Senin, 23 Oktober 2017

Konya, Rumi, janganlah menangis... (catatan perjalanan)

| 5.001 Views
Konya, Rumi, janganlah menangis... (catatan perjalanan)
(foto : Asro Kamal Rokan)
Konya disebut juga dengan nama Koniah. Pada masa Romawi dinamai Ikonium. Kota ini diperkirakan sudah dihuni sejak Zaman Perunggu (sekitar 3000 Sebelum Masehi). 

Kota ini berpidah-pindah kekuasaan: dari satu kekaisaran ke kekaisaran lain.

Pada masa Kerajaan Anatolia, abad ke-8 SM, Ikonium diserang Cimmeria, kemudian dikuasai Kekaisaran Persia (Kekaisaran Akhemeniyah). Pada 333 SM, Alexander the Great (Alexander Agung) berkuasa atas kota ini. 

Ketika Alexander meninggal dan kerajaan yang dikuasainya terpecah, Konya selanjutnya dikuasai Kekaisaran Romawi (Kaisar Claudius). Berikutnya, Konya diambilalih Kekaisaran Bizantium, dan Khalifah Ummayah-Abbasiyah. Kini, menjadi salah satu provinsi Turki.

Paulus dan Bernabas -- seperti yang dikutip dari wikipedia -- pada sekitar tahun 47-48, mengabarkan Injil ke kota ini, dalam perjalanan misi pertama mereka. 

****
Konya memiliki sejarah panjang. Tapi bagi banyak kalangan, penyebutan Konya lebih diingat sebagai kota tempat Maulana Jalaluddin Rumi (Jalal ad-Din Muhammad Rumi), seorang sufi terkemuka. Syair-syairnya digemari didiskusikan seluruh dunia, hingga kini, 744 tahun setelah wafat.

Rumi tidak lahir di Konya. Penyair sufi yang menulis sekitar 34.662 bait puisi dalam bentuk ghazal (diwan), rubai, dan mathnawi ini lahir di Balkh (kini Afganistan) pada 30 September 1207. 

Ayahnya keturunan Abu Bakar. Saat berusia 3 tahun, Rumi dan keluarganya, dibawa ayahnya, Bahauddin Walad, menyelamatkan diri dari serangan tentara Mongol. 

Mereka pergi ke Mekkah, kemudian pindah ke Damaskus, Suriah, menetap dan wafat di Konya, Turki, 16 Disember 1273.

Pertemuannya dengan Syamsuddin Tabriz, guru ilmu tasawuf, semakin mendewasakan Rumi muda, meski ada yang tidak menyukai kedekatan itu. Dalam beberapa syairnya, Rumi menyebut nama Syamsuddin Tabriz (Shamsi Tabriz). 

Syair-syair Rumi menekankan pada cinta, penyatuan diri, dan dia mengkritik filsafat yang mengkultuskan akal. Dalam kumpulan syairnya yang sangat terkenal, Al-Matsnawi al Maknawi, soal keutamaan cinta daripada akal, sangat jelas terbaca dari cuplikan syairnya berjudul Jalan Cinta yang Utama, yang sangat menyentuh.

Pencinta yang faqir memiliki penglihatan hati penuh pesona
Orang yang hanya mengandailkan pada akal, hatinya gelap, semua disangkalnya
Akal berkata, “ Janganlah kakimu dijejakkan di situ,  
di halaman istana hanya duri yang tumbuh!”
Cinta berkata, “Duri-duri ini semuanya milik akal yang bersarang dalam dirimu!”

Waspadalah dan diam, buanglah duri kehidupan dari telapak kaki!
Supaya kau mendapat pelindung di dalam dirimu.
Shamsi Tabriz! Kaulah matahari dalam awan kata-kata;
Apabila matahari terbit, maka setiap kata pun sirna!

Prof Dr Annemarie Schimmel (1922-2003), peneliti Jerman, yang inten selama sekitar 40 tahun mengkaji, mendalami, menerjemahkan karya Rumi, menilai kekuatan Rumi adalah cinta yang didasarkan pada Tuhan. 

Setiap do'a Rumi dalam syair-syairnya, menurut Schimmel, ada rahmat Ilahi. Rumi membuka sendiri rahmat Ilahi itu. Dari situ, Rumi menemukan pemecahan bagi teka-teki takdir. 

Cinta adalah lautan tak bertepi
langit hanyalah serpihan buih belaka.
Ketahuilah langit berputar karena gelombang Cinta
Andai tak ada Cinta, Dunia akan membeku.
Bila bukan karena Cinta,
Bagaimana sesuatu yang organik berubah menjadi tumbuhan?
(Bagian dari syair Cinta: Lautan tak Bertepi)
Simak pula cuplikan, "Dukacita Kematian," ini:

Bagaimana buih dapat melayang tanpa ombak? 
Bagaimana debu terbang ke puncak tanpa angin?
Bila kaulihat debu, lihatlah pula Sang Angin; bila kau lihat buih, lihat pula Sang Samudra Tenaga Penciptan.
Mari, perhatikanlah, karena pernglihatan batinlah satu-satunya yang paling berguna dalam dirimu: selebihnya adalah keping-keping lemak dan daging, pakaian dan pembungkus (tulang dan nadi).
Leburkanlah seluruh tubuhmu ke dalam Penglihatan Batin: lihat, lihat, lihatlah!
Sekilas hanya sampai pada satu dua depa jalan; pandangan cermat akan alam duniawi dan spiritual menyampaikan kita pada Wajah Sang Raja.

****
Konya berarti Rumi. Ratusan orang setiap hari berziarah ke sini, dari berbagai enuuru dunia. Dari Antalya, menyaksikan peninggalan Romawi, Teater Aspendos,  menuju Ankara, kami ziarah ke Makam Rumi di Konya, Mei 2012. Kompleks pemakaman, yang disebut dengan nama Mevlana Müzesi, ini sekaligus sebagai museum Rumi 
Kawasan museum yang luas ini ditandai dengan bangunan seperti masjid berkubah warna hijau. 

Di bawah kubah itulah sarkofagus (makam) Rumi dan beberapa orang lainnya, termasuk ayahnya, Bahauddin Walad (Baha 'ud-Din Walad). Makam ditutupi brokat bersulam emas dengan ayat-ayat Alquran. Ini hadiah sultan Abdul Hamid II pada 1894. 

Memasuki ruang ini, pengunjung diharuskan membungkus sepatunya dengan plastik yang disediakan. Berbagai ukiran terlihat di museum ini, termasuk kayu dari abad ke-12 dari Dinasti Seljuk. 

Museum ini dahulu merupakan kediaman Rumi dan tempatnya mengajarkan ilmu-ilmu agama, thasawuf, dan tarian sufi. Di depan makam dekat pintu masuk, ada kolam tempat mengambil wudhu. Ada juga beberapa kamar dan dapur. Kamar ini temat para darwis belajar sufi belajar. 

Di museum ini, pengunjung dapat melihat semacam diorama penari sufi (sema), alat-alat musik, yang pernah dimainkan Rumi, antara lain biola kecil dengan tiga senar, biola yang lebih besar, semacam rebana), rebab, gitar, dan pakaian Rumi. Koleksi puisi lirik Rumi, yang langka, Divan-i-Kebir, yang ditulis tahun 1278 dan 1371, dapat dilihat di museum ini. 

Di  halaman museum, ada masjid dan toko-toko souvenir yang menjual pernak-pernik, di antaranya topi penari sema dan piring-piring hiasan. Setelah sholat, saya  mampir dan mencoba topi dan memggerakkan tangan seperti penari sufi.

Saya beruntung sampai di sini, ziarah ke makam penyair sufi terbesar, yang syair-syairnya sering saya baca, renungkan. Konya menjadi tempat yang berarti, meski hanya sebentar. Rumi -- seperti yang dikutip dalam buku Annemarie Schimmel, Akulah Angin Engkaulah Api - Hidup dan Karya Jalaluddin Rumi, --- seakan melambaikan tangannya, dalam syairnya ini:

Mari ke rumahku, Kekasih –sebentar saja!
Gelorakan jiwa kita, Kekasih –sebentar saja!
Dari Konya pancarkan cahaya Cinta
Ke Samarkand dan Bukhara –sebentar saja!

Tapi kami harus pergi ke Cappadocia -- kota di bawah tanah. Bus kami bergerak pelan keluar dari Mevlana Muzesi. Syair Rumi seperti bernyanyi, bersama semakin mengecilnya kubah hijau yang sebelumnya menjulang tinggi:
Jangan menangis: “Aduhai kenapa pergi!”
Dalam pemakamanku
Bagiku, inilah bahagia!
Jangan katakan, “Selamat tinggal”
Ketika aku dimasukkan ke liang lahat
Itu adalah tirai rahmat yang abadi

Kami pergi meninggalkan Rumi, tanpa ucapan "Selamat tinggal..." 
Jakarta, 20 September 2012

*) Penulis adalah wartawan senior, mantan Pemimpin Umum LKBN Antara (2005-2007)


Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar Pembaca
Baca Juga