Selasa, 2 September 2014

Bank Mandiri Biayai Investasi Petrokimia Rp604 Miliar

Rabu, 14 November 2007 20:16 WIB | 946 Views
Jakarta (ANTARA News) - PT Bank Mandiri Tbk memberikan fasilitas kredit kepada PT Petrokimia Gresik (PKG) sebesar Rp604 miliar untuk membiayai pembangunan empat pabrik baru dalam upaya meningkatkan kapasitas produksinya.

Penandatangan kerjasama fasilitas kredit itu dilaksanakan antara Direktur Utama PT Bank Mandiri, Agus Martowardoyo dan Direktur Utama PT PKG Arifin Tasrif di Jakarta, Rabu.

Agus Martowardoyo mengatakan, perjanjian pinjaman kredit itu untuk mendukung produksi Petrokimia makin besar dan kinerja perusahaan yang membaik.

"Kami optimis pinjaman kredit itu akan dapat digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan usaha serta mendukung misi yang ditugaskan pemerintah," ucapnya.

Dana pinjaman yang diperoleh dari Bank Mandiri, menurut Agus Wartowardoyo, untuk keempat pabrik baru hanya mencapai 70 persen kebutuhan dana yang diperlukan, sedangkan 30 persen lagi berasal dari internal PKG.

Jadi rencana PKG membangun pabrik baru itu disambut baik oleh perseroan, tentunya dengan harapan produksi Petrokimia dapat memenuhi kebutuhan pasar, katanya.

Ia mengatakan, pembiayaan pada proyek konversi energi batubara di industri pupuk ini adalah yang pertama kali di Indonesia. Bank Mandiri memberikan komitmen untuk membantu pembangunan proyek pembangkit tenaga listrik berbasis energi alternatif.

Apalagi hubungan kerjasama ini telah terjalin sejak 1972 dengan menjadi nasabah giro dan menjadi debitur sejak tahun 1994, ucapnya.

Sementara itu Arifin Tasrif mengatakan, hingga 2009 nanti perseroan memiliki sembilan proyek baru diantaranya power plant batubara 25 megawatt dan steamer uap tekanan tinggi berkapasitas 140 ton.

Power Plant baru akan beroperasi pada akhir 2009 atau awal 2010 pembangunan untuk mengantisipasi mahalnya harga minyak mentah, katanya.

Menurut dia, dengan menggunakan batubara, PKG bisa menghemat biaya Rp100 miliar per tahun. Pihaknya terpaksa menggunakan minyak akibat langkanya pasokan gas dalam lima tahun terakhir.

Selain itu, kurangnya pasokan gas menyebabkan produksi urea tidak maksimal. Dari kontrak awal 62 MMSCFD pasokan gas yang diterima hanya 45 juta metrik kaki kubik per hari (MMSFD), katanya.

Pabrik, lanjut dia, produksi pupuknya saat ini masih belum dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik yang terus meningkat untuk mengisi pasar regional/Asia.

Sampai saat ini hampir seluruh negara regional mengimpor pupuk jenis tersebut untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya.

Karena itu kredit investasi tersebut terdiri dari pembiayaan pembangunan pabrik NPK II, III, dan IV dengan total kapasitas 300.000 ton per tahun (masing-masing 100.000 ton per tahun).

Kemudan pembiayaan pembangunan pabrik Diammonium Phosphat I kapasitas 120.000 ton per tahun serta pembiayaan pembangunan Steamer Boiler Batubara 2 x 150 ton Steam per jam pembangkit listrik Tenaga Up 25 MW, demikian Arifin Tasrif.(*)

Editor: Heru

COPYRIGHT © 2007

Komentar Pembaca
Baca Juga