Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Perhubungan optimistis hasil audit Organisasi Penerbangan Sipil Internasional atau ICAO mengenai keselamatan penerbangan di Indonesia akan mencapai skor "compliance" mencapai hingga di atas rata-rata dunia sebesar 64,71 persen.

"Sekalipun dalam beberapa tahun terakhir ini skor compliance di bawah rata-rata dunia, tapi kami optimistis tahun ini akan mencapai diatas rata-rata dunia," kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso kepada pers di Jakarta, Rabu.

Hal tersebut disampaikan usai dirinya bersama sejumlah pemangku kepentingan otoritas dan operator penerbangan selesai diaudit oleh ICAO mengenai keselamatan penerbangan di Indonesia. Rencananya hasil audit ICAO itu akan diumumkan pada Desember 2017.

Dikatakan Agus, ICAO telah beberapa kali melakukan audit keselamatan penerbangan di Indonesia pada beberapa tahun sebelumnya dengan hasil kurang bagus. Pada tahun 2007, hasil audit ICAO hanya compliance 54,95 persen. Tahun 2014, hasil Audit ICAO turun menjadi compliance 45,33 persen, dan pada tahun 2016 hasilnya naik sedikit menjadi 51,41 persen. Skor ini masih di bawah rata-rata dunia dengan passing grade sekitar 64,71 %.

Audit itu sendiri, kata Agus, dilakukan mulai pertengahan Oktober 2017 yang dilakukan secara langsung setelah melakukan audit dokumen pada September 2017.

Dikatakan, sejumlah area yang diaudit oleh ICAO antara lain mencakup pesawat, landasan, navigasi, cuaca, pertolongan saat terjadi kecelakaan. "Regulasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan juga menjadi salah satu area yang diaudit oleh ICAO," katanya.

Dia optimistis akan pencapaian compliance terhadap protokol keselamatan penerbangan Indonesia dan mendapatkan poin penilaian di atas rata-rata dunia.

Keyakinan Agus ini bukan tanpa alasan, mengingat langkah-langkah perbaikan yang sudah dilakukan oleh jajaran Ditjen Perhubungan Udara dari awal tahun 2017 lalu hingga saat ini.

Pada tahap audit dokumen, hingga 10 September 2017 Kementerian Perhubungan sudah berhasil memenuhi 417 (hampir 100 persen) temuan "Protocol Questions" (PQs) yg ada pada tahun sebelumnya.

"Untuk itulah saya optimistis hasil dari on site juga akan tinggi karena apa yang kita laporkan atau offsite sama dengan apa yang kita kerjakan (onsite)," katanya.

Bagi Indonesia, katanya, apabila hasil audit keselamatan penerbangan di Indonesia mencapai lebih 64,71 persen maka akan memberikan keuntungan dan pandangan positif bagi industri penerbangan di mata dunia internasional.

(T.A025/S025)

Pewarta: Ahmad Wijaya
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2017