Cerita Mistis Dibalik Longsornya Batu di Gunung Batu

Senin, 24 Maret 2008 18:52 WIB | 4758 Views

Cirebon (ANTARA News) - Gunung Kuda di Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, yang merupakan sumber batu alam di perbatasan Majalengka dan Cirebon diyakini masyarakat pekerja mempunyai kekuatan mistis dan setiap tahun selalu memakan korban jiwa.

Seperti yang terjadi Senin pagi, sekitar pukul 08.30 WIB, longsoran batu ukuran besar membuat satu orang tewas yaitu Muslim (47), warga Blok Karanganyar, Desa Cipanas dan empat orang lainnya mengalami luka berat termasuk Kosim (35) yang mengalami patah kedua tangannya akibat hantaman batu.

Akhir 2007 lalu, Dodo, kuli batu warga Desa Bobos, Dukupuntang juga tewas akibat longsoran batu.

Suta (79), warga Desa Cipanas, seorang mantan penambang yang pernah menjadi kuli batu tahun 1970 sampai 1994 mengungkapkan, hampir setiap tahun selalu ada korban meninggal, baik satu atau beberapa orang dan selalu dikaitkan dengan adanya kekuatan mistis yang menguasai gunung itu.

Salah satu buktinya adalah ada beberapa bongkahan besar batu yang sulit dipecah meskipun menggunakan puluhan dinamit, sehingga dibiarkan tidak diganggu.

"Batu besar yang hari ini jatuh dari puncak, adalah batu yang sejak tahun 1974 selalu dicoba diledakkan tetapi tidak pernah bisa. Batu itu dikenal mempunyai mistis yang besar dan jatuhnya hari ini justru membawa korban," katanya.

Ia mengatakan, sudah ratusan orang kuli batu yang tewas akibat longsoran batu sejak tahun 1960-an dimulainya penggalian batu itu.

Peristiwa aneh juga dialami, Rustam (56), warga Blok Karanganyar, Desa Cipanas, korban longsoran batu Senin pagi yang selamat dari maut.

Ia mengatakan, saat ada bunyi longsoran batu dari atas, dirinya segera berlari dan saat itulah pemandangan matanya tiba-tiba gelap dan berubah seolah-olah sedang berlari dalam sebuah bangunan pabrik.

"Pandangan alam hilang dan saya tidak melihat batu-batuan tetapi dalam posisi berlari hanya melihat bangunan besar seperti pabrik," katanya yang baru sadar setelah tiba di Puskesmas.

Ia mengungkapkan dua hari yang lalu sempat bermimpi aneh yaitu menemukan dua rumah baru yang satu berbilik dan yang satu gedung.

"Saya mondar-mandir di depan dua rumah itu. Suasana mimpi itu menyeramkan," katanya yang baru sadar kemungkinan dua rumah itu pertanda adanya dua warga di Blok Karanganyar yang menjadi korban.

Menurut dia, sepanjang adanya galian batu, baru kali ini ada warga Blok Karanganyar yang meninggal dan luka berat akibat longsoran batu, biasanya memang ada warga Desa Cipanas tetapi di blok yang lain.

Menurut Suta, walaupun dikenal gunung yang penuh mistis, namun warga tidak ada yang melakukan aksi memberikan sesajen karena dari dulu memang tidak ada budaya itu.

"Walaupun tahu ada daya mistis, tetapi warga yang bekerja Lillahitaala, pasrah saja kepada Allah dan menganggap semua musibah sudah merupakan suratan takdir," katanya.

Suasana haru menyelimuti rumah duka, apalagi Ibu Muslim (41) dan Ambari Madia (24), anak pertama Muslim sempat tak sadarkan diri setelah mendengar kabar duka.

Deni (11), anak kedua saat diberitahu sedang mengikuti ulangan di sekolahnya. Ibu Muslim sempat sadar, namun kembali histeris setelah jenazah suaminya datang ke rumah duka.

Menurut Ambari yang juga kepala dusun setempat, ayahnya itu sudah dua bulan sakit batuk dan sesak nafas, sehingga hari Senin ini merupakan hari pertama kembali kerja setelah merasa agak sembuh.

"Ibu saya, tadi pagi sudah melarang kerja karena belum sembuh benar, tetapi rupanya Allah berkehendak lain," katanya.

Longsoran batu ukuran besar dari Puncak Gunung Kuda, Senin pagi menimpa belasan pekerja batu alam, yang mengakibatkan seorang pekerja tewas di tempat kejadian, sementara empat orang lainnya luka berat dilarikan ke rumah sakit, dan lima lainnya dilarikan ke Puskesmas.

Korban luka berat yaitu Kosim (35), warga Desa Lengkong Kulon, Kec Sidangwangi, Kabupaten Majalengka, Kartama (39), Blok Tarikolot, Cipanas, Subandi (48), Desa Beberan, Kecamatan Palimanan, Pinyi (49), Desa Jagapura Wetan, Kecamatan Gegesik.

Tiga korban yang disebut pertama adalah pekerja angkut batu alam, sementara dua korban terakhir adalah supir truk pengangkut batu alam.

Lima korban yang mengalami luka ringan yaitu Sana (60), Safir (48), Kurdi (47), dan Roni, keempatnya warga Desa Lengkong Wetan, Majalengka, serta Rustam (56), warga Blok Karanganyar, Desa Cipanas.

Selain pekerja, sejumlah kendaraan juga rusak terkena longsoran batu yaitu dua truk engkel, satu dump truk, dan satu becho yang bertugas mengangkat batu ke atas truk. (*)

Editor: Bambang

COPYRIGHT © 2008

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar

Pekerja `outsourcing` berkemah di depan kantor PLN Sumbawa

Pekerja `outsourcing` berkemah di depan kantor PLN SumbawaSejumlah pekerja outsourcing yang tergabung dalam Serikat Pekerja Progresif menggelar aksi unjuk rasa dan mendirikan ...

Ananda Omesh dukung istri beri ASI anaknya

Ananda Omesh dukung istri beri ASI anaknyaPembawa acara Ananda Omesh mendukung istrinya, Dian Ayu Lestari, memberikan ASI kepada anak mereka.Dia mendukung ...

Komisi IV bahas perkebunan

Komisi IV bahas perkebunanKomisi IV DPR RI akan memberikan kewenangan kepada Direktorat Jenderal Perkebunan untuk mengelola industri perkebunan ...