Kamis, 28 Agustus 2014

Memperkuat Hubungan RI-Australia Melalui People-to-People Contact

Sabtu, 29 Maret 2008 17:46 WIB | 2.092 Views
Australia adalah negara tetangga yang terletak di sebelah selatan Indonesia, terpisahkan oleh Lautan Hindia, Laut Timor dan Laut Arafuru. Australia merupakan negara Barat yang terdekat dengan Indonesia karena mayoritas penduduk Australia berasal dari benua Eropa sejak benua Australia mulai menjadi koloni Inggris pada tahun 1770.

Australia memiliki salah satu perekonomian terkuat di dunia dengan manajemen makro ekonomi yang solid dan upaya reformasi struktur yang berkelanjutan sehingga dapat terus mempertahankan kinerja baik tersebut.

Sejak tahun 1990 dan selama 15 tahun berturut-turut, ekonomi riil Australia terus tumbuh rata-rata sebesar 3,3 persen dengan tingkat inflasi yang rendah rata-rata sebesar 2,5 persen selama periode tersebut. Pada tahun 2006 GDP Australia sekitar satu triliun dolar Australia.

Dengan berpenduduk lebih dari 21 juta orang, salah satu kekuatan ekonomi Australia terletak di sektor usaha kecil yang terdiri dari 1,2 juta usaha kecil dengan memperkerjakan sebanyak 3,3 juta penduduknya. Usaha kecil merupakan kontributor utama ekspor barang dan jasa Australia, yakni sebanyak 42 persen dari keseluruhan pelaku ekspor barang Australia.

Bank Dunia telah menilai bahwa di antara negara-negara Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), Australia adalah negara kedua termudah bagi penduduknya untuk mendirikan usaha baru, yakni dua hari untuk memulai usaha baru dibandingkan dengan rata-rata negara OECD selama 20 hari.

Di bidang pariwisata dan pelajar asing, Australia setiap tahun dikunjungi oleh hampir enam juta wisatawan dan pelajar asing dengan masing-masing menyumbangkan A$ 75 miliar dan A$10,1 miliar bagi perekonomian Australia.

Australia adalah negara berbahasa Inggris ketiga yang terpopuler bagi pelajar asing untuk meneruskan studi. Pada tahun 2006, sekitar 383.818 pelajar asing dari 190 negara sedang menempuh studinya di Australia.

Nilai perdagangan dua arah Australia di bidang barang dan jasa mencapai A$ 443,6 miliar untuk periode 2006-2007, yakni sebesar satu persen dari perdagangan dunia. Mitra dagang utama Australia berturut-turut adalah Jepang, RRC, Amerika Serikat, Inggris dan Singapura, dengan Indonesia menempati urutan ke-13.


Memperkuat fondasi hubungan bilateral

Saat ini dimaklumi bahwa Indonesia dan Australia masih memiliki perbedaan yang signifikan di bidang ekonomi, sosial dan budaya serta perjalanan sejarah yang relatif terpisah satu sama lain hingga awal Perang Dunia II. Meskipun kedua negara adalah negara tetangga dan telah secara resmi berinteraksi dan menjalin relasi selama lebih dari 58 tahun, kiranya perbedaan tersebut masih saja menghantui dalam benak kedua masyarakat tersebut.

Pada kebanyakan penduduk awam baik di Indonesia maupun di Australia masih saja mempercayai berbagai mitos dan salah persepsi mengenai keberadaan dan kenyataan yang terjadi di masing-masing negara.

Salah satu upaya yang dapat semakin memperkuat hubungan bilateral Indonesia dengan Australia adalah bagaimana masyarakat kedua bangsa dapat saling memahami dan mengerti akan pikiran dan kehidupan bangsa masing-masing.

Upaya untuk semakin mengikis perbedaan tersebut kiranya dapat memanfaatkan tingkat hubungan antarpemerintah yang semakin erat dengan didasari rasa saling berkepentingan, saling menghormati dan saling menguntungkan dalam kesetaraan. Akan tetapi keinginan untuk saling mengetahui dan saling memahami harus timbul dari setiap individu dari masing-masing bangsa itu sendiri.

Berbagai upaya telah dijalankan pemerintah kedua negara agar masyarakatnya dapat saling mengenal, saling menghormati dan saling menghargai budaya masing-masing seperti, antara lain kegiatan pertukaran misi kebudayaan, pertukaran pelajar, dan kunjungan jurnalis dan senior editors serta dialog antar para tokoh masyarakat yang dilakukan secara reguler dan berkesinambungan.

Akan tetapi upaya tersebut masih saja belum mencapai tingkat sebagaimana diharapkan yaitu mencapai tingkat kedewasaan dalam berhubungan antarmasyarakat.

Perlu diakui bahwa arah pandang sebagian masyarakat Indonesia belum sepenuhnya melihat ke "selatan" dan memanfaatkan potensi penuh yang terkandung di Australia.

Ke depan kiranya potensi Australia yang dapat dimanfaatkan guna meningkatkan hubungan bilateral kedua negara dalam konteks people-to people dapat ditempuh melalui bidang perdagangan, ketenagakerjaan, pariwisata, dan pendidikan.

Di bidang perdagangan, Indonesia berada di urutan ke-13 sebagai negara mitra dagang Australia dengan nilai keseluruhan A$ 8,8 miliar untuk tahun 2006-2007.

Dengan berasaskan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak, kiranya pelaku usaha Indonesia dan Australia masih memiliki banyak ruang untuk dapat semakin tumbuh dan berkembang. Impor barang utama Australia antara lain adalah kendaraan bermotor, minyak mentah, elektronika dan komputer.

Bagi Indonesia, mengingat ongkos tenaga kerja di Australia adalah sangat mahal, maka peluang bagi pengusaha Indonesia untuk mengekspor berbagai produk seperti mebel, perabot rumah tangga, produk kulit, kerajinan tangan, pakaian dan perhiasan wanita tetap terbuka. Saat ini barang-barang tersebut pada umumnya di pasok oleh RRC dengan harga yang sangat murah sehingga pengusaha Indonesia haruslah lebih kompetitif.

Di bidang pariwisata, jumlah kedatangan wisatawan dari Indonesia berjumlah sekitar 83 ribu orang dari keseluruhan 5,5 juta turis asing ke Australia pada 2006.

Di antara para wisatawan Indonesia tersebut, sekitar 76 persen adalah wisatawan yang tergolong repeat visitors. Pada tahun yang sama pula jumlah wisatawan Australia ke Indonesia berjumlah sekitar 215 ribu orang.

Angka saling kunjung tersebut tampak sangat kecil jumlahnya jika dibandingkan dengan potensi penduduk Indonesia maupun dengan kemampuan masyarakat Australia untuk berkunjung ke Indonesia.

Kita maklumi bahwa salah satu kendala yang turut mempengaruhi arus wisatawan kedua negara adalah adanya travel advisory dari Australia untuk melakukan kunjungan ke Indonesia serta sulitnya persyaratan untuk memperoleh visa kunjungan ke Australia.

Bidang ketenagakerjaan, ini merupakan bidang yang paling menjanjikan bagi upaya peningkatan hubungan people-to-people. Perekonomian Australia yang tergolong booming ini memerlukan berbagai semi-skilled workers untuk dapat menunjang pertumbuhan tersebut, dan kelangkaan ini dapat dipenuhi oleh tenaga kerja Indonesia.

Bidang-bidang seperti perawat, masinis, welders, buruh bangunan, plumbers, electricians, montir, serta tenaga semi-skilled lainnya kini termasuk langka dan banyak dicari di Australia.

Adapun hambatan utamanya bagi tenaga kerja Indonesia adalah dari faktor bahasa dan tuntutan penyesuaian kualifikasi keahlian yang tinggi untuk dapat bekerja di Australia. Hukum imigrasi Australia dan faktor labor union Australia juga turut mempengaruhi proses pengiriman tenaga kerja Indonesia ke Australia.

Di bidang pendidikan, Australia memiliki salah satu infrastruktur pendidikan terbaik di dunia. Dengan berbasis bahasa Inggris, pelajar dari Indonesia sejak dahulu telah menempatkan Australia sebagai salah satu alternatif pendidikan tinggi mereka di luar negeri. Meskipun demikian dibandingkan dengan negara Asia lainnya, jumlah pelajar Indonesia masih termasuk rendah dengan jumlah sekitar 16 ribu pada tahun 2006 dari jumlah keseluruhan 383 ribu pada tahun itu.

Sebagian besar dari jumlah pelajar Indonesia tersebut bukan penerima beasiswa melainkan atas biaya sendiri. Dalam kaitan ini, salah satu kendala bagi peningkatan jumlah pelajar Indonesia adalah semakin tingginya biaya hidup di Australia dan persaingan pendidikan untuk belajar di negara selain Australia, seperti di Singapura dan Malaysia.

Menghadapi berbagai kendala yang ada dalam upaya meningkatkan people-to-people relations tersebut, Perwakilan RI di Australia senantiasa berupaya bekerjasama dengan Pemerintah Australia untuk mencari jalan keluar dan sekaligus membuka peluang-peluang baru.

Dalam kaitan ini, dengan pemerintahan baru Australia di bawah Partai Buruh, kenyataan tersebut dapat dicapai sooner rather than later. Karena pada akhirnya, kedua pemerintahan telah sepakat untuk bermitra dan bekerjasama dalam kesetaraan untuk menciptakan keamanan, stabilitas dan kemakmuran bagi kedua bangsa dan negara yang berada di dalam satu kawasan yang sama. (***)


(*) Penulis adalah Duta Besar LBBP untuk Australia dan Vanuatu

Editor: Bambang

COPYRIGHT © 2008

Komentar Pembaca
Baca Juga