Jakarta (ANTARA News) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu pagi, bergerak menguat menjadi Rp13.349 dibandingkan sebelumnya Rp13.374 per dolar Amerika Serikat (AS).

"Nilai tukar rupiah menguat, kondisi ekonomi domestik yang cukup stabil menjadi salah satu faktor yang menopang," analis Binaartha Sekuritas Reza Priyabada di Jakarta.

Ia mengemukakan bahwa Bank Pembangunan Asia (ADB) memproyeksikan ekonomi Indonesia masih mengalami penguatan dan berpotensi tumbuh sebesar 5,1 persen pada 2017 serta 5,3 persen pada 2018.

Kendati demikian, lanjut dia, apresiasi rupiah terhadap dolar AS relatif masih terbatas di tengah iklim geopolitik yang terjadi di kawasan Asia. Kondisi itu dapat membatasi minat terhadap aset-aset di negara berkembang, seperti Indonesia.

"Kondisi eksternal yang relatif kurang kondusif itu membuat sebagian pelaku pasar berhati-hati terhadap aset negara berkembang," tuturnya.

Sementara itu, Analis PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong mengatakan bahwa harga minyak mentah dunia yang nisbi stabil di level 50 dolar AS per barel masih menjaga fluktuasi mata uang berbasis komoditas, seperti rupiah di area positif.

Terpantau harga minyak jenis WTI Crude menguat 0,50 persen menjadi 52,14 dolar AS per barel, dan Brent Crude naik 0,34 persen menjadi 58,64 dolar AS per barel.

Di sisi lain, lanjut dia, kemungkinan Bank Indonesia juga berada di pasar untuk menjaga rupiah di tengah kondisi eksternal yang cenderung negatif, dengan begitu fluktuasi mata uang domestik tetap stabil.

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2017