranya KH Sholahudin Wahid (Putra KH Wachid Hasjim), SR Handini B Maramis (Putri AA Maramis), Agustanzil Sjahroezah (Cucu Haji Agus Salim), MA Rohadi Subardjo (Putra Prof Mr Achmad Soebardjo), Muhammad Afnan Hadikusumo (Cucu Ki Bagus Hadikusumo), Nugroho Abi Kusno (Cucu Abikoesno Tjokrosoejoso), dan Meutia Farida Hatta Swasono (Putri Muh Hatta).

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga