Jakarta (ANTARA News) - Tebu yang diproduksi menjadi "biofuel" untuk bahan bakar alternatif untuk truk dan kendaraan bermotor di Brazil, memiliki efek samping bermanfaat, yakni mendinginkan suhu udara setempat, menurut laporan sejumlah ilmuwan pada Ahad.

Para peneliti mengingatkan bahwa itu bukan berarti menggantikan hutan Amazon atau tumbuhan alami lainnya dengan ladang tebu. Manfaat tersebut muncul saat tebu diperkenalkan kepada perladangan yang ada, menggantikan padang rumput atau ladang lain seperti kedelai.

Tebu ditemukan semakin bermanfaat karena kemampuan memantulkan sinar matahari dan "berkeringat" embun dingin ke udara, kata pemimpin peneliti Scott Loarie dari Institut Carnegie untuk Ilmu Pengetahuan.

Tanaman menyerap kadar air dari tanah dan melepaskan ke udara sebagai proses fotosintesis, kata Loarie melalui telepon, dan tanaman tebu terhitung efisien dalam proses embun dingin itu.

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa dengan tebu, kadar embun dingin dari tanaman itu lebih baik dibanding albedo (besar pantulan matahari)," katanya, berbicara dalam penelitian yang disiarkan melalui Internet di "Nature Climate Change".

Tebu digunakan sebagai bahan bakar alami yang memberi tenaga seperempat kendaraan bermotor di Brazil, secara bersamaan membantu mengurangi mengeluaran gas karbon dioksida ke atmosfer, yang mempengaruhi iklim global.

Brazil selama ini dianggap sukses mengembangkan energi terbarukan sebagai alternatif bahan bakar fosil yang memanaskan iklim. Sekitar 20 persen kebutuhan energi negara itu diperoleh dari energi terbarukan.

Pengembalian Karbon
Karena efisiensi tanaman penghasil gula itu dalam melepaskan kadar air dingin, hal tersebut juga menurunkan suhu udara setempat sebesar 0,93 derajat Celsius dibanding ladang lain atau padang rumput.

Penanaman tebu dinilai masih belum mendinginkan udara sebagaimana perladangan lain saat digunakan untuk menggantikan tanaman alami.

Para peneliti menemukan efek pemanasan lokal itu mencapai 1,55 derajat Celsius.

Satu kelebihan dari penanaman tebu untuk "biofuel" di Brazil ialah mempersingkat waktu pengembalian karbon atau "carbon payback time".

Pengembalian itu merupakan cara untuk menghitung berapa lama untuk menghapus emisi karbon dioksida berlebih di atmosfer, kata Loarie.

"Bila kami memangkas satu hektar hutan Amazon, seberapa besar karbon yang kami lepas ke atmosfer dan berapa lama yang kami butuhkan untuk menghilangkan karbon itu dari udara?" katanya.

"Berapa lama waktu yang kami butuhkan untuk mengembalikan keadaan, dengan mensubstitusi bahan bakar fosil dengan bahan bakar terbarukan yang akan kami tanamkan," lanjutnya.

Di beberapa tempat seperti hutan Amazon, katanya, waktu pengembalian karbon berkisar hingga 60 tahun. Tetapi waktu pengembalian karbon menjadi "hanya beberapa tahun saja" di kebanyakan wilayah Brazil, karena tebu merupakan bentuk energi yang produktif, katanya.

Ada peringatan dalam penggunaan tebu sebagai bahan bakar, bahkan di Brazil. Menumbuhkan tebu tidak menjawab permasalahan seperti berkurangnya keanekaragaman hayati atau kemungkinan kelangkaan air, dan belum tentu dapat diperluas ke wilayah "cerrado", atau padang rumput yang luas, di tengah negeri itu, tanpa irigasi.

Para ilmuwan menekankan bahwa manfaat tebu tergantung pada penanamannya di tanah yang sudah digunakan untuk pertanian, bukan lokasi yang dikonversi dari penanaman alami.
(KR-IFB/T010)