Selasa, 26 September 2017

Sabak dari Babylonia timbulkan spekulasi penemu trigonometri

| 5.689 Views
Jakarta (ANTARA News) - Batu sabak kuno yang dikenal sebagai Plimpton 322 mengklaim bahwa bangsa Babylonia mungkin saja mengembangkan rumus trigonometri lanjutan, jauh sebelum ahli matematika Yunani.

Teori itu dicetuskan oleh dua pakar matematika dari University of New South Wales, Daniel F. Mansfield dan Norman Wildberger, dalam studi yang dimuat di junal Historia Mathematica.

Mereka mengklaim, seperti ditulis laman The Verge, sabak itu menunjukkan rumus matematika yang kompleks, namun, masih butuh kajian tambahan.

Batu sabak itu berukuran 5 x 3 inci, berasal dari tahun sekitar 1822-1762 Sebelum Masehi.

Artefak ditemukan oleh arkeolog Amerika, yang juga seorang diplomat, Edgar Banks, di Larsa (kini menjadi Irak selatan) pada awal 1920an.

Banks menjual sabak itu ke penerbit New York, George Arthur Plimpton, yang mewariskannya beserta koleksi lainnya ke Colombia University.

Tablet itu berisi empat kolom dan 15 baris tulisan angka berbentuk runcing, yang sesuai dengan teorema Pythagoras, hubungan antara tiga sisi segitiga sama kaki.

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan menganggap artefak itu sebagai bukti penggunaan trigonometri, sementara yang lainnya melihat kemungkinan peninggalan latihan soal matematika yang diberikan guru.

Mansfield dan Wildberger menyatakan bila interpretasi mereka benar, Plimpton 322 bukan hanya tabel trigonometri tertua, tapi, juga satu-satunya tabel trigonometri paling akurat di dunia.

Mereka memberi catatan, bentuk trigonometri dalam artefak itu berbeda dengan yang sekarang digunakan, tidak menggunakan sudut atau perkiraan karena sistem basis 60 dalam bentuk lama itu dapat menggunakan semua angka, bertujuan untuk membangun ladang, kanal atau bangunan.

Teori tersebut tentu mendapat kritik. Sejarawan dari Humboldt University di Berlin, Jerman, Mathieu Ossendrijver menilai belum ada bukti bangsa Babylonia menggunakan penghitungan dalam artefak untuk membuat bangunan.

Sejarawan matematika dari National Center for Scientific Research di Paris, Prancis, Christine Proust, gagasan itu masuk akal, namun, sangat spekulatif.

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar Pembaca
Baca Juga