Selasa, 26 September 2017

Multimedia perekat persahabatan jurnalis negara Pasifik

| 6.354 Views
Multimedia perekat persahabatan jurnalis negara Pasifik
Program pelatihan bertajuk "Multimedia Training Course for Pacific Countries" pada 9-19 Agustus 2017. (ANTARA News/Roy Rosa Bachtiar)
Direktorat Kerja Sama Teknik Kementerian Luar Negeri bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Multi Media Yogyakarta menyelanggarakan program pelatihan bertajuk "Multimedia Training Course for Pacific Countries" pada 9-19 Agustus 2017.

Kegiatan tersebut diikuti 15 peserta dari negara-negara di kawasan Pasifik, antara lain Timor Leste dan Fiji, masing-masing tiga orang, Papua Nugini dan Nauru, masing-masing dua orang, Kepulauan Solomon satu orang, dan Indonesia empat orang.

Pelaksana Tugas Kepala STMM Yogyakarta Gati Gayatri menilai bahwa kegiatan pelatihan itu menambah pengetahuan dan kemampuan para peserta di bidang multimedia.

Hal itu dia sampaikan mengingat selama 10 hari masa pelatihan, semua peserta mendapat materi dalam bidang penulisan berita, pengoperasian kamera, dan penyuntingan non-linear.

Namun lebih dari itu, selama pelatihan, para peserta juga mampu menjalin persahabatan dan rasa persaudaraan dengan para jurnalis dari negara lain melalui pertukaran informasi, pengalaman, dan pengetahuan di bidang teknologi informasi.

Hal senada pun diungkapkan Michael Moia, salah satu peserta pelatihan yang bekerja di "National Broadcasting Corporation" (NBC) Papua Nugini.

Pria kelahiran 1966 yang menjabat sebagai Produser Eksekutif Radio itu, mengaku mendapat pengalaman yang bermanfaat selama mengikuti program pelatihan tersebut.

Bertemu dengan rekan seprofesi dari negara lain hingga mempelajari teknik produksi berita audio-visual menjadi suatu hal yang menarik meski sempat mengalami kesulitan.

Bagi Mike, sapaan akrabnya, yang terbiasa dengan penyiaran radio, mempelajari teknik pengambilan dan penyuntingan gambar adalah pengetahuan baru yang berguna bagi kariernya.

"Selain itu, dengan berkenalan dan menjalin hubungan dengan para jurnalis dari kawasan Pasifik juga membantunya untuk mengetahui lebih dalam tentang isu dan perkembangan di kawasan ini," tutur Mike yang menjadi peserta paling senior tersebut.

Pengalaman positif dari pelatihan juga didapatkan oleh Julio da Costa Monteiro yang berasal dari Timor Leste.

Ketika masuk ke dalam kelas pelatihan, pria yang menjabat sebagai kameramen dan penyunting video ini, mengaku takjub dengan peralatan dan perlengkapan yang dimiliki STMM.

Dari pelatihan ini, Julio merasa kapasitas dan kemampuannya mengalami peningkatan signifikan setelah mempelajari fungsi dan teknik operasional sejumlah peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan produk jurnalistik berbasis multimedia.


Produk Indonesia



Bagi sejumlah peserta, program pelatihan tersebut tidak hanya memberikan pengalaman di bidang teknik multimedia, namun lebih dari itu.

Sikap terbuka dan kehangatan warga Indonesia menjadi alasan kuat para peserta betah dan nyaman selama mengikuti proses pendidikan.

Kimmy-Dyke Dabwido, peserta jurnalis dari Nauru, mengungkapkan kesedihannya kala harus berpisah dengan para peserta saat proses penutupan.

Bagi peserta berusia 25 tahun itu, keramahan warga Indonesia telah membuatnya merasa seperti berada di rumah sendiri.

Kedatangannya ke Indonesia, khususnya di Yogyakarta, merupakan pengalaman pertamanya. Namun, ia tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa warga lokal ramah dan tidak segan memberikan pertolongan.

Pria yang juga telah berkunjung ke sejumlah negara di Asia ini pun menilai sikap warga Indonesia jauh berbeda dengan negara-negara yan pernah ia kunjungi.

Kimmy pun menceritakan hal yang menarik saat datang ke Indonesia, di mana ia kaget saat mengetahui bahwa produk mi instan "Indomie" berasal dari negara ini.

Selama ini, ia dan banyak warga Nauru mengira mi instan tersebut berasal dari Kepulauan Solomon yang juga berada di kawasan Pasifik.

Meski di Nauru hanya ada varian "Mie Goreng", namun Kimmy menceritakan produk tersebut terkenal di negaranya dan dijual dengan harga sekitar Rp50.000 per bungkus.

Keramahan dan kejujuran warga Yogyakarta juga menjadi perhatian salah seorang peserta dari Fiji, yaitu Stab.

Dia menuturkan kekagumannya pada para penjual barang dan oleh-oleh saat berkunjung ke kawasan Malioboro.

Menurut perempuan bernama lengkap Savaira Cakau Tabua ini, harga yang ditawarkan para penjual di sepanjang Jalan Malioboro kompetitif dan sebanding dengan kualitas yang dimiliki.

"Bahkan, beberapa pedagang yang dia sambangi pun tidak sungkan untuk melakukan proses tawar-menawar," tutur Stab.

Yakin dengan kejujuran para pedagang, jurnalis multimedia ini pun tidak segan merogoh kocek dalam jumlah besar hanya untuk membeli oleh-oleh bagi keluarganya di Fiji.


Perkuat Komunikasi

Meski program pelatihan telah usai, para peserta berkomitmen untuk tetap menjaga hubungan kekerabatan melalui komunikasi, baik bertukar kabar pribadi maupun informasi terkini dari negara masing-masing.

Douglas Kemerdeck Marau yang merupakan satu-satunya peserta dari Kepulauan Solomon, mengaku optimistis pelatihan ini akan berdampak positif bagi hubungan diplomatis mengingat telah terciptanya jalur komunikasi langsung pewarta antarnegara.

"Dengan tersedianya media sosial maupun aplikasi pesan singkat pada telepon pintar, penyebaran informasi pun bisa berlangsung dengan cepat meski terpisah jarak ribuan kilometer," kata Douglas.



Penguatan komunikasi di negara-negara Pasifik memang menjadi salah satu tujuan dari pelaksanaan program pelatihan multimedia ini.

Direktur Kerja Sama Teknik Kementerian Luar Negeri RI Mohammad Syarif Alatas berharap jalinan kerja sama selama pelatihan dapat berlanjut di masa mendatang.

"Hal tersebut sebagai bagian dari jejaring kerja sama sesama awak media dalam melakukan pertukaran berita dan informasi," tuturnya.

Syarif pun menjelaskan bahwa Pemerintah Indonesia akan berusaha memenuhi komitmennya untuk memberikan pelatihan dan peningkatan kualitas, serta bekerja sama dalam pembangunan di bidang multimedia dengan negara-negara Pasifik.

Diharapkan melalui pelatihan ini, para peserta dapat saling berbagi ilmu dan pengalaman di bidang multimedia sebagai bekal dalam mengantisipasi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang kian cepat.

"Kapasitas dalam penggunaan multimedia juga diharapkan dapat menciptakan situasi yang kondusif dalam pembangunan," katanya. 



(T.R029/B/M029/M029) 21-08-2017 18:34:37

Editor: Monalisa

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga