Surabaya (ANTARA News) - Sikap manja nasabah private banking mendominasi penyebab kasus penggelapan dana perbankan di Indonesia.

"Mayoritas kasus penggelapan terjadi di area `private banking`. Apalagi, mereka terkesan malas datang ke bank dan mudah mempercayakan data pribadinya kepada orang lain," kata Kepala Biro Humas Bank Indonesia, Difi A Johansyah, ditemui di Surabaya, ketika ditanya terkait penyebab maraknya kasus penggelapan dana nasabah nasional, Kamis.

Menurut dia, krisis perbankan pada masa kini lebih dikarenakan moral hajat bankir, sehingga menimbulkan banyak kasus penggelapan dana.

"Semisal, yang terjadi di Citibank, baik permasalahan aliran dana nasabah maupun kematian debitur," ujarnya.

Penyebab besarnya penggelapan dana terjadi di private banking, jelas dia, karena tingginya tingkat kepercayaan dan kedekatan nasabah dengan perbankan tertentu. Apalagi, sampai sekarang pengawasan bank terhadap nasabah di kalangan tersebut sama dengan nasabah umum.

"Contoh, seorang nasabah yang sangat dekat dengan marketing bank dan ada pula karakter nasabah yang mudah percaya, sehingga memberikan blanko kosong dengan tanda tangan aslinya," paparnya.

Untuk itu, imbau dia, seluruh perbankan yang menjual produknya kepada nasabah wajib memberitahukan risiko yang ada. Mereka juga harus transparan kepada nasabah.

"Perbankan jangan hanya mengejar keuntungan dan mengabaikan kepentingan nasabah," katanya, menegaskan.

Di sisi lain, saran dia, perbankan perlu menyiapkan tenaga khusus supaya nasabah private banking lebih nyaman menaruh uangnya di bank.

"Upaya tersebut, diyakini dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada perbankan pascabanyaknya kasus penggelapan dana di Tanah Air," ujarnya.

Bagi nasabah, tambah dia, terkait hal - hal yang sifatnya pribadi seperti nomor pin dan rekening tidak mudah diberitahukan, baik kepada petugas bank maupun orang lain.
(KR-DYT*C004)