Sabtu, 21 Oktober 2017

Indonesia agar punya navigasi mitigasi bencana

| 6.881 Views
Indonesia agar punya navigasi mitigasi bencana
Dokumentasi warga mengamati lokasi tanah yang amblas akibat bencana tanah bergerak di Dusun Delik, Candigaron, Sumowono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (2/3/2017). Bencana yang menyebabkan amblasnya tanah sepanjang ratusan meter dengan kedalaman 1,5 meter hingga 2 meter tersebut menyebabkan satu rumah roboh, empat rumah rusak, dan dikhawatirkan mengancam permukiman yang dihuni 400 kepala keluarga (KK). (ANTARA FOTO/Aditya Putra)
Jakarta (ANTARA News) - Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, mengatakan, sebaiknya Indonesia segera memiliki sistem navigasi satelit sendiri laiknya Global Positioning System (GPS) Google Maps guna kepentingan mitigasi bencana.

"Ini nanti bukan hanya untuk navigasi dan penentuan posisi saja sesuai makna harfiahnya GNSS. Tetapi merambah ke aspek mitigasi bencana juga," kata dia, di sela 9th Multi-GNSS Asia (MGA) Conference, di Jakarta, Senin.

Menurut dia, sistem navigasi sateleit yang jamak adalah jenis GPS yang dikembangkan Amerika Serikat. Kendati begitu, GPS merupakan salah satu bagian dari Sistem Satelit Navigasi Global atau Global Navigation Satellite System (GNSS).

Dia mengatakan terdapat GNSS dari negara lain seperti Glonass yang dikembangkan Rusia, Galileo (Eropa), Baidu (China), Quasi-Zenith Satellite System/QZSS (Jepang) dan Indian Regional Navigation Satellite System/IRNSS (India).

Menambahkan, Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG), Hasanuddin Z Abidin, mengatakan, terdapat keuntungan apabila Indonesia memiliki sistem navigasi satelit sendiri. Dengan sistem sendiri, maka keakuratan pemetaan dapat diupayakan presisi seperti potensi kekayaan alam suatu tempat sesuai kebutuhan dalam negeri.

Dia mencontohkan Google Maps yang banyak digunakan oleh pengguna telepon seluler di Indonesia memang sudah mencukupi kebutuhan. Akan tetapi, untuk hal-hal tertentu Google Maps belum menyajikan data-data sesuai kebutuhan dalam negeri.

"Dengan sistem sendiri tentu lebih akurat dan teliti. Google Maps yang berbasis GPS itu memiliki ketelitian 3-5 meter. Kalau untuk kebutuhan sehari-hari oke, tapi kalau untuk penelitian tidak cukup," kata dia.

Apabila Indonesia sudah memiliki sistem navigasi satelit sendiri, kata dia, maka beberapa keuntungan dapat didapat seperti pemetaan dan survei pemantauan lingkungan, efisiensi transportasi, mitigasi bencana, peningkatan ekonomi, manajemen sumber daya alam dan pertanian, tanggap darurat, peringatan dini, penerbangan, maritim dan hal lainnya yang masih terkait.

Saat ini, dia mengatakan Indonesia terus berupaya mengembangkan sistem navigasi satelit sendiri sehingga bisa dimanfaatkan. Jika sistem navigasi buatan dalam negeri sudah rampung dibuat nantinya akan dipadukan dengan GNSS dari berbagai negara.

"Kalau gunakan banyak maka semakin teliti. Multi-GNSS itu lebih andal. Ada kawasan sinyal GPS kena blok di suatu gedung maka kita bisa pakai sinyal Baidu atau sistem peta lainnya," kata dia.

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga