Oleh: El-Mostafa Benlamlih, UN Resident Coordinator in Indonesia

Kepemimpinan bermunculan dalam berbagai bentuk. Kawasan Asia-Pasifik sedang memimpin pertumbuhan dan pemulihan ekonomi dunia. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi saja tidak akan cukup dan tidak akan bisa dipertahankan tanpa berkomitmen memperbaiki kehidupan warga negara termiskin di kawasan.

    
Dalam minggu ini, ketika Jakarta menjadi tuan rumah pertemuan tingkat menteri untuk Kaji Ulang Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) di Asia Pasifik, sebuah bentuk kepimpinan lain dibutuhkan.   Kepimpinan ini harus menjamin bahwa pencapaian-pencapaian ekonomi selama lima tahun mendatang  juga  akan menghasilkan masyarakat yang lebih sehat, berkurang rentannya, dan dengan pemerataan yang lebih baik.

    
Ini adalah kepemimpinan yang menepati janji yang dinyatakan oleh pemimpin-pemimpin dunia bahwa dunia akan mencapai sasaran-sasaran pembangunan yang dikenal sebagai Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals - MDGs) pada tahun 2015.

    
Indonesia sedang menjalankan peran dalam proses ini. Indonesia sedang memperlihatkan kepemimpinannya dan komitmennya pada MDG dengan menjadi tuan rumah pertemuan ini ? sebuah pertemuan yang menunjang solidaritas kawasan, memungkinkan tukar-menukar pengalaman tentang praktik-praktik terbaik, serta akan juga mencari mekanisme-mekanisme baru untuk mendanai pembangunan manusia. Selain itu Indonesia sendiri juga sedang menjalankan kebijakan-kebijakan pembangunan yang membawa dampak positif.

    
Salah satu contohnya adalah: Pelarangan Indonesia pada tahun 2008 tentang digunakannya chlorofluorocarbons di dalam proses manufaktur industri merupakan sebuah sumbangan berarti untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan. Indonesia juga sedang mencapai tahap demi tahap kemajuan-kemajuan dalam bidang akses universal pada pendidikan, memperdayakan kaum perempuan, mengurangi mortalitas anak dan mencegah menyebarnya penyakit menular, seperti tuberculosis. Pada tingkat nasional, komitmen kementerian-kementerian pemerintahan untuk mencapai sasaran-sasaran MDG, bersama pemerataan, tidak bisa dipertanyakan. Sementara kemajuan yang dicapai sampai sekarang masih belum merata di semua bidang.

    
Banyak tantangan menunggu. Indonesia adalah sebuah negeri yang sangat bhinneka sifatnya, dengan mengandung berbagai macam realitas. Indonesia tidak sendirian di kawasan Asia Pasifik dalam hal ini tetapi bisa dikatakan bahwa kebhinnekaan realitasnya lebih banyak daripada temannya sekawasan. Angka-angka pencapaian di tingkat nasional sering menutupi ketimpangan yang terjadi di berbagai titik di kepulauan nusantara ini. Keadaan di propinsi dan kabupaten di pulau-pulau yang jauh dari pusat sering terlewati, padahal disanalah upaya mencapai tujuan pembangunan merupakan tantangan yang paling menantang.

    
Indonesia juga adalah sebuah negara yang sangat terdesentralisasi. Ada 500 pemerintahan propinsi, kabupaten dan kotamadya yang bertanggung-jawab atas pembelanjaan 40% daripada semua pembelanjaan publik. Pada tingkat pemerintahan ini  berbagai pelayanan masyarakat harus disampaikan secara langsung. Tetapi kapasitas teknis dan administratif untuk melakukan ini sehingga bisa mencapai perbaikan kondisi perempuan,anak dan lapisan miskin sangat terbatas. Lebih lagi, kadang-kadang prioritas setempat cenderung bertentangan dengan kebijakan nasional yang sudah disepakati ? kebijakan-kebijakan yang akan bisa membantu mencapai sasaran-sasaran MDG. Dalam hal ini, desentralisasi masih belum sepenuhnya berhasil mendekatkan pelayanan-pelayanan sosial pada masyarakat.

    
Beberapa tantangan yang dihadapi Indonesia memang merupakan hal unik akibat daripada situasi geografis Indonesia sebagai sebuah negeri kepulauan yang luas dengan struktur administrasi yang sangat terdesentralisasi.  Ada tantangan lain yang juga dihadapi bersama oleh negeri lain di kawasan Asia-Pasifik. Perlindungan sosial di Asia Pasifik adalah rendah dibanding kawasan-kawasan dunia lain. Hanya 30% dari lapisan orang berumur pensiunan menerima sebuah pensiun. Hanya 20% dari orang yang menganggur bisa mengakses tunjangan pengangguran atau program latihan keterampilan.  Mengingat bahwa di Asia ongkos jasa kesehatan termasuk yang paling tinggi, hanya 20% dari penduduknya mempunyai akses pada bantuan pelayanan kesehatan.

    
Penyampaian pelayanan kesehatan dan gizi yang dasar, dan juga dalam bidang sanitasi, penyediaan air, transportasi dan keuangan merupakan hal kunci dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) di kawasan Asia Pasifik. Di Indonesia kurang dari separuh orang miskin pedesaan memiliki akses pada air yang aman. Mayoritas dari orang ini, dan juga 60% dari orang di perkotaan, tidak memiliki akses pada sistem tanki septik .

    
Lebih daripada 40 juta orang masih hidup dengan pendapatan hanya US$2 per hari atau bahkan di bawah itu. Banyak rumah-tangga hidup di pinggiran kemelaratan ? rentan dan gampang terpukul oleh goncangan sosial dan ekonomi yang ringan pun. Lapisan rentan ini juga terancam di setiap saat oleh bencana alam, dan dampak-dampak tak terduga dari perubahan iklim.

    
Sebagai sebuah masyarakat, Indonesia sudah memperlihatkan daya tahan yang luar biasa. Dengan pertumbuhan ekonomi 6 persen selama 8 tahun terakhir ini, krisis moneter tahun 1990an sudah mulai mundur dalam ingatan orang. Indonesia bukan hanya sekedar melewati tsunami 2004, salah satu bencana alam terbesar yang tercatat dalam sejarah umat manusia, tetapi justru keluar dari tragedi itu dalam kondisi lebih kuat. Meski begitu, masih harus menjadi sebuah prioritas yang mendesak untuk memperkuat daya tahan jutaan orang yang hidup dalam keadaan rentan. Pada saat ekonomi sedang membaik, justru ini tambah penting sebagai prioritas.

    
Sebagai anggota G-20, Indonesia sedang maju dengan bangga ke atas panggung dunia. Sebagai ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat di Asia Tenggara, Indonesia sedang meraih kepercayaan dari para investor. Di dalam negeri kebijakan pembangunan yang tepat sedang diluncurkan, tetapi yang diperlukan ialah untuk menjamin bahwa pemerintahan propinsi dan lokal diperalat secara lengkap dan diberi kekuasaannya yang dibutuhkan untuk memaknai kebijakan ini membawa manfaat nyata pada masyarakat.

    
Mencapai sasaran MDG tidak akan gampang, tetapi dengan investasi yang terus-menerus dan dengan kemitraan-kemitraan yang lebih efektif, sasaran itu bisa dicapai. Organisasi internasional punya peran dalam semua ini. Tetapi kesempatan untuk Indonesia memperlihatkan jalan ke depan dimana seluruh rakyatnya mendapatkan manfaat nyata sudah tiba. Sekaranglah saatnya kesempatan terbuka lebar untuk diraih. (*)

Editor:
COPYRIGHT © 2012

Comment
Send Comment