Mon, August 2 2010 15:52 | 1960 Views
Oleh: El-Mostafa Benlamlih, UN Resident Coordinator in Indonesia
Kepemimpinan
bermunculan dalam berbagai bentuk. Kawasan Asia-Pasifik sedang memimpin
pertumbuhan dan pemulihan ekonomi dunia. Akan tetapi, pertumbuhan
ekonomi saja tidak akan cukup dan tidak akan bisa dipertahankan tanpa
berkomitmen memperbaiki kehidupan warga negara termiskin di kawasan.
Dalam
minggu ini, ketika Jakarta menjadi tuan rumah pertemuan tingkat menteri
untuk Kaji Ulang Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) di Asia Pasifik,
sebuah bentuk kepimpinan lain dibutuhkan. Kepimpinan ini harus
menjamin bahwa pencapaian-pencapaian ekonomi selama lima tahun
mendatang juga akan menghasilkan masyarakat yang lebih sehat,
berkurang rentannya, dan dengan pemerataan yang lebih baik.
Ini
adalah kepemimpinan yang menepati janji yang dinyatakan oleh
pemimpin-pemimpin dunia bahwa dunia akan mencapai sasaran-sasaran
pembangunan yang dikenal sebagai Tujuan Pembangunan Milenium
(Millennium Development Goals - MDGs) pada tahun 2015.
Indonesia
sedang menjalankan peran dalam proses ini. Indonesia sedang
memperlihatkan kepemimpinannya dan komitmennya pada MDG dengan menjadi
tuan rumah pertemuan ini ? sebuah pertemuan yang menunjang solidaritas
kawasan, memungkinkan tukar-menukar pengalaman tentang praktik-praktik
terbaik, serta akan juga mencari mekanisme-mekanisme baru untuk
mendanai pembangunan manusia. Selain itu Indonesia sendiri juga sedang
menjalankan kebijakan-kebijakan pembangunan yang membawa dampak positif.
Salah
satu contohnya adalah: Pelarangan Indonesia pada tahun 2008 tentang
digunakannya chlorofluorocarbons di dalam proses manufaktur industri
merupakan sebuah sumbangan berarti untuk menunjang pembangunan yang
berkelanjutan. Indonesia juga sedang mencapai tahap demi tahap
kemajuan-kemajuan dalam bidang akses universal pada pendidikan,
memperdayakan kaum perempuan, mengurangi mortalitas anak dan mencegah
menyebarnya penyakit menular, seperti tuberculosis. Pada tingkat
nasional, komitmen kementerian-kementerian pemerintahan untuk mencapai
sasaran-sasaran MDG, bersama pemerataan, tidak bisa dipertanyakan.
Sementara kemajuan yang dicapai sampai sekarang masih belum merata di
semua bidang.
Banyak tantangan menunggu. Indonesia adalah
sebuah negeri yang sangat bhinneka sifatnya, dengan mengandung berbagai
macam realitas. Indonesia tidak sendirian di kawasan Asia Pasifik dalam
hal ini tetapi bisa dikatakan bahwa kebhinnekaan realitasnya lebih
banyak daripada temannya sekawasan. Angka-angka pencapaian di tingkat
nasional sering menutupi ketimpangan yang terjadi di berbagai titik di
kepulauan nusantara ini. Keadaan di propinsi dan kabupaten di
pulau-pulau yang jauh dari pusat sering terlewati, padahal disanalah
upaya mencapai tujuan pembangunan merupakan tantangan yang paling
menantang.
Indonesia juga adalah sebuah negara yang
sangat terdesentralisasi. Ada 500 pemerintahan propinsi, kabupaten dan
kotamadya yang bertanggung-jawab atas pembelanjaan 40% daripada semua
pembelanjaan publik. Pada tingkat pemerintahan ini berbagai pelayanan
masyarakat harus disampaikan secara langsung. Tetapi kapasitas teknis
dan administratif untuk melakukan ini sehingga bisa mencapai perbaikan
kondisi perempuan,anak dan lapisan miskin sangat terbatas. Lebih lagi,
kadang-kadang prioritas setempat cenderung bertentangan dengan
kebijakan nasional yang sudah disepakati ? kebijakan-kebijakan yang
akan bisa membantu mencapai sasaran-sasaran MDG. Dalam hal ini,
desentralisasi masih belum sepenuhnya berhasil mendekatkan
pelayanan-pelayanan sosial pada masyarakat.
Beberapa
tantangan yang dihadapi Indonesia memang merupakan hal unik akibat
daripada situasi geografis Indonesia sebagai sebuah negeri kepulauan
yang luas dengan struktur administrasi yang sangat
terdesentralisasi. Ada tantangan lain yang juga dihadapi bersama oleh
negeri lain di kawasan Asia-Pasifik. Perlindungan sosial di Asia
Pasifik adalah rendah dibanding kawasan-kawasan dunia lain. Hanya 30%
dari lapisan orang berumur pensiunan menerima sebuah pensiun. Hanya 20%
dari orang yang menganggur bisa mengakses tunjangan pengangguran atau
program latihan keterampilan. Mengingat bahwa di Asia ongkos jasa
kesehatan termasuk yang paling tinggi, hanya 20% dari penduduknya
mempunyai akses pada bantuan pelayanan kesehatan.
Penyampaian
pelayanan kesehatan dan gizi yang dasar, dan juga dalam bidang
sanitasi, penyediaan air, transportasi dan keuangan merupakan hal kunci
dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) di kawasan Asia
Pasifik. Di Indonesia kurang dari separuh orang miskin pedesaan
memiliki akses pada air yang aman. Mayoritas dari orang ini, dan juga
60% dari orang di perkotaan, tidak memiliki akses pada sistem tanki
septik .
Lebih daripada 40 juta orang masih hidup dengan
pendapatan hanya US$2 per hari atau bahkan di bawah itu. Banyak
rumah-tangga hidup di pinggiran kemelaratan ? rentan dan gampang
terpukul oleh goncangan sosial dan ekonomi yang ringan pun. Lapisan
rentan ini juga terancam di setiap saat oleh bencana alam, dan
dampak-dampak tak terduga dari perubahan iklim.
Sebagai
sebuah masyarakat, Indonesia sudah memperlihatkan daya tahan yang luar
biasa. Dengan pertumbuhan ekonomi 6 persen selama 8 tahun terakhir ini,
krisis moneter tahun 1990an sudah mulai mundur dalam ingatan orang.
Indonesia bukan hanya sekedar melewati tsunami 2004, salah satu bencana
alam terbesar yang tercatat dalam sejarah umat manusia, tetapi justru
keluar dari tragedi itu dalam kondisi lebih kuat. Meski begitu, masih
harus menjadi sebuah prioritas yang mendesak untuk memperkuat daya
tahan jutaan orang yang hidup dalam keadaan rentan. Pada saat ekonomi
sedang membaik, justru ini tambah penting sebagai prioritas.
Sebagai
anggota G-20, Indonesia sedang maju dengan bangga ke atas panggung
dunia. Sebagai ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat di Asia
Tenggara, Indonesia sedang meraih kepercayaan dari para investor. Di
dalam negeri kebijakan pembangunan yang tepat sedang diluncurkan,
tetapi yang diperlukan ialah untuk menjamin bahwa pemerintahan propinsi
dan lokal diperalat secara lengkap dan diberi kekuasaannya yang
dibutuhkan untuk memaknai kebijakan ini membawa manfaat nyata pada
masyarakat.
Mencapai sasaran MDG tidak akan gampang,
tetapi dengan investasi yang terus-menerus dan dengan
kemitraan-kemitraan yang lebih efektif, sasaran itu bisa dicapai.
Organisasi internasional punya peran dalam semua ini. Tetapi kesempatan
untuk Indonesia memperlihatkan jalan ke depan dimana seluruh rakyatnya
mendapatkan manfaat nyata sudah tiba. Sekaranglah saatnya kesempatan
terbuka lebar untuk diraih. (*)
Editor:
COPYRIGHT © 2012
The National Consumer Protection Agency (BPKN) has called for protecting consumers from poorly performing road ...
China`s leader-in-waiting Xi Jinping and US defense chiefs agreed on the need for expanding military relations between ...
Technical factors spurred the rupiah exchange value to be strengthened on Wednesday's market opening by two points ...