Kamis, 19 Oktober 2017

Kiat tangkal berita hoax ala Bayu Oktara

| 6.783 Views
Kiat tangkal berita hoax ala Bayu Oktara
Penyiar radio Bayu Oktara berbicara tentang berita hoax di Jakarta, Sabtu. (ANTARA News/ Sella Panduarsa Gareta)
Jadi, saring sebelum sharing"

Jakarta (ANTARA News) - Penyiar radio dan aktor Bayu Oktara memiliki kiat tersendiri untuk menangkal informasi yang tidak jelas kebenarannya atau yang biasa disebut hoax.


"Pertama, jangan langsung percaya terhadap informasi, baik berita atau foto yang kita terima," tegas pria kelahiran Jakarta, 1 Oktober 1978 di Jakarta, Sabtu.


Bayu mengatakan, ketika mendapatkan sebuah informasi, seseorang perlu mengecek beberapa hal, di antaranya sumber informasi, nama penulis informasi dan tanggal informasi tersebut dibuat.


"Saya juga biasa mengecek informasi tersebut di media yang biasa saya percaya. Ada tidak informasi itu di media," sambung Bayu.


Selain itu, ayah tiga orang putri ini biasa menggunakan berbagai aplikasi maupun situs-situs untuk mengecek kebenaran sebuah informasi maupun foto.


Menurutnya, beberapa situs yang dapat digunakan antara lain turnbackhoax.id, aplikasi analyzer atau dewanpers.or.id untuk mengecek kredibilitas media yang menyebarkan informasi.


Pada kesempatan sama, Bayu juga menyampaikan beberapa ciri berita hoax yang dapat digunakan untuk mengecek kebenaran sebuah informasi.


"Ciri pertama itu informasinya menggugah perasaan secara secara berlebihan. Jadi, kalau langsung melibatkan perasaan kasihan atau iba, itu perlu dipertanyakan," kata Bayu.


Kemudian, informasi tersebut bersifat provokatif yang diikuti dengan kata "sebarkan" atau "lawan" dan tidak mencantumkan sumber yang jelas.


Selanjutnya, informasi hoax biasanya diskriminatif atau ada pihak yang dipojokan dan ada pihak yang diuntungkan dari tersebarnya informasi tersebut.


"Terakhir, menebarkan kebencian, permusuhan, penghakiman dan penghukuman," tukas Bayu.


Untuk itu, Bayu berpesan agar setiap orang perlu menyaring berbagai informasi yang diterima sebelum menyebarkannya ke media sosial maupun jaringan media atau media network.


"Jadi, saring sebelum sharing," pungkasnya.


Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga