Milan (ANTARA News) - Italia menghadapi playoff Piala Dunia bulan depan dengan rasa was-was setelah penampilan tidak meyakinkan selama putaran kualifikasi zona Eropa.

Meski finis di peringkat kedua di Grup B zona Eropa, Italia merasakan kekalahan di Spanyol, hasil imbang atas Macedonia, dan hanya menang dengan satu gol atas Israel dan Albania ketika mereka tertinggal lima poin dari Spanyol.

Nasib mereka kini akan ditentukan pada playoff dua leg yang berlangsung pada November, yang menimbulkan kecemasan bagaimana jika Italia gagal menembus putaran final untuk pertama kalinya sejak 1958.

Penampilan mereka jauh jika dibandingkan pada Piala Eropa 2016, ketika diasuh Antonio Conte yang menghasilkan intensitas permainan yang luar biasa.

Gian Piero Ventura, pengganti Conte yang jauh lebih tenang, berusaha membangun ulang tim dengan generasi pemain-pemain baru namun menginginkan lebih banyak waktu untuk memadukan banyak hal.

"Jelas sekali bahwa tim Italia ini tidak siap untuk Piala Dunia, namun kami sedang mengupayakannya," tuturnya dilansir Reuters, Selasa (10/10) waktu setempat.

"Kami perlu memperbaikinya dalam latihan namun setiap kali saya memanggil para pemain, saya mendapatkan tiga sampai empat jam bersama mereka."

Cedera-cedera pemain juga ambil bagian, ucapnya, di mana dua gelandang Daniele De Rossi dan Marco Verratti absen dari pertandingan melawan Albania bersama penyerang Andrea Belotti.

Meski demikian, Ventura mengatakan rencana-rencananya berjalan dengan baik sampai kekalahan 0-3 dari Spanyol pada September.

"Itu memukul kami sepuluh langkah ke belakang," ucapnya.

Kritik untuk Ventura

Namun Ventura sendiri tidak bebas kritik. Pria 69 tahun itu merupakan pelatih tertua yang ditunjuk untuk melatih Italia dan menikmati karier panjang yang cukup stabil di level klub meski, terpisah satu musim di Napoli, ia tidak pernah bekerja untuk klub-klub terbesar.

Ia juga memiliki reputasi bagus dalam memotivasi dan membangun pemain-pemain muda dan mampu membangun ulang tim.

Namun sebagai pelatih Italia, ia dikritik atas formasi 4-2-4 yang tidak biasa, yang diterapkan saat melawan Spanyol sebagai langkah berisiko, sedangkan pemilihan anggota timnya juga menimbulkan tanda tanya.

Pemilik Napoli Aurelio De Laurentiis mengatakan melatih timnas adalah tugas tanpa terima kasih dan bahkan Conte pun hanya mampu bertahan selama dua tahun.

"Jangan lupa, Antonio Conte berlari lebih cepat daripada biasanya," ucapnya kepada para pewarta.

"Dengan berkata demikian, saya ingin memberi saran kepada Ventura: tinggalkan 4-2-4, itu merupakan sistem yang tidak dikenal sebagian pemain di skuad dan membuat situasi menjadi lebih rumit daripada yang mereka perlukan."

(H-RF/D011)

Pewarta: -
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2017