Kamis, 31 Juli 2014

Indonesia Jajaki Kerjasama Teknologi Alternatif dengan Brazil

Jumat, 24 Agustus 2007 18:08 WIB | 1.679 Views
Jakarta (ANTARA News) - Indonesia akan menjajaki kerjasama di bidang pengembangan energi alternatif dengan Brazil, terutama dalam bidang biofuel etanol.

"Brazil memiliki keunggulan dalam bidang teknologi energi alternatif terutama biofuel etanol, karena selama 30 tahun terakhir, Brazil telah berhasil mengembangkan energi etanol mempergunakan tebu sebagai bahan bakunya," kata juru bicara Departemen Luar negeri (Deplu), Desra Percaya, di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, dari penelitian yang dilakukan oleh organisasi kerjasama pembangunan ekonomi, etanol yang dihasilkan Brasil mampu mengurangi gas pencemaran karbonmonoksida ke udara sebesar 80 persen.

"Sementara itu etanol yang dihasilkan oleh AS dan berbahan baku jagung hanya mampu mengurangi pencemaran karbon monoksida sebesar 20 persen," ujar dia.

Oleh karena itu, sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak, pemerintah RI telah membuat rencana aksi untuk menjadikan energi biofuel sebagai salah satu pasokan energi alternatif dan membuat nota kesepahaman dengan Brasil yang masih dirundingkan.

"Pembicaraan tersebut, dilakukan oleh Menlu Hassan Wirajuda dengan Menlu Brasil pada 22 Agustus 2007 sebelum pertemuan tingkat menteri FEALAC (Forum for East Asia and Latin America Cooperation) ke tiga di Brasil berlangsung," ujar Desra.

Pertemuan bilateral kedua Menlu tersebut, katanya, berlangsung dengan baik dan konstruktif dimana kedua Menlu telah membahas segala aspek dan elemen hubungan bilateral kedua negara khususnya dalam mempercepat realisasi pembentukan komisi bersama RI-Brasil.

"Untuk itu dalam pertemuan itu telah ditandatangani nota kesepahaman pembentukan komisi bersama RI-Brasil. Diharapkan pertemuan itu dapat memfasilitasi dan memperluas kerja sama di berbagai bidang, serta saat ini kedua pihak sedang membahas untuk memutuskan waktu serta tempat berlangsungnya komisi bersama yang akan diselenggarakan kedua negara," kata Desra.

Pertemuan FEALAC ke tiga itu, tambahnya, dihadiri 33 menteri dari Asia Timur dan Amerika Latin yang bertujuan mengukuhkan jembatan dialog dan kerjasama diantara negara-negara tersebut. (*)

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © 2007

Komentar Pembaca