Senin, 25 September 2017

Hitung mundur Asian Games ke-18

| 1.788 Views
Hitung mundur Asian Games ke-18
Hitung Mundur Asian Games 2018 Video Mapping ditembakkan ke Monas dan kembang api menjadi atraksi dalam peresmian "Countdown Asian Games 2018" di lapangan Monas, Jakarta, Jumat (18/8/2017). (ANTARA/Rosa Panggabean)
Jakarta (ANTARA News) - Jam digital di Bundaran Hotel Indonesia di Jakarta dan Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang memulai detak penghitungan mundur satu tahun penyelenggaraan Asian Games 2018.

Penghitungan mundur Asian Games ke-18 itu dimulai setelah Presiden Joko Widodo secara resmi menancapkan anak panah ke papan target di kawasan Monumen Nasional Jakarta, pada Jumat (18/8) malam.

Detak jam digital di Jakarta dan Palembang itu sekaligus menjadi penanda kesungguhan Indonesia menggelar hajatan olahraga pada 18 Agustus - 2 September 2018 pasca-pengunduran diri Vietnam sebagai tuan rumah.

Indonesia mendapat kebanggaan sekaligus tantangan menyusul waktu persiapan yang hanya empat tahun sejak terpilih pada Juli 2014. Indonesia memajukan waktu pelaksanaan Asian Games ke-18 yang sedianya akan berlangsung pada 2019 karena bertepatan dengan tahun pemilihan umum.

Tantangan utama penyelenggaraan kejuaraan multicabang olahraga adalah penyiapan sarana-prasarana olahraga yaitu gelanggang tempat penyelenggaraan serta peralatan dan perlengkapan pendukung kegiatan.

Pemerintah, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, melakukan renovasi 14 gelanggang selain penataan kawasan di Komplek Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta. Selain itu, KemenPUPERA juga melakukan pembangunan dua blok wisma atlet dan penataan kasawan di komplek Kemayoran, Jakarta.

Pekerjaan infrastruktur lain adalah pembangunan dua blok wisma atlet dan dua paket pekerjaan gelanggang di komplek Jakabaring, Palembang.

Proyek renovasi dan pembangunan pendukung Asian Games 2018 itu menghabiskan anggaran sebesar Rp6,729 triliun. Sedangkan total nilai kontrak pengerjaan renovasi itu mencapai Rp6,165 triliun.

Pada 29 Mei, KemenPUPERA melaporkan pengerjaan renovas di gelanggang-gelanggang kawasan GBK mencapai 40,35 persen sejak dimulai pada 15 Agustus 2016. KemenPUPERA menargetkan penyelesaian renovasi gelanggang-gelanggang olahraga di Komplek GBK pada akhir Desember 2017.

Direktur Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) Winarto pada Selasa (8/8) menyebut dua gelanggang yang telah selesai direnovasi. Dua gelanggang itu adalah lapangan panahan dan lapangan hoki.

Sementara, renovasi Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 8 Agustus telah mencapai 82 persen. Stadion Utama GBK yang menghabiskan anggaran renovasi sebesar Rp769,69 miliar itu akan menjadi stadion layak penyandang disabilitas dengan dukungan untuk 200 penonton disabilitas.

"Saya optimistis penyelesaian renovasi akan tepat waktu karena pada Januari kita akan menggelar kejuaraan uji coba Asian Games," kata Menpora Imam Nahrawi di sela-sela kunjungan di Stadion Utama GBK Senayan.

Tantangan anggaran
Selain infrastruktur, Panitia Penyelenggara Asian Games (INASGOC) 2018 juga harus berjuang menghadapi tantangan anggaran yang mampu disediakan pemerintah melalui anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Pemerintah telah menggelontorkan anggaran sebesar Rp2 triliun yang terbagi dalam dua tahap yaitu Rp500 miliar pada APBN 2017 dan Rp1,5 triliun pada APBN Perubahan 2017.

INASGOC masih mengharapkan dukungan anggaran sebesar Rp2,7 triliun dari APBN 2018 yang akan dibutuhkan untuk belanja panitia Asian Games pada Januari 2018.

INASGOC mengklaim anggaran penyelenggaraan Asian Games ke-18 jauh lebih rendah dibanding penyelenggaraan empat Asian Games sebelumnya yaitu Asian Games 2002 di Busan, Korea Selatan (2,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp26,9 triliun), Asian Games 2006 di Doha, Qatar (2,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp25,8 triliun), Asian Games 2010 di Guangzhou, China (20 miliar dolar AS atau sekitar Rp180,7 triliun), dan Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan (1,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp23,1 triliun).

Panitia penyelenggara Indonesia untuk Asian Games 2018 lantas mengharapkan dukungan dari pihak ketiga atau perusahaan-perusahaan baik perusahaan negara atau BUMN dan perusahaan-perusahaan swasta guna menyiasati kekurangan anggaran penyelenggaraan.

"Pada 2018, kami memerlukan anggaran sebesar Rp2,7 triliun. Dari Kementerian Keuangan ada dana sekitar Rp1,7 triliun. Kami akan meninjau kembali apakah masih ada kekurangan atau mungkin kami revisi. Kami akan merapikan anggaran pada satu atau dua bulan mendatang karena masih mengharapkan pemasukan dari sponsor," kata Ketua Umum INASGOC Erick Thohir.

Erick mengatakan sponsor yang telah menyepakati kontrak dukungan kerjasama penyelenggaraan Asian Games hingga Juli 2017 adalah perusahaan-perusahaan luar negeri yang menjalin perjanjian dengan Dewan Olimpiade Asia (OCA).

"Sesuai kesepakatan perjanjian OCA, 50 persen dukungan sponsor adalah hak OCA. Kami akan melakukan negosiasi dengan OCA karena penggunaan dana dari sponsor juga hanya bisa dilakukan setelah upacara pembukaan yaitu pada 18 Agustus 2018," ujar Erick.

Selain sponsor dari BUMN dan perusahaan luar negeri, Erick mengharapkan pula kerja sama penyelenggaraan Asian Games 2018 dari perusahaan-perusahaan swasta di Indonesia.

"Sampai sekarang baru ada kerja sama dengan perusahaan asing dan akan dengan badan-badan usaha milik negara. Kami mengerti kendala swasta saat ini terkait pelemahan daya beli selain penghematan. Tapi, ini adalah sesuatu untuk negara," kata Erick yang juga Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) itu.

INASGOC masih akan memperbaiki sistem Badan Layanan Umum (BLU) guna menggandeng kerja sama dengan pihak swasta sebagai sponsor menyusul status INASGOC yang juga satuan kerja dalam Kementerian Pemuda dan Olahraga.

"Perangkat BLU akan ditentukan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga sebelum kami mengajak swasta untuk turut menandatangani kesepakatan sebagai sponsor," ujar Erick.

Tantangan efisiensi
INASGOC di sisi lain juga harus memenuhi kebutuhan persiapan penyelenggaraan dengan keuangan negara sebagaimana amanat dari Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Asian Games 2018 yaitu efektivitas biaya.

Maka, INAGOC perlu meminimalkan biaya penyelenggaraan yaitu dengan membatasi jumlah nomor pertandingan dari 39 cabang olahraga yang telah disepakati INASGOC dengan Dewan Olimpiade Asia (OCA) pada April 2017.

Dalam kesepatakan INASGOC-OCA, Asian Games 2018 akan menggelar 39 cabang olahraga, 52 disiplin olahraga dan 431 nomor pertandingan.

Namun pada rapat koordinasi ke-7 Panitia Asian Games 2018 pada Jumat (18/8), OCA meminta dua tambahan cabang olahraga yaitu skateboard yang akan dipertandingkan dalam Olimpiade Tokyo 2020 serta cabang kurash yang merupakan usulan dari negara-negara Asia Tengah.

"Ada cabang olahraga yang sudah masuk dalam Olimpiade 2020 seperti skateboard, tapi itu hilang dalam program Asian Games. Kami mengonfirmasi itu hari ini," kata Direktur Umum dan Teknik OCA Husain Al-Mussalam.

Husain mengatakan negara-negara kawasan Asia Tengah masih mengharapkan penyelenggaraan cabang kurash sebagai cabang potensi medali bagi mereka. "Asian Games terdiri dari cabang olahraga Olimpiade dan cabang olahraga tradisional seperti pencak silat. Negara-negara Asia Tengah tentu tidak berpotensi meraih medali dalam pencak silat. Mereka ingin ada ada cabang olahraga yang mewakili kawasan mereka," kata Husein.

Namun, Erick memastikan hanya lima persen dari total nomor pertandingan atau sekitar 20 nomor pertandingan dari 431 nomor yang masih dalam tahapanperundingan dengan OCA.

"Kami akan tetap mengupayakan untuk mempertahankan jumlah pertandingan yaitu 431. Tapi jika naik dua persen masih mungkin selama ada kontrak tertulisnya. Jika menambah dua persen, maka ada delapan nomor pertandingan," ujar Erick.

Hitung mundur
Kesungguhan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018 akan semakin nampak dalam penyelenggaraan kejuaraan-kejuaraan uji coba, terutama 10 cabang olahraga yang direkomendasikan OCA.

10 cabang yang akan menggelar kejuaraan uji coba pada Februari 2018 itu adalah angkat besi, atletik, bola basket, bola voli, bulu tangkis, pencak silat, sepak bola, taekwondo, tinju, dan voli indoor.

Indonesia telah menggelar dua kejuaraan uji coba pada Juli hingga awal Agustus yaitu cabang triatlon di Palembang pada Juli dan cabang paralayang di kawasan Puncak, Bogor, pada awal Agustus. Indonesia akan menggelar kejuaraan uji coba untuk cabang netball di kawasan Cibubur, Jakarta Timur pada pekan keempat Agustus 2017.

Wakil Deputi I Bidang Olahraga INASGOC Djoko Pramono mengatakan Indonesia akan menggelar kejuaraan uji coba Asian Games, termasuk cabang rugby. "Pada Oktober, kami akan banyak menggelar kejuaraan uji coba baik di Jakarta, maupun Palembang," kata Djoko Pramono.

Keseriusan Indonesia untuk menggelar Asian Games sebagaimana telah diwujudkan dalam acara penghitungan mundur juga tampak dari persiapan pendaftaran 20 ribu sukarelawan. Pendaftaran sukarelawan Asian Games 2018 melalui jaringan Internet akan dimulai pada awal September 2017.

Deputi II Bidang Administrasi Pertandingan INASGOC Francis Wanandi mengatakan pendaftaran 20 ribu sukarelawan itu akan terbuka baik bagi warga negara Indonesia maupun warga negara asing yang berusia minimal 16 tahun.

Para sukarelawan itu akan ditempatkan dalam beragam posisi. Sebagian dari mereka akan mulai bekerja dalam ajang kejuaraan uji coba Asian Games pada awal Februari 2018.

Sementara terkait tenanga sukarelawan asing, Francis menuturkan bahwa keahlian mereka diperlukan terutama untuk berkomunikasi dengan para atlet serta ofisial yang berasal dari 44 negara lain, selain Indonesia, yang tidak semuanya bisa berbahasa Inggris.

Di samping panitia penyelenggara Asian Games ke-18 yang harus menghadapi berbagai tantangan persiapan pelaksanaan, masyarakat Indonesia juga juga harus mempersiapkan diri sebagai tuan rumah agar Tanah Air kembali sukses sebagaimana Asian Games 1962.

Persiapan bagi masyarakat Indonesia antara lain sikap sportif dan kemampuan berbahasa untuk menyabut tamu-tamu dari negara-negara lain Asia baik atlet, ofisial, maupun para suporter.

Dengan persiapan pemerintah, panitia penyelenggaran, serta dukungan dari perusahaan-perusahaan nasional serta masyarkaat, Indonesia akan mampu menampilkan diri sebagai negara besar yang layak menjadi tuan rumah kejuaraan-kejuaraan olahraga tingkat dunia.

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga