Polda Papua Turunkan 1 SSK Brimob Amankan Konflik di Tembagapura

Rabu, 24 Oktober 2007 05:27 WIB | 3254 Views

Timika, Papua (ANTARA News) - Polda Papua telah mengirimkan satu SSK (Satuan Setingkat Kompi) pasukan Brimob dari Detazemen B Mimika ke Tembagapura untuk mengatasi konflik antarsuku yang terjadi sejak Senin (15/10) pekan lalu.

Menurut Kapolres Mimika AKBP GC Mansnembra yang dihubungi dari Timika, Selasa kemarin, pengiriman 100 personil Brimob itu untuk memperkuat satuan pengamanan yang telah dikirim sebelumnya yakni dari Pengendali Massa (Dalmas), Satgas Amole III, Polsek setempat, serta dari Koramil Tembagapura.

Mansnembra mengungkapkan, pihak kepolisian tetap mengupayakan penyelesaian konflik antara masyarakat Banti dengan Kimbeli melalui pendekatan persuasif. Namun, jika kedua belah pihak tetap ngotot untuk terus berperang, maka polisi akan bertindak tegas.

Sejak Sabtu (20/10) aparat telah membangun tenda di perbatasan Kampung Banti dan Kampung Kimbeli guna memudahkan upaya dialog sekaligus pengawasan terhadap masyarakat dari kedua kubu.

Tentang kesiapan pihak TNI untuk membantu pengamanan konflik antarsuku di Tembagapura, Mansnembra mengatakan hal itu telah dikoordinasikan dengan Kepala Staf Kodam Trikora, Brigejen TNI Geerhan Lantara saat kunjungan ke Timika pada Minggu (21/10).

Menurut Mansnembra, bantuan personil TNI akan dibutuhkan jika terjadi peningkatan eskalasi situasi di Tembagapura.

Sejauh ini pihak TNI di Mimika telah menyiagakan 4 SSK prajurit yakni 2 SSK Batalyon Infanteri 754 Eme Neme Kangasi, 1 SSK Kodim 1710 Mimika dan 1 SSK Detazemen Kaveleri.

Sementara itu informasi yang dihimpun ANTARA di Timika, hingga Selasa (23/10) malam masih terjadi konflik lanjutan antara kedua kubu yang bertikai.

Kendati demikian, para tokoh agama, tokoh adat bersama jajaran Muspida Mimika terus melakukan upaya pendekatan kepada kedua kelompok untuk segera mengakhiri konflik.

Menurut informasi yang diterima, salah seorang warga dari Kampung Kimbeli dilaporkan meninggal dunia di Rumah Sakit Tembagapura.

Warga yang identitasnya belum diketahui secara jelas itu meninggal setelah beberapa hari dirawat di RS Tembagapura karena mengalami luka-luka akibat terkena panah.

Konflik antara warga Banti dengan Kimbeli telah menelan korban jiwa sedikitnya tujuh orang yakni tiga warga dari Kampung Banti dan empat orang dari Kampung Kimbeli, sementara korban luka mencapai puluhan orang.(*)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2007

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar

Mendagri pertanyakan kerugian negara akibat proyek e-KTP

Mendagri pertanyakan kerugian negara akibat proyek e-KTPMenteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mempertanyakan jumlah kerugian Negara sebesar Rp1,12 triliun yang menurut Komisi ...

Hasil UN bisa jadi dasar penerimaan siswa baru

Hasil UN bisa jadi dasar penerimaan siswa baruHasil Ujian Nasional (UN) bisa jadi dasar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau dasar ...

Komisi IV bahas perkebunan

Komisi IV bahas perkebunanKomisi IV DPR RI akan memberikan kewenangan kepada Direktorat Jenderal Perkebunan untuk mengelola industri perkebunan ...