Sunday, 26th October 2014

Anwar Ibrahim pensiun jika kalah pemilu

Sabtu, 18 Agustus 2012 14:59 WIB | 969 Views
Anwar Ibrahim pensiun  jika kalah pemilu
Anwar Ibrahim. (ANTARA/Agus Bebeng )
Kuala Lumpur (ANTARA News/AFP) - Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, berencana akan mengakhiri 30 tahun karir politiknya, jika ia gagal untuk menggeser Perdana Menteri Najib Razak dalam pemilihan umum (pemilu) mendatang.

Anwar, pernah menjadi wakil perdana menteri dalam pemerintah Barisan Nasional yang memerintah Malaysia sejak kemerdekaan 55 tahun lalu, telah berkampanye menentang Barisann Nasional sejak dia digulingkan Mahathir Mohammad secara mengejutkan pada 1998.

Najib harus menyeru pemilihan nasional pada Juni 2013, dan banyak pengamat mengharapkan kontes ketat akan terjadi setelah koalisi yang berkuasa menderita kinerja terburuk dalam jajak pendapat terakhir pada 2008.

"Saya akan mencoba yang terbaik, saya yakin kami akan menang. Tetapi, jika tidak, saya akan mengundurkan diri," kata Anwar Jumat malam, ketika mengambil bagian dalam acara Hangout Google.

Anwar, yang telah mengajar di Oxford dan Washington Georgetown University, mengatakan bahwa dirinya akan kembali ke kehidupan akademik, jika kehilangan kesempatan berpolitik.

"Jika kita tidak mendapatkan mandat, maka kita harus memberikan ruang untuk orang kedua dalam kepemimpinan," katanya dalam satu jam tanya jawab, yang sebelumnya menampilkan Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama.

Anwar sempat keluar masuk di pengadilan atas berbagai tuduhan, termasuk bersodomi, sehingga membunuh karir politik dan dianggap menodai citranya, serta  melumpuhkan koalisi oposisi.

Pada Mei lalu dia didakwa berpartisipasi dalam aksi unjuk rasa ilegal yang melihat puluhan ribu orang turun ke jalan untuk menyerukan reformasi sistem pemilu, yang mereka katakan sebagai aksi bias terhadap Barisan Nasional.

Pada Januari dia dibebaskan dari tuduhan berhubungan seks dengan mantan pembantu laki-lakinya di akhir hukuman percobaan panjang.

Sebelumnya, Anwar dipenjara karena tuduhan korupsi dan sodomi setelah keluar selaku pendamping Perdana Menteri Mahathir Mohamad pada 1998.

Ia dibebaskan dari penjara pada 2004, dan mencoba kembali peruntungan karir politiknya, antara lain melawan Barisan Nasional yang pernah turut membesarkan sekaligus dibesarkannya.
(Uu.H-AK)