Minggu, 21 September 2014

Internet, Gaya Hidup Baru Masyarakat Jatim

Sabtu, 2 Februari 2008 20:44 WIB | 2.704 Views
Oleh Slamet Hadi Purnomo Surabaya (ANTARA News) - Pencanangan Jawa Timur (Jatim) sebagai electronic-province (e-Province) oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Mohammad Nuh pada 11 Nopember 2007, telah memberikan dampak besar terhadap minat masyarakat setempat pada internet. Bahkan, berinternet telah menjadi gaya hidup baru masyarakat Jatim. Mereka memiliki keinginan yang kuat untuk mengenal dan bisa mengoperasikan komputer berikut cara-cara mengakses internet. "Masyarakat jadi ingin `melek` internet ketimbang dikatakan gagap teknologi atau kurang gaul oleh koleganya," kata Communication Manager Telkom Divre V Jatim, Djadi Soegiarto dalam suatu kesempatan. Fenomena itu tentu memberikan dampak terhadap pemanfaatan internet di masyarakat. Masyarakat pengguna internet di Jatim kini terus tumbuh seiring dengan semakin mudahnya memperoleh layanan tersebut. Selain itu, pemanfaatan layanan kemajuan teknologi informasi itu pun kini berkembang untuk berbagai kebutuhan. Pengguna internet di Jatim yang sebelumnya lebih banyak untuk hiburan (entertainment) seperti "game-online" dan chatting", kini banyak juga yang dimanfaatkan untuk dunia pendidikan dan bisnis. Contohnya, jika kita berkunjung ke "Cafe Telkom" di Tunjungan Plasa Surabaya, maka akan banyak ditemui kalangan profesional muda pengguna komputer jinjing (notebook) memanfaatkan hotspot wi-fi Speedy yang ada di tempat itu untuk urusan bisnis. "Disini cukup nyaman, sambil minum kopi, kita juga bisa bekerja," kata Palvi, seorang eksportir warga Ngagel Wasana Surabaya, yang setiap hari selalu memantau harga kopi Arabika di pasar New York dan kopi Robusta di pasar London melalui internet. Bahkan, menyadari pentingnya layanan internet untuk menunjang aktivitas di era teknologi seperti saat ini, Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jatim secara khusus menggelar pelatihan internet untuk anggotanya. GPEI Jatim bekerjasama dengan Uni Eropa beberapa waktu menggelar pelatihan internet untuk anggotanya yang termasuk kategori Usaha Kecil dan Menengah (UKM). "Di era teknologi informasi saat ini, mengenal internet sudah menjadi keharusan. Kami berharap eksportir dapat memanfaatkan layanan itu secara maksimal untuk mengembangkan produk dan pasar," kata Ketua Umum GPEI Jatim, Isdarmawan Asrikan. Pemandangan serupa tampaknya kini tidak hanya mudah ditemui di kafe berfasilitas hotspot wi-fi, tapi juga di area publik seperti alun-alun kota maupun kabupaten di Jatim. Masyarakat dapat dengan mudah mengakses internet setelah Telkom menggelar layanan hotspot wifi Speedy di kawasan-kawasan tersebut. Peran TI Praktisi Teknologi Informasi (TI), Hendrawan Tejo Sukmono ST, dalam suatu pelatihan untuk pelaku usaha belum lama ini mengakui bahwa teknologi informasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. Berbagai penemuan di bidang teknologi semakin mendorong pesatnya teknologi informasi. Apalagi didukung oleh minat masyarakat untuk berinvestasi di bidang tersebut. Bahkan, media internet sebagai bagian dari kemajuan teknologi informasi, telah menunjukkan peranannya dalam berbagai aspek kehidupan. Keunggulannya bukan hanya terletak pada fungsinya sebagai alat komunikasi melainkan juga sebagai sarana pendidikan, hiburan, dan juga yang dikenal masyarakat akhir-akhir ini adalah sebagai sarana bisnis. Internet sebagai sarana bisnis lebih dikenal dengan nama electronic commerce (e-commerce). E-commerce adalah semua kegiatan usaha oleh perusahaan yang berhubungan dengan promosi, jual beli, penyediaan informasi bagi pelanggan perusahaan melalui perantaraan media elektronik dan jaringan komputer. Teknologi informasi telah banyak mendorong perkembangan ekonomi. Peran itu telah tampak pada perekonomian negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara lain di Eropa. Para pelaku ekonomi dunia, para analis bisnis, para ahli ekonomi agaknya telah sepakat, sekarang ini sedang terjadi pergeseran perekonomian yang tidak terelakkan ke arah ekonomi yang lebih berbasis digital dan internet. Namun, Tejo sangat menyayangkan jika hanya karena alasan orang lain juga sudah memanfaatkan jaringan internet, pelaku usaha di Indonesia masuk ke jaringan internet dan membuka website dengan pemikiran sederhana, supaya tidak ketinggalan jaman. Akibatnya, perdaganan dan bisnis yang ada di internet sekarang hanya mendigitalisasikan isi perusahaan di jaringan internet, belum memberikan nilai tambah sama sekali. Akselerasi Terlepas dari masalah itu, karena animo masyarakat yang terus tumbuh dan berkembang, Telkom sebagai penyedia jasa layanan telekomunikasi, berusaha dapat menyiapkan akses layanan internet secara memadai. Telkom selama ini memiliki tiga jenis layanan internet yakni AstiNet, TelkomNet Instan dan Speedy. Layanan tersebut selama ini sudah banyak dimanfaatkan masyarakat. Namun, guna mengakselerasi tercapainya Jatim e-Province, Telkom Jatim terus membangun akses internet "hotspot wi-fi" di sejumlah lokasi. Sudah ada 338 lokasi di Jatim yang kini memiliki akses internet "wi-fi" menggunakan Speedy. Pada 2008 Telkom Jatim akan menambah menjadi 1.000 titik. Dari 338 lokasi tersebut, menurut Communication Manager Telkom Divre V Jatim, Djadi Soegiarto, alun-alun Malang, Ngawi, dan Tulungagung menggunakan "bandwidth" paling besar, sekitar 20 Gigabyte sebulan. Sedangkan untuk kalangan akademik, area paling besar adalah Universitas Brawijaya Malang, dan Pasaraya Sri Ratu Madiun untuk area publik. Sementara itu, untuk mempercepat proses pembelajaran, Telkom juga sudah membangun lebih dari 25 laboratorium "Broadband Learning Center" (BLC) di beberapa kota di Jatim. Jumlah itu akan terus ditambah lagi pada 2008. Di BLC masyarakat bisa belajar internet gratis. Telkom memberi pelatihan dua kali sehari. Rata-rata ada 600 peserta per bulan yang memanfaatkan masing-masing BLC. Sementara itu, sebagai bentuk komitmen Telkom membangun Indonesia cerdas melalui internet, pada 2008 Telkom Jatim meluncurkan tarif internet murah. Tarif TelkomNet Instan yang sebelumnya Rp9.900 per jam diturunkan hingga sekitar Rp2.000 per jam. Paket murah TelkomNet Instan yang diluncurkan Telkom Jatim awal tahun 2008 itu tampaknya telah direspon positif masyarakat. Buktinya, sejak diluncurkan hingga kini okupansi jaringan TelkomNet meningkat dari 20 persen menjadi 30 persen. Okupansi jaringan TelkomNet Instan tersebut masih rendah jika dibandingkan kapasitas yang tersedia, yakni baru sekitar 20 persennya. Karena itu, program paket murah TelkomNet Instan diharapkan dapat terus meningkatkan okupansi jaringan TelkomNet. Dua paket hemat TelkomNet Instan yang ditawarkan Telkom adalah paket limited dan un-limited. Program tarif murah TelkomNet Instan itu berlaku hingga 31 Maret 2008. Layanan paket limited, biaya langganan sebesar Rp50.000 per bulan, kuota 25 jam, biaya kelebihan kuota Rp50 per menit dan tagihan maksimum Rp400.000 per bulan (termasuk biaya langganan). Sedangkan layanan paket un-limited, biaya langganan Rp300.000, dan kuota tanpa batas penggunaan. Selain peningkatan okupansi jaringan, durasi rata-rata akses TelkomNet Instan juga meningkat sekitar 30 persen, dari semula 361 menit menjadi 428 menit. "Artinya, kebiasaan rata-rata mengakses internet masyarakat secara keseluruhan menjadi meningkat. Jika semula Rp50.000 bisa dipakai untuk akses lima jam sekarang bisa dipakai untuk 25 jam," kata Djadi menjelaskan. Kendati begitu, Telkom juga tetap mengakomodasi pelanggan yang tidak mau repot mendaftar. Pelanggan tersebut tetap dikenakan tarif Rp165 per menit atau Rp9.900 per jam. "Program ini sangat `customized` disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. Untuk pelanggan `high usage` kami menyarankan untuk menggunakan paket TelkomNet Instan unlimited Rp300.000 per bulan," kata Djadi. Pelanggan "high usage" adalah pelanggan yang dalam sebulan mengakses internet lebih dari 30 jam, atau minimal mengakses satu jam sehari. Pelanggan TelkomNet Instan eksisting yang tergolong "high usage" sekitar 10 persen dari keseluruhan pelanggan TelkomNet Instan. Jumlah pelanggan di Jatim saat ini sekitar 150 ribu, sedangkan pelanggan aktif sekitar 70 persennya. Sementara dari pengguna TelkomNet tersebut, 4.000 diantaranya adalah pelanggan paket hemat TelkomNet Instan. Kemajuan teknologi informasi tampaknya telah mengambil peran besar dalam pembentukan gaya hidup masyarakat. Gaya hidup yang positip atau negatif, semua itu tentu tergantung dari cara menyikapi hadirnya teknologi tersebut.(*)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2008

Komentar Pembaca
Baca Juga