LSM: Perhatikan Kasus Hukum TKI di Arab Saudi

Senin, 14 Januari 2008 14:49 WIB | 1417 Views

Jakarta (ANTARA News) - Lembaga swadaya masyarakat (LSM) Migrant Care mengingatkan berbagai pihak untuk terus memperhatikan dengan seksama sejumlah kasus hukum yang menimpa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi.

"Hingga saat ini, pemerintah Arab Saudi masih belum melakukan tindakan hukum kepada pelaku penganiayaan terhadap empat TKI yang menyebabkan dua di antaranya meninggal dunia dan dua lainnya luka parah," kata Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah di Jakarta, Senin.

Anis mengacu kepada kasus yang menimpa Ruminih asal Pandeglang, Banten, Tari binti Tarsim (Karawang, Jawa Barat), Siti Tarwiyah (Ngawi, Jawa Timur) dan Susmiati (Pati, Jawa Tengah).

Ruminih dan Tari adalah dua dari empat TKI yang terluka parah karena menjadi korban penganiayaan oleh keluarga majikan mereka di Arab Saudi pada awal Agustus 2007.

Sedangkan Siti dan Susmiati meninggal dunia karena penganiayaan yang dilakukan oleh sejumlah anggota keluarga majikan para TKI tersebut.

Alasan penganiayaan tersebut adalah karena keempat TKI itu dituduh telah melakukan praktik sihir kepada salah satu anak dari majikannya.

"Bahkan Tari dan Ruminih malah dipenjara karena dituduh melakukan sihir," kata Anis.

Selain itu, kasus yang terbaru adalah pelaksanaan hukuman mati terhadap Yanti Irianti (Cianjur, Jawa Barat) Jumat (11/1).

Yanti dieksekusi karena diputuskan bersalah oleh Pengadilan Arab Saudi dalam tuduhan pembunuhan terhadap majikannya di wilayah Assier, Arab Saudi, pada Juni 2006. Laporan resmi versi Arab Saudi menyebutkan Yanti membunuh majikannya karena mau mencuri perhiasan.

Sebagaimana dikutip dari BBC Indonesia, eksekusi atas Yanti ini merupakan eksekusi hukuman mati kedua di Arab Saudi dalam tahun 2008. Pada tahun 2007, pemerintah negara tersebut telah melaksanakan hukuman mati terhadap 130 orang.

Di Arab Saudi, ancaman hukuman mati berlaku terhadap pembunuhan, pemerkosaan dan beragam kejahatan serius lainnya.

Keringanan hukuman hanya dimungkinkan jika keluarga korban memberi pengampunan maaf kepada pelaku, sedangkan dalam kasus Yanti, pihak keluarga majikan tidak memaafkan Yanti.(*)

Editor: Heru

COPYRIGHT © 2008

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar

Singkawang miliki sekolah alam

Singkawang miliki sekolah alamPemerintah Kota Singkawang, Kalbar, memiliki satu sekolah negeri yang mengembangkan metode pendidikan dengan berbasis ...

Buku "Di Balik Layar" KAA 1955 diluncurkan

Buku Buku yang mengupas pelaku sejarah pada Konferensi Asia Afrika, "Di Balik Layar" diluncurkan pada rangkaian peringatan ...

Kapolda Jambi: tidak ada pungutan dalam penerimaan polisi

Kapolda Jambi: tidak ada pungutan dalam penerimaan polisiKapolda Jambi Brigjen Pol Satriya Hari Prasetya menegaskan tidak ada pungutan alias gratis dalam proses penerimaan ...