Selasa, 26 September 2017

Azyumardi Azra, radikalisme, dan Perppu Ormas

| 3.032 Views
Azyumardi Azra, radikalisme, dan Perppu Ormas
Demo Menolak Perppu Ormas di kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (16/8/2017).(ANTARA/Makna Zaezar)
Jakarta (ANTARA News) - Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra mengatakan cara untuk menangkal munculnya radikalisme harus dimulai dari keluarga.

"Tanggung jawab kita semua, dimulai dari keluarga untuk menghormati perbedaan agama hingga budaya yang sangat majemuk," kata Azyumardi Azra usai menerima LIPI Sarwono Award di Jakarta, Rabu.

Indonesia, ia mengatakan paling kaya dari berbagai sudut, sehingga wajar jika menyebut bahwa bangsa ini mendapat berkah dari keberagaman. Namun tidak selesai di situ karena perlu ditumbuhkan rasa keberagaman mulai dari keluarga, ke sekolah, hingga dalam masyarakat.

Menurut peraih The Commander of the Order of British Empire dari Ratu Elizabeth II ini, ada pengaruh di Indonesia dengan adanya pemahaman literasi internasional. Sehingga perlu mengembangkan paham agama dan kepercayaan yang toleran karena tidak ada paham monolistik.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa lembaga keagamaan juga penting untuk melindungi masyarakat dari paham internasional yang merugikan.

"Kita bersyukur bahwa Pemerintah tegas dengan mengeluarkan Perppu Ormas karena dari sudut pandang hukum memang perlu ketegasan, sedangkan dari sisi perundang-undangan ini untuk mengarisbawahi mana yang boleh dan mana yang tidak, apalagi jika paham tersebut tidak menerima NKRI," ujar dia.

Menurut dia, walau keluarnya Perppu ini terlambat namun itu lebih baik dari pada tidak sama sekali. Perppu ini seharusnya keluar pada pemerintahan Presiden-Presiden sebelumnya.

Sedangkan menyangkut perguruan tinggi, menurut dia, terutama untuk bidang ilmu pasti para mahasiswa harus diberikan sentuhan ilmu humaniora, termasuk ilmu umum soal agama. Ini karena banyak mahasiswa jurusan IPA yang cara berpikirnya hitam-putih, sehingga justru dari mereka banyak yang terseret paham radikal.

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga